Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Masalah Baru


__ADS_3

“Kamu si-siapa?” tanya Ara yang mulai resah, tak tahu harus berbuat apa.


“Gue Ilham. Akhirnya ... kita ketemu lagi di sini ya, gadis culun!” ujarnya dengan nada seperti orang yang dendam dengan Ara.


Ilham menyeringai sinis ke ara Ara, membuat Ara menjadi sangat khawatir, jika Ilham memperlakukannya dengan buruk lagi seperti waktu itu.


‘Kenapa ada dia di sini?’ batin Ara, yang benar-benar menjadi sangat takut karenanya.


Karena sudah sangat ketakutan, Ara pun langsung saja berlari meninggalkannya di sana.


‘Aku kesal! Kenapa dia harus pindah ke tempat ini juga? Kenapa dunia hanya selebar daun kelor bagiku? Aku tidak bisa berkutik lagi sekarang. Ada dia yang senang sekali menyebutku dengan gadis culun, atau anak haram. Aku khawatir, satu sekolah ini mengetahui aib dari ibuku. Aku juga tidak ingin menyeret Bisma ke dalam masalah ini. Sudah cukup, biar aku saja yang merasakan. Asal jangan Bisma,’ batin Ara, benar-benar sangat takut jika Bisma sampai terseret rumor seperti itu di sekolah ini.


Karena sudah khawatir dengan keadaan, Ara pun kembali lagi menuju ke kelasnya. Ia sangat tidak ingin sampai bocah itu melihat ke mana dirinya pergi. Ara selalu waspada dengan keadaan sekelilingnya, sampai setiap Ara melangkah, ia pun selalu menoleh ke berbagai arah.


Ara pun masuk ke dalam ruangan kelas. Langkahnya terhenti, karena melihat Reza yang hampir membuka jersey-nya. Hal itu membuat Ara merasa sangat malu.


“Ahh ....” Ara menahan jeritannya, sembari menutupi wajahnya dan berbalik membelakangi Reza.


Sementara itu Reza terlihat bingung di sana. Ia melihat Ara yang sudah membelakanginya, sembari menutupi wajahnya. Walaupun sempat berpikir sejenak, Reza pun tersadar kalau dirinya sudah membuat Ara malu. Karena sudah menyadarinya, Reza pun tidak jadi membuka pakaiannya, lalu mendekati ke arah Ara.


“Siti ....” gumam Reza, tetapi ia masih saja menjerit lirih. Reza pun menepuk-nepuk bahu Ara, membuat agar Ara tersadar dan tidak berteriak lebih keras lagi. “Siti ...,” ucap Reza, Ara terkejut dan spontan berbalik, membuat Reza juga ikut terkejut karena reaksinya.


“Lo kenapa?” tanya Reza, sembari melontarkan senyuman ke arah Ara.


Ara terlihat sedang menghela napas, dan mengelus dadanya. Ia menatap ke arah Reza dengan sinis. “Gak papa, kok!” tukas Ara dengan singkat, agar Reza tidak membahasnya lagi.


‘Aku sangat malu, jika benar Reza sampai membuka bajunya tadi,’ batin Ara, yang sangat malu jika semua itu benar-benar terjadi di hadapannya.

__ADS_1


Reza terlihat sedang memandangi Ara dengan lekat. Terus-terang saja, Ara jadi merasa terusik dengan pandangan anehnya itu. Hal itu membuat Ara tidak ingin berlama-lama di ruangan ini. Sejujurnya Ara pun masih menyimpan rasa marah padanya, karena sudah membuat Bisma terluka dengan sengaja. Dengan segera Ara pun menyambar tasnya, dan berlalu pergi meninggalkan Reza di sana.


Reza yang melihat Ara pergi pun merasa sangat bingung. Namun, ia tidak bisa berbuat apa pun, mengingat dirinya yang masih merasa bersalah di hadapan Ara.


“Ara masih marah sama gue? Padahal dia udah janji, kenapa dia ingkar?” gumam Reza, tak mengerti dengan apa yang Ara pikirkan.


Ara pun segera meninggalkan kelas, dengan perasaan yang sangat sedih dan bimbang. Rasanya sangat sesak, karena hari ini beberapa kejadian terjadi.


‘Hari ini ... sungguh melelahkan. Aku tidak tahu, akan ada banyak tragedi di hari ini,’ batin Ara menyesali apa yang sudah terjadi hari ini.


Ara berjalan menuju ke arah parkiran sekolah, tempat Bisma memarkir mobilnya. Betapa kagetnya dirinya, saat melihat Bisma yang saat ini sedang dipapah oleh gadis yang tadi bersamanya itu. Tiba-tiba saja Ara merasakan sesak kembali, setelah melihat pemandangan ini.


‘Entah apa yang aku rasakan, aku hanya tidak bisa bernapas sejenak. Apakah ... aku mempunyai penyakit asma? Tapi ... rasa sesak ini terjadi, hanya saat aku melihat Bisma bersama dengan gadis itu,’ batin Ara, yang benar-benar merasa polos dengan hal ini.


Bisma dan Gladis bergerak menuju mobil Bisma, yang terparkir di hadapan mereka. Ara merasa sedih dan tidak percaya, karena ternyata Bisma juga tidak mau pulang bersamanya.


Mobilnya melaju pelan meninggalkan Ara di sana. Ara mendadak merasa sedih, tidak keruan karenanya. Ia hanya bisa menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Siti ....” panggil seseorang dengan nada yang lirih.


‘Suaranya terdengar seperti Reza,’ batin Ara, yang lalu menoleh ke arahnya.


Benar saja yang Ara pikirkan. Terlihat Reza di sana yang sedang menghampiri Ara dengan cepat, membuat Ara buru-buru menghapus air mata yang sempat menetes ke pipinya.


“Ngapain di sini?” tanya Reza, Ara berusaha bersikap seolah tak terjadi apa pun.


“Gak ngapa-ngapain, kok.” Ara berusaha menutupi semuanya, tetapi Reza pun menyadari bahwa Ara pasti merasakan sesuatu yang membuatnya seperti ini.

__ADS_1


“Pulang bareng gue, gimana?” tanya Reza membuat Ara bimbang mendengarnya.


Ara masih belum bisa banyak bicara dengannya. Ara berpikir kembali, kenapa dirinya bisa sampai marah seperti ini pada Reza.


‘Ya jelas marah, dong! Bisma jatuh, karena Reza, ‘kan?’ batin sebelahnya ikut membuat keadaan menjadi tambah kisruh. Ara kesal sekali dengan dirinya.


“Ti ...,” panggil Reza, membuat Ara terkejut. “Lo ... gak marah ‘kan, sama gue?” tanyanya terdengar ragu.


Ara hanya diam sembari memandangnya, ‘Harus kujawab apa?’ batinnya bingung.


Melihat Ara yang tak menjawab pertanyaannya, Reza pun hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


“Lo udah janji gak akan marah sama gue, ‘kan?” Reza pun menagih janjinya, membuat Ara kelimpungan jadinya.


Ara tak bisa mengucapkan apa pun. Lidahnya terasa kelu saat ini.


“Siti—”


“Aku gak marah kok!” Ara spontan saja memangkas ucapan Reza. Ia sama sekali tidak ingin hal ini berlarut-larut seperti ini. Ara pun harus segera pulang, karena hari sudah mulai gelap.


“Yaudah, ayo ... gue antar pulang,” ajak Reza setengah memaksa, sembari terlihat meraih tangan Ara.


Ara yang tak mengerti, hanya bisa pasrah dengan apa yang akan Reza lakukan padanya.


Belum sempat Reza membawa Ara pergi, tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Ara dengan cepat, sebelum Reza sempat meraih tangan Ara. Mendadak sekali ia melakukannya, membuat Ara sampai ketar-ketir karena terkejut.


“Ara, biar gue yang antar pulang,” ujar orang tersebut, membuat Ara menoleh ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2