Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Bakwan


__ADS_3

‘Aku pikir, dia tidak ingin duduk bersebelahan denganku,’ baitn Ara menurutinya dan segera duduk di sampingnya.


Di hadapannya kini, terlihat banyak sekali makanan yang tersaji. Ia merasa aneh, karena ia yang melihat ke arah piring yang ada di hadapannya.


Piringnya di letakkan terbalik di atas meja makan. Ara juga melihat ada pisau kecil dan garpu di sebelahnya. Ara menjadi bingung, karena ia sama sekali tidak melihat ada sendok di sana.


Melihat Ara yang sudah pada tempatnya, Bisma pun menepuk tangannya dua kali. Tepukan tangan itu membuat seseorang datang dan tiba-tiba memakaikan kain seperti celemek pada Ara.


Ara lantas bingung dengan keadaan ini, ‘Ada apa dengan mereka?’ batinnya.


“Kenapa nih?” Ara yang bingung, spontan menolak perbuatan mereka.


“Udah diem aja,” ucap Bisma, membuat Ara tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya.


Ara hanya menurut dengan yang Bisma mau. Di hati kecilnya, tetap saja Ara merasa ada hal yang mengganjal.


Ara memberanikan diri untuk memandang ke arah Bisma, “Tapi aku mau makan, bukan mau masak! Kenapa harus pake celemek segala?” tanya Ara dengan sangat polos, sebagai bentuk usahanya menolak keinginan Bisma.


Bisma terdiam sejenak, lalu tiba-tiba saja tertawa mendengar ucapan Ara. Hal itu sama sekali tidak dimengerti oleh Ara.


‘Apa yang salah dariku? Aku ingin makan, bukan memasak!’ batin Ara, aneh dengan apa yang Bisma perintahkan kepada orang-orangnya itu.


Ara memandangnya dengan nanar, “Lho, kok kamu ketawa sih?” tanya Ara yang heran dengan keadaan.


Bisma menghentikan tawanya, “Loe itu lucu ya,” ucap Bisma sembari mentertawakan Ara dengan sangat renyah.


Ara tak mengerti, ia hanya bisa mengerutkan bibirnya sebagai bentuk perasaannya yang tak senang dengan tindakan kakaknya itu.


“Emangnya aku lucu kenapa?” tanya Ara.


Bisma menghentikan tawanya, menaruh dagunya dan bersandar pada tangan yang menyangganya.

__ADS_1


“Kalau loe gak mau pakai celemek, ya udah nggak apa-apa. Yang penting loe makan yang banyak,” ujarnya dengan sedikit lembut.


Kelembutannya membuka mata Ara, ia merasa kalau Bisma tidak seburuk yang ia pikirkan. Ia masih memedulikan Ara dan malah menyuruhnya untuk melahap banyak makanan.


Untuk menghormati Bisma, Ara pun tidak jadi melepas celemek itu. Ara mengalihkan pandangannya ke arah meja makan. Di sana, banyak sekali makanan yang baru ia lihat. Matanya sampai bingung, harus memandang ke arah mana, saking banyaknya makanan yang ada di meja ini.


‘Aduh ... banyak banget makanannya. Mau makan yang mana dulu, nih?’ batin Ara, yang benar-benar kebingungan memandang ke arah makanan sebanyak ini.


Ketika ia tinggal di desa, ia sangat jarang makan karena ibunya yang terkadang tidak bisa membeli makanan. Namun, di sini kehidupannya berbanding terbalik, membuatnya merasa sedikit nyaman dengan keadaannya di rumah ini.


Pandangannya tak sengaja melihat makanan yang tak asing baginya. Ia terdiam sembari memandangnya dengan dalam.


‘Ternyata, di tempat semewah ini, masih ada bakwan yang sering aku beli di warung makan bu Ijah dulu saat tinggal di kampung,’ batin Ara, dengan senyuman yang mulai merekah di sudut bibirnya.


Melihat Ara yang hanya memandang ke arah hadapannya, Bisma pun menjadi sangat heran dan juga sangat bingung melihatnya.


“Loe lihat apa?” tanya Bisma dengan nada heran, Ara pun langsung melirik ke arahnya.


“Aku nggak nyangka! Di tempat sebesar dan semewah ini, masih ada gorengan bakwan yang sama kayak yang aku beli di warung makan bu Ijah dulu waktu di kampung. Tapi kok, gorengannya bentuknya lebih bagus ya? Kalau yang dijual bu Ijah kok kayak gepeng-gepeng gitu, nggak bagus terus kecil-kecil lagi,” ujar Ara dengan penuh rasa heran.


Mendengar ucapan Ara, Bisma tiba-tiba saja batuk seperti tersedak. Ara yang melihatnya pun bingung, dengan apa yang harus ia lakukan.


“Lho ... kenapa!” pekik Ara panik, tetapi ia tak bisa melakukan apa pun dan hanya bisa memandangnya saja.


Karena sudah tidak bisa bernapas, Bisma pun segera mengambil air minum yang ada di hadapannya dan meminumnya dengan cepat.


“Ahh ....” Bisma selesai meminum air tersebut, dan ia pun sudah tidak tersedak lagi sekarang.


Ara memandangnya dengan penuh rasa khawatir. Ia sangat berharap, tidak ada yang akan terjadi dengan Bisma.


“Bisma, kamu nggak apa-apa?” tanya Ara dengan perasaan resah dan gelisah.

__ADS_1


“Hahahah ....”


Tiba-tiba saja Bisma tertawa dengan sangat kencang di hadapan Ara, membuatnya sangat bingung memandangnya. Ada yang sangat lucu, sehingga membuat Bisma tertawa terpingkal-pingkal seperti ini.


Ara memandangnya dengan bingung, ‘Kali ini, apa yang lucu? Dia hampir saja mati karena tersedak. Apanya yang lucu?’ batinnya bingung, ditambah kesal karena Bisma yang hampir kehilangan nyawanya itu.


“Kenapa sih ketawa mulu? Apanya yang lucu coba? Kamu tuh hampir mati Bis gara-gara tersedak!” bentak Ara dengan sedikit nada kesal, membuat Bisma menghentikan tawanya.


“Gue ketawa tuh gara-gara loe tau!” ujar Bisma, Ara semakin tidak paham dibuatnya.


“Kok gara-gara aku? Emangnya aku kenapa?” tanyaku dengan nada sedikit lebih tinggi daripada yang tadi.


“Itu tuh Kakiage, makanan khas Jepang. Bukan bakwan yang bu Ijah jual,” ujarnya yang berusaha membuat buat Ara mengerti.


Mendengar penjelasan Bisma, Ara pun sekarang mengerti, kenapa ia sampai tertawa seperti itu.


Wajah Ara terasa sangat panas, karena ia yang sangat malu pada Bisma.


“Oh, ini Kakiage. Ya mana aku tahu? Aku cuma tau kalau ini tuh bakwan yang sering aku beli setiap pagi bareng ibu—”


“Udah deh udah,” pangkas Bisma, Ara terdiam seketika, saat ia memotong pembicaraannya. “Lanjutin aja makannya. Kalo loe mau, tinggal ambil aja sesuka hati loe,” sambungnya.


Ara merasa tak enak padanya. Ara hampir saja menghilangkan nyawanya, sampai ia tersedak karena menertawakan tingkah konyol dirinya.


Ara hanya diam sembari memasang tampang memelas. Bisma yang menyadarinya tiba-tiba saja melihat ke arah Ara, lalu memandangnya dengan tatapan heran.


“Lho, kenapa diem? Makan aja,” ujarnya dengan nada datar.


Dengan perasaan ragu, Ara pun mengambil bakwan itu dan mencicipinya. Perlahan ia mengunyah makanan tersebut, dan terkejut karena mendapati rasa yang sangat nikmat pada makanan tersebut.


“Emhhh ....” Mata Ara seketika membulat, merasakan kenikmatan rasa dari bakwan yang ia cicipi saat ini.

__ADS_1


Baru pertama kali, ia merasakan bakwan senikmat ini. Dengan lahapnya, Ara pun melahap habis bakwan yang sedang ia pegang itu.


Bisma memandangnya dengan heran, sembari sesekali menggelengkan kepalanya, karena merasa bingung dengan cara makan Ara yang terlihat seperti orang yang sangat kelaparan.


__ADS_2