
Menyadari menyadari keresahan hati Ara, Bisma pun hanya bisa memandangnya saja. Kini ia mengerti apa yang Ara rasakan, sehingga ia tidak lagi merasa hal itu perlu Ara lakukan.
'Gue harus bilang ke Ara masalah ini nanti, biar Ara gak resah karena mikirin gue,' batin Bisma, yang merasa harus melakukan hal ini padanya.
"Berarti si Bisma boleh minjem catetan PR lo dong, Ham? " tanya Morgan, membuat lamunan Bisma buyar karenanya.
"Gak, gue pelit sekarang!" bantah Ilham, yang tidak ingin memberikan contekan lagi pada Bisma.
Bisma tertawa kecil, "Sialan kalian," gumamnya.
Mereka pun tertawa kecil, karena merasa hal ini sangatlah lucu bagi mereka. Morgan langsung memandang ke arah Ara, sehingga membuat Ara memandangnya juga. Mereka saling melontrakan senyum, karena Morgan tahu inilah yang Ara inginkan.
"Sudah puas sekarang?" bisik Morgan, Ara pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dengan perasaan yang bahagia.
"Ra, asal lo tau aja ya. Kakak lo ini dari kelas 1 sampai sekarang tuh gak pernah absen untuk nyontek ke Ilham. Juara 3 itu juga pasti juara palsu," seloroh Morgan di hadapan Ara, membuat Bisma merasa malu mendengarnya.
"Sial, kenapa harus dibuka segala sih?" gerutu Bisma, Ara dan Ilham tertawa mendengarnya.
"Jadi Bisma juara 3?" tanya Ara, yang cukup terkesima dengan Bisma yang walaupun mencontek, tetap menyandang peringkat 3 di kelasnya.
"Ya, hasil nyontek ke Ilham," seloroh Morgan lagi, Bisma hanya diam memandangnya dengan sedikit kesal.
"Ya udah si, lihat nih satu setengah tahun lagi, gue bakalan balap kalian si rangking 1 dan rangking 2!" ujar Bisma dengan semangat.
Mata Ara membulat tak percaya, karena ternyata Morgan dan Ilham adalah si pemegang rangking 1 dan 2 di kelas mereka. Ara jadi teringat dengan Ilham yang berusaha keras untuk merebut posisi rangking 1 dari dirinya, waktu mereka masih tinggal di desa.
__ADS_1
"Ilham rangking 1?" tanya Ara tak percaya dengan pencapaian yang Ilham lakukan.
"Morgan yang rangking 1. Dari dulu gue selalu kalah sama lo dan Morgan! Sial banget nasib gue, selalu jadi yang kedua dari kalian!" gerutu Ilham, semakin membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
Ara memandang ke arah Morgan, tak menyangka dengan apa yang Morgan miliki.
'Morgan kelihatannya santai, baca novel mulu, tapi kok tetep juara 1 ya?' batin Ara yang tidak menyangka dengan hal itu.
Morgan mengerlingkan sebelah matanya, membuat wajau Ara memerah melihatnya. Bisma menyadari apa yang Morgan lakukan, sehingga membuatnya sedikit terbakar api cemburu.
Mereka pun melanjutkan untuk bercengkrama bersama dengan berbagai topik pembicaraan yang ada. Ara terlihat senang karena setidaknya ia sudah melihat mereka semua berbaikan.
Bisma juga sudah terlihat tersenyum dan tertawa ketika berbincang dengan Ilham dan juga Morgan. Ara memandang mereka dengan sendu, hanya karena dirinya mereka hampir saja kehilangan tali persahabatan mereka.
'Aku egois nggak sih udah bikin mereka kayak begini? Mereka hampir aja musuhan gara-gara aku, tapi syukur sekarang mereka sudah seperti sebelumnya,' batin Ara yang merasa sangat senang, melihat mereka kembali akrab seperti biasanya.
Hari pun sudah semakin sore, sehingga membuat Ara, Morgan, dan juga Bisma kembali pulang ke rumah mereka. Namun perdebatan kembali terjadi sebelum mereka pulang ke rumah.
Ara berjalan bersama Bisma menuju ke arah mobil Bisma, dengan Morgan yang melihat dan memandang mereka dari arah belakang. Morgan terbakar api cemburu, karena melihat Ara yang berjalan bersama dengan Bisma. Dengan segera Morgan pun menarik lengan Ara, sehingga Ara menjadi berjalan bersamanya.
Ara sempat terkejut dan memandang ke arah Morgan, yang saat ini hanya memandangnya dengan datar. Ara sangat mengerti bahwa Morgan saat ini sedang merasakan cemburu dengan Bisma.
Melihat reaksi Morgan yang seperti itu, Ara pun bingung karena harus pulang bersama dengan siapa.
'Aku pulang bareng siapa ya? Bisma 'kan satu tempat tinggal sama aku. Tapi kalau aku pulang sama Bisma, Morgan pasti bakalan marah sama aku dan Bisma. Jadi gimana?' batin Ara resah, bingung harus pulang bersama dengan siapa.
__ADS_1
Menyadari Morgan yang menarik Ara dari sisinya, Bisma pun memandang sinis ke arah mereka yang berada di belakangnya. Bisma melangkah Kembali menuju ke arah arah dan juga Morgan.
"Kenapa berhenti?" tanya Bisma kepada Ara, tetapi Ara hanya diam saja sembari melirik ke arah Morgan yang sedari tadi memandangnya dengan datar.
"Biarin Ara pulang bareng sama gue," ujar Morgan membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.
"Lho kenapa harus sama lo? Ara itu satu tempat tinggal sama gue. Ngapain lo repot-repot nganterin dia balik? Biar Ara bareng sama gue," tolak Bisma, sontak membuat Morgan memandangnya dengan sinis.
"Iya bener kok satu tempat tinggal sama Ara, tapi 'kan Ara berangkat bareng gue dan lo berangkat sendiri. Lagipula Ayah lo udah nitipin Ara ke gue, dan gue harus balikin dengan selamat. Berangkat bareng gue, pulang juga harus bareng gue," sanggah Morgan.
Memang benar apa yang mereka berdua katakan. Di satu sisi Bisma benar mengatakan hal seperti itu, karena mereka tinggal satu rumah tetapi di sisi lain Morgan juga benar mengatakan hal demikian karena ini menyangkut tanggung jawab dirinya terhadap ayah Ara, yang sudah menitipkan Ara padanya.
Morgan sangat paham kalau Bisma mungkin sudah mengetahui hubungan dirinya dengan Ara. Jadi ia tidak perlu repot-repot mengatakan kepada Bisma lagi mengenai hal ini.
"Nggak usah lo nggak usah repot-repot antar Ara lagi. Nanti tinggal gue bilang sama papa kalau Ara pulang bareng sama gue," tolak Bisma semakin membuat Morgan jengkel mendengarnya.
"Nggak bisa gitu. Ini hubungannya sama tanggung jawab. Gue harus bisa tanggung jawab dengan apa yang udah dititipin sama gue. Gue harus bisa ngejaga Ara dan kalau gue izin ngajak Ara keluar, gue harus balikin Ara dengan selamat," ujar Morgan yang membuat Bisma juga kesal mendengarnya.
Sementara itu, Ara yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa memandang ke arah mereka secara bergantian. Ia tidak tahu harus memilih antara Morgan atau Bisma. Namun yang ia tahu, dia tidak mau pulang dengan berjalan kaki.
"Tanya sama Ara, dia mau pulang bareng siapa?" ujar Morgan, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
"Hah?" gumam Ara bingung harus mengatakan apa di hadapan mereka.
Morgan memandang tegas ke arah Ara. "Lo mau pulang sama siapa?" tanyanya, semakin membuat Ara bingung karenanya.
__ADS_1
'Bagaimana ini? Ara harus pulang sama siapa? Bisma satu arah sama Ara, karena rumah kita barengan. Kalo Morgan harus muter dulu buat nganterin aku,' batin Ara kebingungan.