
Ara tak memedulikan ucapan Bisma, dan hanya bisa tersenyum di hadapannya. Ia merasa sangat senang, karena Bisma sudah melakukan yang terbaik untuknya.
“Bisma ... pokoknya Ara makasih banget sama Bisma,” ujar Ara, Bisma hanya bisa memandangnya dengan datar.
“Gue masih marah sama lo,” ujar singkat Bisma, Ara memandangnya dengan heran.
“Lho, kenapa Bisma marah sama Ara?” tanya Ara, yang memang tidak merasa bersalah di hadapan Bisma.
Bisma menghela napas panjang, “Kenapa lo gak makan masakan yang gue masak buat lo?” tanya Bisma balik, Ara mendadak ingat dengan kejadian pagi tadi.
“Anu, maafin Ara ya Bisma ... Ara tadi pagi gak sempet makan. Itu karena Ara terlambat bangun,” ujar Ara, berusaha untuk meminta maaf di hadapan Bisma.
Bisma masih saja kesal, lalu segera meninggalkan Ara di sana seorang diri.
“Bisma!” pekik Ara, tetapi Bisma masih saja melangkah ke dalam rumah, tak menghiraukannya.
Karena kesendirian Ara saat ini, ia jadi teringat dengan kejadian hari ini. Ada banyak sekali peristiwa, yang bisa membuat Ara merasa sangat sedih.
Morgan melakukan kesalahan padanya, sehingga ia merasa sangat terkekang dengan hubungan ini. Belum lagi Reza yang menyatakan perasaannya padanya, sehingga membuat Ara merasa sangat bingung jadinya.
“Reza udah bilang sama Ara, dia bakalan nunggu Ara putus sama Morgan. Sekarang Ara udah putus sama Morgan, jadi ... gimana sekarang? Ara masih belum bisa buka hati untuk dia. Lagipula, Ara kayaknya gak suka sama Reza lebih dari teman,” gumam Ara, yang malah memikirkan hal yang seharusnya tidak di tempat ini.
__ADS_1
“Ra!” pekik Bisma dari arah pintu masuk, membuyarkan lamunan Ara saat ini.
Ara memandang ke arah Bisma, yang saat ini sedang memandang ke arahnya. Ia segera berlarian ke arah pintu masuk rumah, untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
Karena hari ini Ara tidak makan sama sekali, perutnya menjadi sangat sakit. Ia sampai memperlambat langkahnya, karena merasakan sakit pada perutnya.
‘Aduh ... hari ini Ara gak makan, ya? Cuma makan satu sendok aja tadi, makanan dari Reza. Perut Ara sakit banget,’ batinnya, yang memegangi perutnya yang terasa sangat sakit itu.
Bisma melihat gerak-gerik Ara yang sangat aneh, membuatnya dengan sigap menghampiri Ara yang sedang berdiri di dekat sofa.
“Ra, kenapa?” tanya Bisma, ketika sudah sampai di hadapan Ara.
Ara berusaha untuk tegar, “Ara gak apa-apa, kok,” sanggahnya, Bisma sudah bisa menduga apa yang Ara rasakan.
“Lo pasti sakit perut lagi, ‘kan?” bidik Bisma, Ara memandangnya dengan tatapan yang sedikit kaget.
Karena teringat dengan janjinya pada Bisma untuk tidak menyembunyikan apa pun darinya, Ara pun hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.
Bisma merasa khawatir, lalu segera mengajaknya untuk ke rumah sakit dan memeriksakan keadaannya.
“Ayo ke rumah sakit! Gak ada kata penolakan!” ajak Bisma, Ara menahan Bisma agar tidak menarik tangannya.
“Gak ada kata gak mau! Harus ke rumah sakit, biar kita periksa lo sebenernya sakit apa, sih!” ujar Bisma yang memaksa Ara untuk melakukan keinginannya.
“Ara beneran gak apa-apa. Jangan bawa Ara ke rumah sakit!” tolak Ara, Bisma merasa sangat lelah menasehatinya.
“Ya udah, terserah lo!” bentak Bisma, yang lalu segera pergi menuju ke arah kamarnya.
Ara memandang kepergian Bisma dengan sendu, karena merasa Bisma sangatlah pengertian padanya. Ia jadi tidak enak sendiri, karena sudah menolak apa yang Bisma perintahkan untuknya.
“Aku gak enak karena udah nolak Bisma. Padalah aku udah janji, gak akan mau nolak kalau menyangkut tentang makan dan kesehatan, karena itu buat kebaikan aku sendiri,” gumam Ara, merasa bersalah pada Bisma.
Namun, Ara hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, lalu segera melangkah ke arah kamarnya yang berada di lantai atas rumah ini.
Setelah sudah selesai membersihkan dirinya, Ara pun membaringkan tubuhnya karena terlalu lelah berjalan. Walaupun baru setengah jalan, tetapi Ara merasakan rasa sakit yang cukup terasa pada kakinya.
__ADS_1
Sudah lama tidak berjalan kaki, Ara sampai tidak bisa menahan rasa lelahnya. Tubuhnya mulai terasa sakit dan pegal, sehingga membuat langkahnya terganggu.
“Aduh ... kaki Ara kenapa baru kerasa sakit sekarang? Badan Ara pun pegal-pegal,” gumamnya, merasa sangat sedih dengan keadaannya saat ini.
Perlahan Ara pun membaringkan tubuhnya ke atas ranjangnya. Walaupun sudah pelan-pelan melakukannya, Ara masih merasakan sakit pada bagian perut dan bagian tubuh yang lainnya.
“Aduh ... berasa banget sakitnya,” gumam Ara, yang berusaha untuk membaringkan tubuhnya dan mencari posisi yang sesuai.
Kejadian hari ini benar-benar sangat membuatnya rapuh. Beruntung ia bertemu dengan Bisma, sehingga ia tidak sampai harus jalan kaki ke rumahnya.
Baru saja membaringkan tubuhnya, Ara sudah terganggu dengan dering handphone-nya yang berdering dengan keras. Hal itu membuatnya harus bangkit lagi untuk melihat siapa yang menghubunginya malam-malam seperti ini.
“Kenapa harus ada yang nelepon, sih?” gumam Ara, yang masih berusaha untuk bangkit dari ranjang tidurnya.
Ara mengambil handphone-nya yang ia letakkan di atas meja. Ia meraihnya, lalu segera melihat siapa yang menghubunginya.
Sedikit terkejut Ara saat ini, karena ternyata yang menghubunginya adalah Morgan. Ia menghela napasnya dengan panjang, karena masih merasa memiliki hubungan dengan Morgan.
“Morgan, ya?” gumam Ara, yang lalu menerima telepon dari Morgan.
“Halo, Morgan?” sapa Ara, tetapi Morgan hanya diam saja mendengarnya.
Setelah menunggu beberapa detik, Morgan tak kunjung menjawab sapaannya. Hal itu membuat Ara menghela napasnya dengan panjang.
“Morgan, kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, lebih baik kita—”
“Ra ... gue kangen sama lo,” ujar Morgan, memangkas ucapan Ara.
Mendengar ucapan Morgan, Ara hanya bisa menunduk sendu, tidak paham lagi harus melakukan apa. Kali ini, Ara yang hanya bisa diam di hadapan Morgan.
Beberapa waktu mereka hanya bisa diam, Ara tak bisa berkata apa pun, dan hanya bisa mendengarkan deru napas Morgan yang sepertinya terdengar sangat berat.
Karena merasa sudah lelah, Ara pun memejamkan matanya dan tidak kuat menahan rasa kantuk dan sakitnya.
“Ra, gue gak mau hubungan ini berakhir. Gue beneran gak bisa kalau gak sama lo. Mungkin itu terdengar bucin banget, tapi ... gue gak peduli! Gue juga gak mau kehilangan lo!” ujar Morgan, yang tidak mendapatkan respon apa pun dari Ara.
__ADS_1
Morgan terdiam sejenak, karena tidak merasa direspon ia pun menjadi heran.
‘Ara kenapa gak respon? Apa dia beneran gak mau ngomong sama gue?’ batin Morgan, yang sudah terlalu takut akan hal itu.