
Ucapan Gladis benar membuat Bisma merasa sedikit mual, karena ucapannya itu terkesan sangat dibuat-buat. Bisma tidak menyukainya, tetapi ia memaksa dirinya sendiri untuk meneruskan dinner kali ini bersama dengan Gladis.
‘Demi Ara,’ batin Bisma, yang haru merelakan dirinya menahan perasaan jijik ketika mendengar Gladis mengatakan hal yang aneh-aneh di hadapannya.
Bisma menghela napasnya panjang. “Dis, lo kenal sama Fla gak?” tanyanya, Gladis seketika memandang Bisma dengan serius.
“Kenal, Fla memang satu circle sama gue dan Adele,” jawab Gladis, Bisma memandangnya dengan datar.
“Dia ... pernah bicara soal cewek culun yang ada di kelasnya gak?” tanya Bisma memastikan hal ini pada Gladis.
Gladis berpikir sejenak, “Ya ... dia sering banget cerita hal itu sama gue. Katanya ... dia muak banget sama cewek culun itu,” ujarnya menjelaskan.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Dis ... gue mau lo tau. Sebenarnya ... cewek culun yang selalu di-bully sama Fla itu, adik tiri gue,” ujarnya menjelaskan, sontak membuat Gladis mendelik kaget mendengarnya.
“Apa?” pekik Gladis, tak percaya dengan apa yang Bisma jelaskan padanya.
Bisma tahu, ini akan sangat mengejutkan bagi orang yang mendengarnya. Namun, hal ini harus dikatakan dengan jelas, karena ia tidak ingin semua orang malah jadi membenci Ara karena tidak tahu hubungan dirinya dan juga Ara.
“Ya, gue gak suka kalian selalu bully dia. Gue juga gak suka Ilham udah bully dia habis-habisan, dari dulu sampai sekarang.” Bisma menjelaskan tentang perasaannya secara gamblang.
Gladis menganga, “Jadi ... kemarin berita lo ngehajar Ilham gara-gara cewek culun itu beneran? Ternyata itu gara-gara ... dia itu adik tiri lo?” tanyanya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan hal ini.
Bisma mengangguk kecil mendengarnya. “Gue harap, ke depannya lo bisa kasih tahu Fla dan yang lainnya, supaya jangan sampai mereka nyentuh adik gue lagi. Lo juga bisa kasih tahu Adele, biar gak ada salah paham antara dia sama Ara nantinya,” ujar Bisma yang mau tidak mau harus mengatakan hal seperti ini di hadapan Gladis.
Mendengar ucapan Bisma itu, Gladis pun menjadi bimbang. Pasalnya, mereka sedang mempersiapkan cara untuk melabrak Ara, karena sudah membuat Bisma bertengkar dengan Ilham.
__ADS_1
‘Kalau udah begini, gimana cara gue bilang sama Fla dan Adele?’ batin Gladis, bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Bisma memandang sinis dan dingin ke arahnya. “Kalau sampai terjadi apa pun yang gak mengenakkan lagi terhadap Ara, jangan salahin gue kalau gue akan bertindak keras, sama seperti yang gue lakukan ke Ilham,” ujarnya, secara tidak langsung melontarkan sebuah ancaman untuk mereka.
Gladis tertegun, saking takutnya melihat ekspresi Bisma yang seperti itu di hadapannya kini.
Makanan pun tiba dengan waktu yang sangat tepat. Setelah mengatakan hal tersebut, Bisma menyantap makanannya dengan lahap, karena ia ingin segera pergi dari sana karena permasalahannya sudah selesai. Ia tidak bisa berlama-lama lagi dinner bersama dengan Gladis, karena ia menyadari bahwa hal itu sudah membuang-buang waktunya saja.
Setelah menyelesaikan dinner bersama Gladis, Bisma pun kembali menuju ke rumahnya. Di perjalanan ia kembali ke rumahnya, ia melihat sebuah toko yang menjual bunga. Pikirannya tertuju pada Ara, sehingga ia ingin sekali membelikan bunga untuk Ara.
“Di rumah banyak bunga yang gue tanam, tapi kenapa gue mau beli buat dia?” gumam Bisma, merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Perasaannya pada Ara tidak bisa tertahankan lagi, apalagi setelah ia berhasil mencium bibir Ara pagi ini. Hal itu sudah membuatnya lupa dengan permasalahan yang ada.
“Beliin satu deh,” gumam Bisma, merasa harus melakukan ini untuk mendapatkan hati Ara.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Bisma pun segera pulang untuk memberikan mawar ini kepada Ara.
Malam sudah semakin larut, membuat Bisma ragu untuk memberikan bunga ini langsung kepada Ara. Ara yang tidak pernah tidur terlalu larut, pastinya sudah tidak terjaga di jam malam seperti ini.
“Ara pasti udah tidur. Gimana caranya gue kasih mawar ini ke dia? Apa besok aja?” gumam Bisma, sembari memandang ke arah bunga yang ia pegang di tangannya.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, lalu segera keluar dari mobilnya. Ia masuk ke dalam rumahnya, dan tak sengaja melihat Ara yang saat ini sedang memegang gelas di tangannya.
Ara terbangun dari tidur lelapnya, dan merasakan haus yang membuat tenggorokannya kering. Karena lupa menyiapkan minum di kamarnya, Ara mau tidak mau mengambil sendiri minumannya di dapur.
__ADS_1
Mereka berpapasan, ketika Ara hendak kembali ke ruangan kamarnya. Melihat Bisma, Ara malah mendadak menjadi salah tingkah, karena ia yang masih mengingat dengan jelas kejadian pagi tadi bersama dengan Bisma.
‘Ya ampun ... Bisma!’ batin Ara, merasa sangat malu berhadapan dengan Bisma saat ini.
Ara pun hendak pergi dari sana, tetapi tangan Bisma menahan lengan tangan Ara. Ara menghentikan langkahnya, lalu memandang ke arah Bisma dengan pandangan yang khawatir.
“Ra, tunggu. Gue mau bicara sama lo sebentar,” ujar Bisma, Ara pun mendadak merasa canggung dengan apa yang Bisma lakukan padanya.
“Maaf, Bisma. Ini udah malam banget, Ara harus istirahat biar besok gak terlambat masuk ke sekolah,” tolak Ara, sembari berusaha untuk melepaskan lengan tangannya dari cengkeraman Bisma.
Namun, Bisma masih tetap tidak mengizinkannya pergi dari hadapannya. Perasaannya mendesak dirinya untuk mengatakan hal ini langsung kepada Ara, detik ini juga.
“Ra, please. Sebentar aja, kita ngobrol sebentar,” pinta Bisma, sedikit memaksakan kehendaknya.
Karena sudah tidak bisa menolak lagi, Ara pun akhirnya mengangguk kecil, sehingga Bisma melepaskan lengan tangan Ara dan memandangnya dengan dalam.
“Apa yang mau Bisma bicarain?” tanya Ara, heran dengan apa yang akan Bisma katakan padanya.
Bisma menghela napasnya dengan panjang. “Nih, buat lo,” ujarnya sembari memberikan bunga mawar yang baru saja ia belikan untuk Ara.
Ara memandang heran ke arah Bisma, bingung dengan apa yang Bisma lakukan itu. Namun, karena Ara tidak mau banyak berbicara pada Bisma, Ara pun menerima mawar tersebut dan memegangnya dengan tangannya.
“Makasih,” ujar Ara sedikit dingin, Bisma menghela napasnya dengan panjang.
“Ra ... jujur sama gue, lo bahagia gak sih pacaran sama Morgan?” tanya Bisma, Ara memandangnya dengan datar.
__ADS_1
“Memangnya kenapa Bisma nanya begitu?” tanya Ara sedikit jengkel mendengar pertanyaan Bisma, yang terdengar sangat ingin tahu tentang hubungan dirinya dengan Morgan.
“Karena gue suka sama lo!”