Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Persiapan Hadiah


__ADS_3

“Jangan, Za. Aku yang salah kok. Mereka gak salah. Jangan dilanjutin lagi ya. Ini kesan pertamaku di sekolah ini. Aku gak mau sampai ada masalah yang lain,” lirih Ara, berusaha untuk menenangkan Reza.


Reza pun terlihat sedikit tenang dari sebelumnya, membuat Ara menjadi sangat tenang juga melihatnya.


Ara tak sengaja melirik ke arah wanita jutek itu. Ia seperti tidak senang, walau Ara sudah membela mereka di hadapan Reza. Sepertinya, semua yang ia lakukan selalu salah di mata mereka.


Karena sudah merasa malas, Ara pun kembali memerhatikan gimik wajah Reza. Ia terlihat seperti mereda. Ia menghela napasnya panjang setelah mendengar ucapan Ara.


“Kali ini, saya maafin kalian. Tapi kalau sampai ada yang ngehina Siti lagi ... saya gak akan tinggal diam! Saya akan kejar orang itu, sampai dapat!” ujar Reza yang terdengar seperti nada ancaman.


Mereka semua masih saja diam, tanpa ada suara sedikit pun. Reza tak memedulikannya, dan melangkahkan kakinya menuju kursi paling depan. Ia pun duduk di kursi tersebut.


Betapa terkejutnya Ara, karena ternyata Reza adalah teman sekelasnya.


‘Aku tidak menyangka, aku bisa satu kelas dengan Reza. Benar-benar suatu kebetulan yang menguntungkan bagiku. Paling tidak, mereka tidak akan berani menyentuhku kalau Reza ada di sini,’ batin Ara, yang merasa agak tenang dengan posisi dirinya saat ini.


“Sebutin biodata,” suruh gadis tadi, Ara pun mengangguk paham dengan yang ia maksudkan.


“Nama aku Ara. Aku pindahan dari kampung. Ini kesan pertama aku bisa bersekolah di tempat yang mewah seperti ini. Aku harap, kita bisa jadi teman yang baik. Kalau kalian mau main ke rumahku, silakan ... aku pasti seneng banget,”ucap Ara dengan nada paling ramah yang ia miliki. Namun, tidak ada respon apa pun dari mereka. Itu cukup membuatnya merasa sedih.


“Duduk.” Gadis itu kembali mengucapkan kata dengan nada yang ketus.


Ara berusaha menerimanya dan berusaha ikhlas menjalaninya. Ia pun menuju tempat duduk kosong yang berada di barisan paling belakang. Ia meletakkan tas dan barang-barangnya di atas meja, berusaha untuk memulai harinya dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


‘Aku harus bisa!’ batinnya, yang berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.


Aea kehabisan kata-kata, karena melihat pemandangan sekolah ini yang menakjubkan. Meja di sekolah ini, sangat bersih dan tidak ada coretan atau noda sedikit pun. Tidak seperti sekolahnya di desa. Ara sampai terkesima dibuatnya.


‘Ayolah, Ara! Aku ke sini buat belajar dan berusaha jadi orang yang berguna nantinya. Semangat, dan jangan mikirin masalah cowok dulu! Aku yakin, aku bisa lulus dengan nilai terbaik di sekolah ini!’ batin Ara, yang berusaha memberikan semangat lagi pada dirinya sendiri.


Ara tidak ingin semua masalah yang ada, malah mengganggu konsentrasinya dalam hal pelajaran. Ia ingin menguatkan kembali tekadnya, untuk bisa meraih peringkat di sekolah yang sangat bagus ini.


‘Aku ingin, semua orang mengakui keberadaanku. Aku tidak ingin dilecehkan lagi dengan mereka,’ batinnya, dengan tekad yang kuat.


***


Saat ini, Ara sudah menyelesaikan pelajaran pertamanya hari ini. Tak disangka, pada hari pertama pun banyak sekali masalah yang ia alami. Entah itu masalah Bisma, Reza, ataupun mereka yang tidak senang dengan keberadaannya.


Ara hanya bisa sabar dengan yang ia alami. Ini demi masa depannya. Apalagi, Ara sangat beruntung bisa belajar di sekolah sebagus ini.


Semua orang sudah meninggalkan ruangan ini. Sekarang, hanya tinggal Ara, dan juga Reza.


Ara memandangnya dari belakang. Terlihat Reza yang sedang merapikan barang-barangnya. Tanpa sadar, ia pun tersenyum dibuatnya.


‘Reza ... sampai saat ini, aku masih belum percaya kalau Reza adalah teman sekelasku. Aku senang karena dia sudah menolongku saat para wanita itu melabrakku tadi. Entah bagaimana jadinya, kalau Reza tidak menolongku. Aku merasa ... Reza sudah terlalu sering membantuku disaat apa pun. Aku bahkan belum sempat memberikannya hadiah. Aku akan mempersiapkan hadiah untuk Reza nanti,’ batin Ara, yang merasa harus menyiapkan sebuah hadiah untuk Reza.


Ara memandangnya lagi, ‘Reza ... kenapa dia selalu ada di saat aku susah? Aku beneran gak paham! Kenapa dia sampai rela terlibat dalam permasalahan yang terus menimpaku?’ batin Ara lagi, yang terus bertanya-tanya.

__ADS_1


Ara membuat suatu pertanyaan, yang sampai sekarang masih belum terpecahkan.


‘Sepertinya, aku harus menanyakannya pada Reza secara langsung,’ batin Ara lagi, merasa harus melakukan hal itu.


“Siti ...,” sapa Reza tiba-tiba, membuat Ara pun tersadar dari lamunannya.


Karena mendengar Reza yang memanggilnya, Ara pun sampai salah tingkah dengannya.


‘Sampai detik ini, Reza masih saja memanggilku dengan nama ‘Siti’. Aku tidak nyaman dengan nama itu. Apa mungkin ... penampilanku yang cocok dengan nama itu?’ batin Ara, yang spontan merapikan barang-barangnya yang masih berserakan di atas meja, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


“Kenapa bengong? Mau ikut gue ke lapangan gak? Kebetulan ... gue ada latihan,” ucap Reza, mengingatkan Ara akan ucapan Bisma tadi, yang menyuruhnya untuk menunggu di lapangan, setelah pulang sekolah.


Ara memandangnya dengan tatapan ragu. Sepertinya ... Bisma tidak menyukai Reza. Sejak pagi tadi, Ara masih belum bisa melupakan kejadian memalukan itu.


Reza memandangnya dengan bingung, “Lho ... kenapa, Ti? Nanti gue anter loe pulang ke rumah kalau loe takut. Rumah loe kayaknya gak jauh dari rumah gue,” ucapannya terdengar seperti sedang mendesak Ara.


Ara tidak tahu harus menjawab apa, karena ia khawatir, Bisma akan melihat mereka lagi, pada posisi yang membuat salah paham. Ara pun akhirnya memilih untuk diam.


Melihat Ara yang diam, Reza pun menarik tangannya, tanpa menunggu persetujuan Ara. Ara langsung bingung apa yang harus ia lakukan.


‘Aku tidak ingin Bisma marah padaku,’ batin Ara, yang merasa sangat bingung harus mengatakan seperti apa.


Reza membawa Ara pergi dengan sangat bersemangat. Ia merasa sangat senang, karena bisa dekat dengan Ara lagi.

__ADS_1


“Gak perlu! Biar gue yang anter dia pulang!” ujar seseorang, yang terdengar suara yang tak asing dari arah pintu masuk.


Karena mendengar ucapan itu, Reza pun menghentikan langkahnya dan mereka segera menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2