Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Benda Silver Aneh


__ADS_3

Ara tak memedulikan lagi dengan apa yang Bisma lakukan padanya. Pandangannya tertuju pada gedung sekolahnya. Ia sejenak terdiam, karena takjub melihat suasana sekolah yang mewah ini.


‘Kenapa pemandangan di sini sangat elegan sekali?’ batin Ara, yang sampai menganga kaget melihat bangunannya yang indah.


Banyak sekali orang yang berlalu-lalang di sekitar sekolah ini. Tak sengaja, Ara melihat Bisma yang sedang memandang ke arahnya. Mereka saling bertatapan, membuat Ara menjadi sangat bingung harus mengatakan apa kepada Bisma.


Ia masih terlalu nervous, untuk memandang Bisma dengan durasi yang lama.


“Apa loe yakin, gak mau lepas kacamata dan pakai softlense aja?” tanya Bisma, Ara pun mengangguk dengan cepat mendengarnya.


“Walaupun bagus, tapi ... Ara lebih seneng pakai kacamata. Ara gak akan ngerasain mata perih, beda saat sedang pakat alat itu,” ujar Ara dengan secara rinci, agar Bisma tidak memaksanya lagi untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.


Bisma terlihat hanya diam, sembari memandang ke arah Ara. Ara hanya bisa melontarkan senyuman khas ke arah Bisma, agar suasana mereka tidak terlalu kaku. Merasakan keanehan di antara mereka, Bisma pun membuang pandangannya dari Ara.


Melihat sikap Bisma yang masih saja dingin seperti orang asing, Ara merasa sia-sia saja ia bersikap manis di hadapan Bisma. Bisma masih saja bersikap dingin. Padahal, satu-satunya orang yang Ara punya saat ini, hanyalah Bisma.


Mata Ara membulat, saat Bisma meletakkan tangannya di atas kepalanya. Perasaan yang sedang Ara rasakan itu, sama seperti saat Reza melakukan hal itu padanya.


‘Ataga, kenapa mereka berdua memiliki kemiripan? Apa ... semua laki-laki memperlakukan seorang wanita dengan cara seperti ini?’ batin Ara, yang tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan padanya.


Bisma pun segera menarik kembali tangannya dari kepala Ara, “Mau diantar ke ruangan kantor?” tanyanya yang sukses membuat Ara malu.


Ara tidak ingin mereka semua menjadikannya sebuah tontonan, hanya karena ia bersama dengan Bisma. Sama seperti saat di salon kemarin. Ara merasa terusik, jika ada yang melihatnya dengan tatapan yang membidik seperti itu.

__ADS_1


Karena merasa sangat malu, Ara hanya bisa menggeleng kecil di hadapan Bisma. Ara bahkan sampai tidak berani menatap matanya. Namun, Bisma masih saja mengusap pelan rambut Ara, membuat Ara merasakan perasaan yang nyaman.


“Ruangan kantor ada di lantai 3 dekat aula. Jangan sampai salah masuk ruangan,” ucap Bisma, yang berusaha untuk memeringati Ara, membuat Ara mengangguk kecil mendengar ucapannya.


“Oke.”


“Pulang sekolah, tunggu di lapangan. Gue mau latihan sebentar,” ucap Bisma, lalu menurunkan tangannya dari atas kepala Ara.


Mendengar ucapan Bisma, Ara pun mengangguk paham. Bisma pun pergi meninggalkannya sendirian di sana. Mereka berpisah, membuat Ara merasa sedikit sedih melihat kepergian Bisma.


Ara menatap sekeliling gedung ini dengan senang, ‘Akhirnya, aku bisa merasakan sekolah di tempat yang bagus. Sekolah lamaku, sudah tidak layak pakai lagi. Cat yang sudah mulai mengelupas, kursi dan meja yang sudah penuh dengan coretan, serta tak jarang air hujan pun memasuki atap sekolahku. Aku tidak menyangka, akan sekolah di tempat sebagus ini,’ batin Ara, yang merasa sangat senang bisa bersekolah di tempat ini.


Ara menghela napasnya dengan panjang, “Aku datang!” gumam Ara dengan lirih, sembari tersenyum menatap ke hadapannya.


‘Tidak ada tangga di sini? Jadi, bagaimana aku bisa menuju ke lantai 3?’ batin Ara bertanya-tanya dengan keadaan yang ia hadapkan ini.


Ara berusaha mencari sampai ujung sisi gedung. Ia kesal, tetapi tidak bisa menumpahkan emosinya.


Ara menghela napasnya dengan panjang, ‘Kalau seperti ini kejadiannya, mungkin aku tidak akan menolak tawaran Bisma untuk mengantarkan aku ke ruangan yang ia maksudkan. Apalagi, tidak ada orang yang melewati tempat ini,’ batinnya, yang benar-benar sangat kesal dengan dirinya sendiri.


“Duh ... aku harus gimana, nih? Masa aku balik lagi sih?” gumam Ara, sembari menahan rasa takutnya.


Suasana di sekitar gedung yang sangat luas ini, terasa sangat sunyi dan sepi. Karena kejadian di masa lalunya, Ara trauma dengan kesendirian yang ia rasakan. Belum lagi kejadian tadi pagi, yang masih belum bisa ia lupakan. Pikirannya semakin kacau saja.

__ADS_1


Seorang anak lelaki tiba-tiba saja datang melewati Ara. Hanya ia yang ada di sekitar tempat ini. Ara merasa harus bertanya padanya, tentang ruangan yang ingin ia tuju.


Ara melihatnya dengan saksama, ‘Bukankah dia ....’


“Reza?” gumam Ara lirih, yang masih tak menyangka dengan orang yang ia lihat.


Reza sama sekali tidak melihatnya, lantas Ara segera berlarian untuk mengikutinya dari belakang. Tanpa sadar, Ara bertemu dengannya lagi. Padahal, ini semua sama sekali tidak ia rencanakan. Bocah lelaki yang sudah menolongnya saat ia kecil, ternyata bertemu dengannya lagi secara kebetulan sebanyak dua kali. Ara senang bukan main mengetahuinya.


‘Apa ini sebuah pertanda baik? Apa dia malaikat yang disuruh Tuhan untuk menolongku? Lagi dan lagi, aku bertemu dengannya di saat yang genting seperti ini. Seperti sudah tersusun rapi saja,’ batin Ara, sembari tetap melangkah mengikuti ke arahnya.


Ara masih menguntitnya dari belakang. Reza terlihat sama sekali tidak memerhatikan Ara. Ia hanya bisa berjalan, tanpa memedulikan keadaan sekitarnya. Ara menyela dirinya dan berdiri di belakangnya.


Tiba-tiba saja, ada sebuah pintu yang muncul dari sela-sela kotak silver ini. Ara sampai melotot keheranan karena melihatnya.


‘Kenapa ada pintu tersembunyi pada kotak setinggi kurang lebih 2 meter ini?’ batin Ara, yang benar-benar tidak mengetahui, kalau yang ia lihat adalah sebuah lift.


Mereka masuk ke dalamnya, lalu kotak ini bergerak dengan sendirinya. Seperti sedang membawa Ara naik ke atas.


“Aaaaah ....” Ara berteriak sembari menutup matanya, sangking takutnya. Tubuhnya seperti lemas, dan ia kehilangan keseimbangannya dalam berdiri.


Ara terjatuh, tetapi tidak sampai mengenai lantai lift tersebut. Ia yang merasa heran, hanya bisa merasakan saja keadaan yang terjadi padanya. Untuk membuka matanya, ia sama sekali tidak berani.


‘Ada apa ini? Seperti ada yang menahan tubuhku. Aku tidak berani membuka mataku karena masih takut dengan guncangan yang disebabkan benda aneh ini,’ batin Ara, yang tak lama kemudian, benda ini pun berhenti bergerak.

__ADS_1


Ara masih saja merasa penasaran, dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Perlahan, ia membuka matanya dan melihat Reza yang sudah berada di hadapannya. Reza menahan tubuhnya yang hampir jatuh karena guncangan tadi. Tatapan Reza berbeda dengan tatapannya waktu itu. Ara menatapnya dengan bingung. Kini, jarak di antara mereka sangatlah dekat, sehingga membuatnya merasakan canggung.


__ADS_2