
Ara sudah berhasil mematikan AC-nya. Suhu di ruangan ini, perlahan mulai berubah menjadi lebih hangat.
“Nah ... sudah hangat. Kenapa bisa lupa cara matiin AC?” gerutunya lirih, ia menaruh kembali remot AC di tempat semula.
Setelahnya, Ara melangkah menuju ke arah lemari pakaiannya. Tangannya membuka pintu lemari tersebut.
Pintu berhasil terbuka. Ia melihat ke arah lemari, yang di dalamnya ada banyak sekali pakaian yang bagus.
Rasa bingung menerpa, Ara tidak tahu baju sebagus ini kepunyaan siapa.
‘Sebanyak dan sebagus ini, apa ini untukku juga?’ batin Ara bertanya-tanya.
Tak sengaja, Ara melihat sebuah kertas kecil yang tertempel di bagian dalam lemari. Karena penasaran, Ara pun mengambilnya kemudian membacanya.
“Untuk Arasha.” Isi dari kertas itu.
Ara tersenyum simpul, lalu meletakkan kertas itu di tempatnya semula.
Karena sudah mengetahui, kalau baju-baju ini adalah untuk dirinya, ia pun mengambil salah satu baju yang tergantung rapi di hadapannya. Ia mencocokkan dengan tubuhnya, sembari berleggak-lenggok di depan cermin.
Betapa terkejutnya Ara, karena ternyata baju ini sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ara pun tersenyum memandang ke arah wajahnya di depan cermin.
Memorinya kembali muncul, ia selalu teringat dengan hal-hal yang terjadi dengannya dulu.
“Kalau dulu, ibu gak bisa beliin aku baju. Ibu cuma menjahitkan beberapa baju dari kain bekas konveksi dekat rumah. Tapi, jahitan ibu bagus banget! Gak kelihatan kalau bajunya dari bahan bekas,” lirih Ara dengan senyuman simpul.
Merasa sudah terlalu dingin, ia kemudian langsung memakai baju itu dengan senang hati.
Diperhatikannya dengan saksama, ternyata baju ini cocok sekali dengan tubuhnya. Warna birunya bagus, semakin membuat Ara suka saja dengan baju-baju ini.
__ADS_1
‘Warna biru adalah kesukaanku,’ batinnya, sembari tetap melihat dirinya di depan cermin.
Ara sangat mengkhawatirkan wajahnya, yang mungkin saja akan mempengaruhi kualitas dress yang ia kenakan itu. Ia merasa sangat insecure, karena wajahnya yang sepertinya kurang mendukung untuk mengenakan pakaian mahal dan bermerk seperti ini.
“Aku memangnya bisa pakai barang-barang seperti ini? Mukaku kayaknya buruk banget,” gumamnya, sembari menyentuh beberapa sisi pada bagian wajahnya.
Namun, buru-buru ia menghentikan pemikiran buruknya tentang dirinya.
“Ah, gak buruk-buruk amat kok mukaku,” lirih Ara, yang berusaha memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
Ara tersenyum, mulai menikmati pakaian ini yang terasa sangat nyaman. Ia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Lipatan bawah dress-nya membuat Ara nyaman sekali memainkannya.
Setelah asyik bermain dengan dress yang ia kenakan, Ara pun menghempaskan dirinya ke atas ranjang tidurnya yang sangat empuk.
Saat ini rambut Ara masih sangat basah, membuat hampir seluruh bagian ranjang terkena cipratan air dari kepalanya. Buru-buru ia bangkit dan mencari alat untuk mengeringkan rambutnya, seperti yang tadi mereka jelaskan.
Pandangannya mengedar ke segala sisi ruangan kamar ini, “Mana ya?” lirihnya sembari tetap mencari benda tersebut.
“Ah ... ini dia.” Ara mengambilnya, kemudian mengarahkannya ke arah rambutnya yang masih sangat lepek.
Ara bingung, ia sudah mengarahkan alat tersebut pada rambutnya, tetapi sama sekali tidak ada udara panas yang keluar dari alat tersebut. Ia merasa ada yang aneh, sesekali ia melihat ke arah alat tersebut.
“Lho ... kok ini gak bunyi sih?” gumam Ara yang bingung karena alat ini tidak berfungsi dengan semestinya.
Ara terus memerhatikan alat tersebut. Ia melihat, dan berpikir kembali mengenai hal lucu yang membuatnya sampai tertawa luwes.
“Ternyata, aku belum mencolokkan kabelnya ke stopkontak!” pekiknya, masih dengan tawanya yang renyah.
Dengan segera, Ara menghubungkan alat tersebut ke sumber listrik terdekat.
__ADS_1
Ara mencolokkan kabel tersebut, tetapi masih saja tidak bisa berfungsi. Ia masih berpikir dengan wawasannya yang masih terlalu sempit.
“Ini rusak kali ya?” gumamnya bingung, sambil tetap melihat-lihat sekitar alat tersebut. Digoyangkannya perlahan, tetapi alat itu masih tetap tidak mau menyala.
“Ah ... tapi tadi pas diajarin sama kakak itu, berfungsi kok!” Ara menepis perkiraannya terhadap benda ini.
Baru saja ia melihat alat ini berfungsi, saat tadi mereka memberikan sedikit arahan memakai alat-alat di sini. Namun, secepat ini alat ini menjadi rusak, membuat Ara menjadi kelimpungan karenanya.
“Ada yang harus ditekan gak ya?” gumamnya, Ara melihat kembali ke sekeliling alat ini.
Terlihat tombol kecil dengan tulisan on off. Ara pun menekannya tanpa ragu, sehingga alat itu menyala seketika, dan membuatnya kaget.
Karena terkejut, Ara hampir saja menjatuhkan alat itu. Ia tertawa kecil dibuatnya.
“Ternyata begini,” gumam Ara, yang lalu segera mulai menggunakannya di rambutnya.
Terasa hawa panas saat alat itu berada di atas kepalanya. Ia merasakan hal yang begitu nyaman, seperti semua beban pikirannya menjadi hilang seketika, saat merasakan sensasi hangat dari alat ini.
Ara menghela napasnya dengan panjang, “Dulu, ibu pasti ngipas-ngipas rambut aku pake kipas sate. Habis ... gak ada kipas angin sih. Apa lagi alat ini,” ujarnya dengan nada polos.
Ara menjadi tertawa kecil, ketika ia mengingat semua hal yang ia lakukan bersama ibunya dulu. Semua kejadian di masa lalu, akan selalu ia ingat sampai kapan pun.
Karena, tidak ada masa depan kalau tidak ada masa lalu.
Terima kasih, masa lalu.
Ara sudah menyelesaikan semua aktivitasnya. Kini, ia berbaring kembali di atas tempat tidurnya yang sangat nyaman dan empuk.
Beberapa saat menatap langit-langit kamarnya, ia jadi teringat akan satu hal. Surat yang diberikan Mang Ujang, yang katanya dari tuannya itu.
__ADS_1
Ara merogoh kantung tasnya, lalu ia pun membuka dan membaca isi surat itu.
“Hai. Apa kabar, Nona? Saya Bramantyo. Bisa dibilang, saya adalah ayah biologis kamu. Ibumu mengandung kamu saat dia bekerja di salah satu tempat hiburan malam. Saya yang saat itu sedang frustrasi, memilih untuk menyewa PSK di bar itu. Di sanalah, saya bertemu dengan ibumu. Kami menghabiskan waktu bersama semalam penuh. Fantasi yang tidak bisa saya lupakan. Saya tahu, kamu tidak bisa menerima semua ini. Tapi inilah kenyataan yang sebenarnya. Sewaktu istri sah saya sedang hamil muda, saya malah melakukan satu hal yang bodoh. Saya bermain cinta dengan wanita lain, yang tak lain adalah ibu kamu. Setelahnya saya menelantarkan ibumu, setelah saya tahu kalau dia sedang berbadan dua. Saya laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Sewaktu mendengar dia sakit-sakitan, hati saya terasa sakit sekali. Kondisi keuangan saya belum stabil pada saat itu karena mengalami kemerosotan income. Tapi saya berjanji, akan memenuhi hak kalian dan kewajiban saya sebagai orang yang memulai semua ini.