
Bisma tak percaya dengan apa yang Ara katakan padanya. Entah dari mana Ara bisa mendapatkan keberanian ini, karena sebelumnya Ara sama sekali tidak bisa berkata demikian.
Namun, hari ini Ara sudah mengubah semua hal tentang dirinya. Bisma yang semula sangat mengkhawatirkannya, kini malah merasa sangat terpukul setelah mendengar ucapannya.
‘Apa karena efek pacaran sama Morgan, dia jadi begini?’ batin Bisma, heran dan tak percaya dengan perubahan sikap Ara yang demikian pesat.
“Ara ngantuk, mau istira—”
“Lo pacaran sama Morgan?” tanya Bisma yang memangkas ucapan Ara.
Ara mendelik, tak percaya dengan Bisma yang sudah mengetahui hal ini, tanpa ia beri tahu padanya. Ara hanya bisa diam, sembari berpikir tentang apa yang harus ia katakan pada Bisma.
Setelah lama bergeming di hadapan Bisma, Ara pun menghela napasnya dan memandang Bisma dengan tajam.
“Ya, Ara pacaran sama Morgan,” jawab Ara dengan datar, membuat Bisma kalangkabut mendengarnya.
Kesal, tetapi ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi di hadapan Ara. Melakukan apa pun juga percuma, ternyata Morgan memang sudah berhasil mendapatkan hati Ara.
Bisma murka dan memandang sinis ke arah Ara. “Udah gue bilang, jangan pacaran! Lo harus konsentrasi belajar, karena sekolah di sana gak murah! Lo tuh harusnya mikir, bokap gue nyekolahin lo di sana tuh pake kerja keras dan keringet! Lo dengan seenaknya main-main, malah pacaran sama cowok, bikin konsentrasi terganggu aja!” bentaknya kasar, sontak membuat Ara mendelik tak percaya mendengarnya.
Tak mau kalah, Ara pun menatap Bisma dengan sinis. “Gak usah Bisma ikut campur urusan Ara! Bapak Bisma juga bapak Ara, jadi Ara punya hak buat disekolahin di tempat mana aja! Ara juga gak main-main, dan beneran belajar kok! Memang kita harus lurus-lurus aja, dan gak boleh punya penyemangat? Bisma aja bisa pacaran sama Gladis, bahkan sampai berbuat mesum di rumah ini. Kenapa Ara gak bisa pacaran sama Morgan, hah?” teriak Ara, sontak membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.
‘Ternyata Ara masih mikirin tentang gue dan Gladis yang berbuat mesum di kamar. Itu bukan kesalahan gue, Ra!’ batin Bisma, yang seakan tak bisa mengatakan hal itu di hadapan Ara saat ini.
Ara mendorong Bisma untuk keluar dari kamarnya, “Ara capek, mau istirahat!” ujar Ara, yang lalu segera menutup pintu ruangan kamarnya dan segera menguncinya.
__ADS_1
Hal itu sangat membuat Bisma terpukul, karena ia merasa Ara sudah benar-benar berubah sejak awal mereka bertemu.
Bisma kembali ke kamarnya dengan keadaan yang sendu, dan langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang tidurnya. Ia meraih foto dirinya dan juga Ara, dan memandanginya dengan dalam.
“Apa gak ada kesempatan untuk kita, Ra? Kenapa lo malah nerima Morgan? Kenapa lo malah berubah gini, sih? Gue ngehajar Ilham habis-habisan itu buat lo, tapi kenapa lo malah gak seneng, dan malah marahin gue?” gumam Bisma, sembari memandangi foto mereka bersama.
Bisma kesal, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun lagi untuk memenangkan hati Ara. Saat ini, harapan yang ia miliki sudah sangat jauh. Ia harus tahan ketika melihat Ara dan Morgan bersama.
“Sial Morgan! Gue harus bikin perhitungan sama dia nanti!” geram Bisma tiba-tiba, yang malah jadi tak terima dengan apa yang Morgan lakukan.
***
Pagi ini Ara sudah selesai bersiap-siap. Morgan juga sudah sampai di rumahnya, menunggu di ruang tamu. Ara melangkah menuju ke arah Morgan berada, dan ternyata Morgan sedang berbincang bersama dengan ayahnya.
Pemandangan ini sangat jarang Ara lihat, karena Morgan bisa berbincang dengan leluasa dengan ayahnya itu.
Ayahnya dan Morgan mengalihkan pandangannya ke arah Ara, dan memandangnya dengan heran.
“Kamu gak kangen Papa?” tanyanya, sontak membuat Ara tersenyum mendengarnya.
“Gimana bisa? Beberapa minggu gak ketemu Papa, Ara ngerasa rindu,” ujar Ara, yang sudah bisa mengungkapkan isi di hatinya pada ayahnya.
Morgan tersenyum, karena Ara bisa dengan mudahnya mengutarakan perasaannya di hadapan ayahnya. Ia jadi berpikir, bukan hal yang tidak mungkin jika nanti Ara akan mengungkapkan perasaannya padanya.
Ayahnya kembali memandang ke arah Morgan. “Nanti Om bangunin Bisma dulu, ya.”
__ADS_1
Morgan memandang heran ke arahnya. “Om, sebenarnya saya ke sini bukan karena Bisma, Om,” ujarnya, sontak membuat ayahnya Ara memandangnya dengan heran.
“Lho, lantas kamu ke sini karena apa? Bukannya kamu temannya Bisma?” tanya ayahnya, yang merasa bingung dengan ucapan Morgan.
Morgan tersenyum, “Saya ke sini karena mau ngajak Ara ke rumah Ilham, teman kami yang sakit. Itu juga ... karena Bisma yang udah ngehajar habis-habisan Ilham,” ucapnya menjelaskan, membuat ayahnya mendelik tak percaya dengan apa yang Morgan katakan.
“Apa? Bisma? Kenapa dengan Bisma?” tanya ayahnya.
“Singkatnya Bisma emosi karena Ilham gangguin Ara di sekolah. Bisma langsung ngehajar Ilham, sampai muka Ilham bonyok dan gak masuk sekolah,” ujar Morgan lagi menjelaskan, ayahnya terlihat sangat emosi mendengarnya.
“Bisma ini benar-benar perlu diajarin sopan santun!” geram ayahnya, yang malah menyalahkan Bisma dengan keadaan yang seperti ini.
Ara memandang ayahnya dengan sendu, “Pah, ini bukan sepenuhnya salah Bisma, kok. Bisma ngelakuin itu karena Ilham yang memang gangguin Ara terus. Mungkin Bisma gak mau ngelihat Ara di-bully lagi sama Ilham,” ucap Ara membela Bisma, membuat Morgan sedikit tersinggung mendengarnya.
‘Ya, walaupun Bisma melakukan hal yang benar, tetapi rasanya masih kesel aja dengar Ara belain dia di depan ayahnya,’ batin Morgan, yang merasa agak tersinggung dengan ucapan Ara.
“Ya tapi gak harusnya ngehajar anak orang sampai babak-belur gitu, dong? Semua bisa dibicarakan baik-baik,” ujar ayahnya, yang tidak satu paham dengan Bisma.
Ara hanya bisa memandang Morgan dengan sendu, berharap Morgan bisa membantunya bicara dengan ayahnya. Morgan yang mengerti dengan tatapan mata Ara, lekas mengambil alih keadaan.
“Om jangan marah sama Bisma, ya. Saya dan Ara sekarang mau menuju ke rumah Ilham untuk minta maaf. Semoga masalahnya gak akan menjadi larut,” gumam Morgan, yang berusaha untuk menyesuaikan keadaan dan suasananya.
Ayahnya menghela napasnya dengan panjang. “Baiklah, hati-hati di jalan. Kalau orang tua Ilham menuntut dispensasi, bilang ke Papa, biar Papa kasih jumlah yang sesuai sebagai bentuk rasa sesal Papa karena hal ini,” ucapnya, membuat Ara dan Morgan mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, Om. Nanti kami akan bilang ke Ilham dan orang tuanya. Sekarang, kami pamit ya, Om.” Morgan berusaha untuk mencairkan suasana yang sempat menegang.
__ADS_1
“Oke, hati-hati di jalan. Om titip Ara, jangan sampai kenapa-napa,” ucapnya, membuat Morgan tersenyum mendengarnya.
‘Tanpa Om pinta, saya juga pasti akan jagain Ara,’ batin Morgan, yang tidak ingin mengungkapkannya di hadapan ayah dari Ara.