Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Hadiah Terindah


__ADS_3

‘Tunggu! Sepertinya ... ada yang aneh!’ batinnya, yang spontan langsung membuka handphone-nya untuk memastikan tanggal saat ini.


Reza sangat terkejut, karena hari ini adalah hari ulang tahun Ara, tetapi ia tidak memberikan apa pun padanya. Malah Ara yang memberikan sebuah permen padanya.


‘Aku harus memberikan sesuatu untuknya!’ batin Reza, tetapi bingung harus memberikan apa pada Ara.


“Gue harus ngasih apa?” guma Reza dengan lirih.


Pasalnya, Reza sama sekali tidak pernah memberikan hadiah pada orang lain, selain ibunya. Bahkan, memberikan ayah saja, ia tidak pernah.


“Gue harus nanya sama bunda nanti,” lirih Reza, sembari menyemangati dirinya sendiri.


***


Saat ini, Ara sedang mengerjakan PR-nya di dalam kamar. Ia berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan tugas, yang diberikan gurunya.


‘Aku ingin menunjukkan, kalau aku bukanlah orang desa yang bisa dengan mudahnya diremehkan!’ batin Ara, sembari tetap fokus untuk melakukan pekerjaannya.


Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamarnya. Ara yang tegang karena merasa paranoid, langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata yang masuk ke dalam kamar Ara adalah Bisma. Ia menghampiri Ara, dengan membawa sesuatu di tangannya.


‘Bisma? Bawa apa dia?’ batin Ara, benar-benar sangat penasaran dengan apa yang Bisma bawa.


Bisma melemparkan setangkai mawar merah ke atas meja Ara, membuat Ara bingung sekali dengan perlakuan Bisma, yang tiba-tiba saja seperti itu. Ara merasa ada yang aneh pada Bisma.


“Kenapa? Kok dilempar sih?” tanya Ara bingung, Bisma masih terlihat dingin sama seperti biasanya.


Merasa tidak ada jawaban dari Bisma, Ara pun kembali bertanya. “Ini maksudnya apa?” tanya Ara, Bisma hanya menatapnya dengan tatapan datar.


“Pegang ... buat lo,” ucap Bisma datar, sembari menyedekapkan tangannya.

__ADS_1


Bisma membuang pandangannya dari Ara, membuatnya terlihat seperti orang yang menyebalkan. Ara masih terdiam untuk menunggu jawaban darinya. Ia tidak ingin menerima pemberian orang lain secara asal.


‘Aku ingin tahu, alasan dia untuk memberikanku setangkai bunga ini,’ batin Ara, yang merasa penasaran dengan hal itu.


“Kalau Bisma gak mau ngasih tahu, ya udah ... Ara juga nggak mau nerima pemberian dari Bisma. Ini biarin aja lah , Ara nggak mau simpan!” gertak Ara padanya, yang semakin terlihat datar.


Bisma segera mengubah sikapnya. “Gue tau, lo gak pernah dikasih bunga sama cowok, ‘kan?” tanyanya asal, Ara menatapnya dengan sinis.


‘Kenapa dia selalu meremehkanku begini? Memangnya ... tampang sepertiku ini, tidak pernah bahagia?’ batin Ara, yang lalu membuang pandangannya dari Bisma. Ia hanya mengindahkannya saja, dengan merapikan semua alat tulis, untuk dimasukkan ke dalam tasnya.


Ara tak sengaja melihat tasnya yang sudah usang dan tak terurus. Ia baru sadar, sejak SMP, ia sudah tidak pernah lagi mengganti tasnya. Tiba-tiba saja Ara merasa sangat sedih, karena tas ini sudah mengingatkannya dengan ibunya, yang selalu menjahitkan tasnya jika sobek.


Kesadarannya kembali, Ara teringat dengan Bisma di sana. Buru-buru ia merapikan semuanya, khawatir Bisma mulai bertingkah yang tidak-tidak, sehingga membuat Ara tidak bisa membereskan barang-barang sebelum meninggalkan meja belajarnya.


Ara pun buru-buru meninggalkan Bisma, karena ia sedang malas berhubungan dengannya. ‘Bisa-bisa, semua ilmu yang kudapatkan menjadi buyar karenanya!’ batin Ara, benar-benar sangat kesal dengan Bisma.


“Happy birthday, Ra!” ucap Bisma tiba-tiba, membuat langkah Ara terhenti karenanya.


Karena melihat niat baik Bisma, Ara pun tersenyum sembari tetap membelakangi Bisma. Ara kembali bersikap datar seperti tidak ada apa pun. Ara langsung membalikkan tubuhnya ke hadapan Bisma, dan menatapnya dengan datar.


“Tau dari mana kalau hari ini Ara ulang tahun?” tanya Ara penasaran.


‘Aku baru beberapa hari mengenalnya, tapi ... aku merasa sudah lama kenal dengan Bisma. Sampai dia mengetahui kalau hari ini, aku berulang tahun,’ batin Ara yang benar-benar tidak menyangka dengan hal itu.


Sikap Bisma langsung berubah, seperti orang yang sedang bingung, yang tak tahu harus berkata apa lagi. Ia tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya pada Ara, karena ia tidak ingin Ara berpikir hal yang macam-macam tentangnya.


Ara pun memandangnya dengan tatapan datar, karena Bisma sama sekali tidak mengatakan apa pun.


“Udahlah, gue mau keluar dulu!” tepis Bisma, yang nampak seperti tidak ingin Ara mengetahuinya.

__ADS_1


Bisma benar-benar meninggalkan Ara dengan cepat. Ara memandang Bisma sampai ia menghilang di balik pintu. Ara hanya bisa tersenyum, karena ia tersentuh dengan kejutan yang Bisma berikan ini.


‘Ulang tahun ini, tidak seburuk yang aku pikir. Mungkin karena Bisma yang sudah membuatnya terlihat menjadi istimewa. Walau sikapnya tidak keruan seperti itu, aku akhirnya mengerti ... Bisma tidak buruk juga, untuk ukuran seorang kakak,’ batin Ara, benar-benar sangat senang melihatnya.


Ara melihat kembali ke arah bunga mawar yang Bisma berikan tadi. Ia terkejut, karena melihat ada sebuah kotak di sebelah mawar tersebut.


Ara memandangnya heran. ‘Kenapa ada sebuah kotak di sebelahnya? Bukankah ... Bisma tadi hanya memberikanku setangkai bunga saja? Kenapa bisa ada kotak ini di sini?’ batin Ara bingung.


“Ini punya siapa ya?” lirih Ara bertanya-tanya, sehingga ia menjadi sangat penasaran dengan isi dari kotak itu.


“Apa ... Ara buka aja ya kotaknya?” Ara berpikir demikian.


‘Aku khawatir jika kotak ini bukan milikku. Aku jadi harus mengemasnya lagi nantinya. Tapi ... ini ada saat Bisma meninggalkan ruangan ini. Apa ... Bisma sengaja meletakkan ini di sini?’ batin Ara, yang benar-benar sangat mempertimbangkannya.


Sejenak Ara memandang ke arah kotak tersebut, dan akhirnya memutuskan.


“Buka aja lah!”


Ternyata rasa penasaran Ara lebih tinggi dari rasa ragunya. Ia membuka kotak misterius itu. Betapa terkejutnya ia, karena yang ia lihat adalah sebuah gawai beserta alat yang Reza miliki tadi. Ara senang sekali melihatnya.


‘Apa ini untukku, atau ... Bisma hanya lupa membawanya, saat sedang berbincang denganku tadi?’ batin Ara, masih penasaran.


“Wah ... handphone-nya bagus banget!” Ara sangat bersemangat melihatnya. Ia pun melihat kembali isi dari kotak tersebut, dan membuka seluruh bagiannya.


Ara kembali terkejut, karena melihat sepucuk surat yang terjatuh dari dalam kotak ini. Ara pun mengambilnya untuk kemudian ia baca.


“Selamat ulang tahun, Arasha. Simpan baik-baik ya kado yang gue kasih. Kapan-kapan, gue ajarin cara pakainya. Maaf belum bisa ngasih yang lo suka. Setidaknya, mungkin alat ini akan berguna nantinya.”


-Bisma-

__ADS_1


Ara benar-benar terharu dengan hadiah yang Bisma berikan padanya.


__ADS_2