Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Siasat Bisma


__ADS_3

Sesampainya di kamarnya, Bisma pun melayangkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya, tidak menyangka jika semalaman ia bisa bersama dengan Ara.


“Gue gak ngelakuin apa-apa ‘kan ya?” lirih Bisma sembari berpikir.


“Bener, gue gak merasa melakukan apa pun padanya!” gumam Bisma lagi, benar-benar tidak melakukannya pada Ara.


Bisma pun menghela napas panjang, berusaha menahan pikiran buruknya padan Ara. Bisma mengambil handphone¬-nya dan melihat-lihat notifikasi yang ada.


“Oh, gue sampe lupa untuk membalas pesan dari Gladis,” gumam Bisma.


“Giliran udah ditolak Reza, baru nyariin gue? Memangnya perasaan gue mainan buat dia?” lirihnya lagi, sembari mendengus kesal dan menatap kesal ke arah layar handphone-nya.


‘Tapi ... kalau dipikir kembali, apakah bisa aku mendekati Gladis untuk memastikan perasaanku pada Ara? Dan untuk memastikan juga perasaan Ara padaku? Sepertinya ... dia selalu menuruti kemauanku, dan sudah tidak pernah ada kata bantah lagi. Ia selalu melakukan yang aku perintahkan. Apa ... dia juga mulai menyukaiku? Apalagi ... saat aku hampir saja menciumnya waktu itu. Apa dia merasakan sesuatu? Bolehkah aku mengulurnya seperti ini, hanya untuk memastikan perasaanku saja dengannya. Aku takut, perasaan ini hanyalah perasaan iba saja padanya,’ batin Bisma, benar-benar sangat memikirkan hal ini.


“Apa ... gue harus nanya Morgan?” lirih Bisma sembari berpikir.


Bisma pun langsung mengirimkan pesan singkat pada Morgan. ‘Setidaknya ... aku sudah bertanya,’ batinnya.


“Gan, Gladis ngedeketin gue. Gimana nih?” Bisma mengirimkan pesan singkat itu. Ia pun menunggu balasan dari Morgan, sembari men-scroll beranda Enstagram miliknya.


Bisma menerima balasan pesan dari Morgan. Ia dengan cepat melihat responnya.


“Kalau lo gak mau, buat gue aja. Haha.” Balasan pesan dari Morgan, membuat Bisma terkekeh.


‘Ternyata, diam-diam Morgan menyukai Gladis. Aku harus bilang apa? Memang Gladis adalah gadis tercantik di kelasku. Bahkan ... dia adalah gadis tercantik ke-2 setelah Adele. Sudahlah ... aku tidak mau membahas Adele lagi. Dia juga pasti sudah melupakan diriku, dan menemukan pria tampan di Amerika sana,’ batin Bisma, benar-benar tidak habis pikir dengan keadaan.


Bisma kembali teringat dengan pesan singkat dari Morgan. ‘Dia mengatakan demikian, karena tidak mengetahui kalau aku sedang mengincar Ara, bukan? Apa aku harus mengejar Gladis kembali? Tapi ... perasaanku sudah pupus padanya. Sudah lama sekali, dan mungkin ... tidak akan pernah kembali,’ batinnya.

__ADS_1


“Emm ... gimana ya?” Bisma masih saja bingung dengan pilihan yang harus ia ambil.


‘Tapi ... ini adalah kesempatan bagus untuk mengulur hati Ara, dan untuk mempersiapkan diriku untuk perasaan yang benar-benar nyata. Sepertinya ... aku butuh me-refresh perasaanku kembali. This is gamebling of love. Aku harus mengambil risiko untuk ini. Kehilangan salah satu, atau mendapatkan salah satu. Atau bahkan ... kehilangan keduanya,’ batinnya, yang benar-benar akan mengambil jalan lain.


***


Saat ini, Ara pun membuka matanya secara perlahan. Tiba-tiba saja, ia merasakan sakit di bagian kepalanya. Ia sampai tidak bisa mencerna keadaan sekelilingnya. Ara memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, dan bangkit dengan perlahan.


“Kruk ....”


Ara mendengar jelas suara perutnya. Spontan, ia pun langsung mengelus perutnya yang sudah sangat lapar itu.


“Aduh ... laper banget, ya?” Ara pun mengaduh lirih.


Ia berusaha merenggangkan tubuhnya, karena merasakan rasa pegal yang sangat terasa.


Ara melangkah menuju ruang makan. Di sana, sudah ada ayahnya yang sedang menyantap kudapannya. Ia menghampirinya dengan keadaan lunglai. Namun, di sana hanya ada ayahnya saja. Ia sama sekali tidak melihat keberadaan Bisma.


‘Aku keheranan, kenapa tidak ada Bisma di sana?’ batin Ara.


“Pagi, Pah!” sapa Ara padanya.


Ayahnya langsung mengubah fokusnya pada Ara, kemudian melontarkan senyumnya. “Pagi, Ara. Kenapa gak lanjut tidur aja? Sekarang ‘kan hari libur?” tanyanya, Ara masih saja mengucek matanya dengan pelan.


“Enggak, aku mau menikmati liburan. Kenapa sekolah di sini, dari pagi sampai sore, Pah? Padahal ... di kampung cuma setengah hari aja,” ujar Ara dengan nada polos.


Entah kenapa, Ara sudah mulai bisa terbuka dengan ayahnya. Ia sudah tidak begitu merasa canggung dengannya. Mungkin, Ara sudah bisa menerimanya.

__ADS_1


“Bagus, dong? Semakin lama kamu belajar, semakin cepat pandai,” jawab ayah, membuat pikiran Ara menjadi terbuka karenanya.


‘Benar sekali ucapannya. Mungkin ... itu bisa menjadi jalanku untuk dapat menambah ilmu dengan lebih cepat. Aku semakin bersemangat sekarang!’ batin Ara, benar-benar sangat bersemangat sekarang.


“Oh ya ... Bisma mana, Pah?” tanya Ara penasaran, ayahnya hanya menggeleng kecil sembari melanjutkan makannya.


“Tadi sih ... pagi-pagi berangkat. Katanya ... mau ada acara sama temannya,” jawabnya, membuat Ara heran dan penasaran.


‘Kenapa Bisma tidak memberitahu aku? Padahal ... aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama Bisma. Aku ingin memintanya untuk mengajariku cara memainkan handphone yang ia berikan,’ batin Ara, benar-benar sangat sedih mendengarnya.


Ara mendadak cemberut mendengarnya, “Yah ... padahal, aku mau minta ajarin caranya main handphone.” Ara merasa sangat sedih mendengar Bisma tidak ada di rumah.


‘Semalam pun ... Bisma pergi, tak tahu ke mana. Kalau seperti ini ... aku merasa jadi seperti sendirian. Baru aku merasakan kehadiran Bisma sangat berharga, tapi ... sekarang Bisma sudah tidak ingin lagi bersama denganku. Sejak kemarin, dia sepertinya selalu menghindariku. Aku tidak melihatnya lagi sejak kemarin sore. Ada apa denganku? Apa karena ... aku terlalu dekat dengan Reza? Bisma jadi marah padaku?’ batin Ara, benar-benar sangat sedih memikirkannya.


Di sana, terlihat Reza yang sudah berhasil menemukan alamat Ara. Ia melihat ke sekeliling tempat ini, yang sepertinya sangat familiar dari tempat ini.


‘Apa aku tidak salah lihat GPS? Signal handphone-nya Siti berhenti di rumah ini,’ batin Reza, yang menoleh ke kiri dan ke kanan.


“Kayak kenal ni rumah!” lirih Reza, sembari melihat kembali ke arah handphone-nya.


Reza mendapatkan alamat Ara, karena ia tak sengaja menyalakan akses lokasi handphone Ara kemarin. Ia ingin tahu di mana Ara tinggal. Karena waktu itu ia dan juga Ara pernah dalam satu angkutan umum. Pertemuan kali kedua yang membuat Reza teringat kembali pada sosoknya yang dulu.


“Kayaknya ... gue pernah ke sini deh. Tapi ... ini rumah siapa?” Reza masih berusaha keras untuk mengingat tempat ini, karena ia tidak hanya sekali saja ke tempat ini.


Reza sudah sampai di depan pintu rumah Ara. Ia pun memencet bel di sebelah pagar, lalu menunggu seseorang datang untuk membukakan pintu.


“Nyari siapa ya, Mas?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang dari belakang Reza.

__ADS_1


__ADS_2