Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Tidak Akan Membiarkan


__ADS_3

‘Apa benar ... perasaanku ini adalah perasaan yang murni antara laki-laki dan perempuan, atau hanya sekadar rasa penasaran saja? Secara, aku baru bertemu dengan orang yang mempunyai sifat berbanding terbalik dengan sifatku. Aku merasa ... dia selalu bisa membuatku gemas, dengan sikapnya yang polos. Kebanyakan gadis yang kujumpai, mereka selalu bersikap agresif dan terlalu posesif padaku. Tapi ... Ara berhasil membuat diriku yang malah melakukan hal itu padanya. Ia selalu tidak peka, membuatku kadang kesulitan untuk mengungkapkan perhatianku padanya. Entah itu hal yang bagus, atau malah sebaliknya. Mengingat rivalku yang sepertinya juga mengenal Ara dengan dekat, dan terlihat seperti sedang mendekati Ara,’ batinnya lagi, benar-benar memikirkan hal tersebut.


Bisma tiba-tiba saja teringat dengan Reza, yang membuatnya merasa tersingkirkan.


“Reza ... gue gak akan biarin lo deketin Ara!” lirihnya, sembari sedikit meremas foto yang sedang ia genggam.


***


Pagi ini, Ara segera melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Di sana, ternyata sudah ada ayahnya yang mungkin saja sudah menunggunya dan juga Bisma. Ara terdiam sesaat, setelah melihat ayahnya yang juga sedang melihat ke arahnya. Lelaki paruh baya itu pun melontarkan senyumnya ke arah Ara, membuat Ara merasa agak canggung karenanya.


“Pagi, Ara ...,” sapanya dengan penuh kelembutan.


Ara tersenyum paksa ke arahnya, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


“Lho ... Tuan sudah sembuh?” tanya Ara dengan kaku.


Ara masih tidak bisa memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’. Ia masih belum terbiasa melakukannya, sehingga ayahnya melontarkan senyumannya pada Ara.


“Sudah lebih baik. Oh ya, jangan panggil saya dengan sebutan itu. Panggil aja ... Papa,” pintanya dengan lembut.


Ara memandang dalam ke arahnya, ‘Apa ... dia benar-benar menyayangiku, sama seperti perasaan sayangnya pada Bisma?’ batinnya, membuat Ara agak aneh jadinya.


“Agak sulit sih ...,” gumam Ara dengan perasaan yang ragu, membuat lelaki paruh baya itu kemudian tertawa kecil ke arah Ara.


“Papa gak akan maksa kamu kok ... sebisanya saja , ya?” lirihnya.


‘Tidak ada yang salah dengan yang ia pinta. Aku ... memanglah anaknya. Hanya saja ... berbeda dengan Bisma yang memang merupakan anak kandungnya yang sah, batin Ara yang memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Bisma datang melewati mereka. Ia sempat berhenti sejenak dan memandang sinis ke arah mereka, lalu ia pun pergi tanpa mengucap sepatah kata pun.


Ara memandangnya dengan iba, ‘Entah apa yang menjadi dasar rasa iba diriku padanya. Aku jadi teringat malam tadi. Kenapa Bisma bisa-bisanya ingin berbuat macam-macam padaku?’ batin Ara, merasa sangat heran dengan keadaan.


“Bisma kenapa ...,” lirih Ara bingung, melihat sikap Bisma yang seperti itu.


“Bisma memang seperti itu. Papa memaklumi sikap Bisma, karena Papa sadar ... Papa juga melakukan kesalahan besar yang mungkin tidak bisa dimaafkan. Papa membiarkan Bisma melakukan apa saja yang dia mau, karena ... cuma dia satu-satunya anak laki-laki yang akan mewarisi semua kekayaan Papa. Ditambah lagi, memang ... hanya Bisma saja yang ada.”


Lelaki itu tiba-tiba saja menyambar ucapan Ara. Hal itu membuat Ara merasa sangat sendu mendengarnya.


‘Memang benar ucapannya, aku hanya seorang anak hasil hubungan gelapnya. Aku juga tidak mungkin mewarisi seluruh kekayaannya. Dan lagiv... aku juga tidak berniat untuk merebutnya dari Bisma. Sudah untung dia mau menampungku di sini. Kalau tidak ... aku tak tahu lagi harus bagaimana. Keluarga ibuku, tidak pernah peduli padaku dan juga ibuku. Aku akan sangat berterima kasih pada ayahnya Bisma, karena sudah berbaik hati memberikan tumpangan padaku, dan juga melengkapi semua kebutuhan dan pendidikanku,’ batin Ara, yang merasa sangat bersyukur akan hal itu.


“Pewarisnya adalah Bisma, tapi bukan berarti kamu tidak bisa meminta bagian kamu. Kamu akan dibiayai sampai kamu menyelesaikan sekolah, dan bertemu dengan laki-laki idaman kamu. Setelah menikah, kamu tidak akan tinggal di sini lagi. Tapi, sesekali ... kamu dipersilahkan untuk tinggal di rumah ini. Dan seluruh pembiayaan mengenai diri kamu, akan menjadi tanggung jawab suami kamu nanti,” tambahnya, membuat Ara paham dengan situasinya.


‘Aku tidak bisa menuntut lebih dari ini. Aku hanya ingin mengejar cita-citaku dan membuktikan saja pada ibu,’ batin Ara, merasa yang memang tidak pernah menginginkan apa pun dari ayahnya.


“Nanti, biar Papa yang antar kamu, ya. Sepertinya ... Bisma sudah berangkat,” ujarnya.


Ara mendelik kaget mendengarnya, ‘Aku bahkan tidak berpikir sampai sejauh itu. Bisma kurang ajar! Beraninya meninggalkanku,’ batinnya kesal.


“Oke.”


Ara melanjutkan sarapannya. Setelah selesai, Ara bersama ayahnya bergegas untuk menuju ke arah mobil.


Di sana, terlihat Bisma yang sedang menyender pada mobilnya, sembari memainkan handphone. Ara sampai terkejut melihatnya.


‘Kenapa dia belum juga berangkat? Aku bahkan sudah berpikiran buruk tentangnya tadi,’ batin Ara, merasa bingung dengan keadaan.

__ADS_1


Bisma yang menyadari kedatangan Ara dan juga ayahnya, langsung berusaha bersikap sempurna di hadapan mereka, dan juga tak lupa ia menyimpan handphone-nya di dalam saku jaketnya.


“Aku pikir, kamu udah jalan,” ujar Ara dengan lirih, merasa tak enak hati padanya. Ia masih saja diam sembari menatap sinis.


“Biar Bisma yang anter Ara,” ujar Bisma dengan datar.


Bisma langsung saja menarik tangan Ara, tanpa meminta persetujuannya. Ayahnya bergeming, melihat perlakuan Bisma, sama seperti yang ia katakan tadi. Ia tidak pernah melarang Bisma, dan membiarkan Bisma memilih jalannya sendiri.


Akhirnya, Ara bersama Bisma pergi meninggalkan ayahnya di sana. Ara melambaikan tangan pada ayahnya, dan ia kemudian membalas lambaian tangan dari Ara.


Ara tersenyum mendengarnya, ‘Ternyata ... seperti ini rasanya mempunyai seorang Ayah,’ batinnya.


***


Bisma tiba-tiba saja mengerem mendadak mobilnya, sehingga membuat Ara hampir membentur bagian depan mobil. Ara pun merintih kesakitan karena kejadian ini. Bisma memang terkadang tidak punya logika.


‘Dia bertindak seenaknya saja. Apa dia tidak memikirkan perasaanku?’ batin Ara, merasa sangat kesal dengan keadaan.


“Aww ... sakit tau!” ujar Ara geram.


Bisma hanya bergeming, tak berbicara sama sekali. Ia langsung menoleh dan menatap Ara dengan pandangan yang tajam, membuat Ara sampai melotot kaget karenanya.


“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Ara tak kalah sinis dengannya.


“Mau tau kenapa?” Bisma bertanya balik pada Ara.


Ara semakin heran dengan yang sedang Bisma pikirkan. Bisma pun menoleh ke arah depan, membuat Ara ikut menoleh juga ke arah yang sedang Bisma lihat.

__ADS_1


Terlihat seseorang dengan motornya sedang berhenti di depan mereka. Ia membuka helmnya, dan terlihat Reza yang sedang menghampiri mereka.


__ADS_2