
Karena merasakan bingung yang menerpanya, Bisma pun mengunjungi ibunya yang kini berada di rumah sakit jiwa. Ia membawa seikat bunga mawar merah, untuk ia berikan pada ibunya.
“Bunganya indah banget,” lirih ibu Bisma yang sudah terdengar dari depan pintu ruangan kamarnya.
Bisma yang mendengarnya, membuka pintu secara perlahan untuk mencoba melihat suasana di sekitar ibunya.
Saat ini, terlihat ibunya yang sedang membelakanginya, sembari memegang setangkai mawar. Ternyata, mereka semua sudah mengetahui kedatangan Bisma. Mereka hanya bisa menunduk, setelah melihat ke arah Bisma yang berjalan ke arah ibunya. Tidak heran kenapa mereka terlihat sangat takut pada Bisma.
Bisma memang bukanlah orang yang mudah diatur oleh kedua orang tuanya. Ia memiliki jalannya sendiri dan ia harus mengakui, bahwa dirinya bukanlah sosok anak yang bisa dibanggakan. Ia hanya bisa menghamburkan harta kekayaan ayahnya saja. Semua hal yang ia inginkan, harus selalu ia dapatkan.
Kendati demikian, lain halnya jika Bisma berhadapan dengan ibunya. Ia selalu tidak tega jika melihat ibunya tersakiti, bahkan dengan ayahnya sendiri.
“Mah ....” Bisma memanggilnya lirih, dengan langkah yang terhenti tepat di belakang ibunya.
Ia berbalik dan melihat ke arah Bisma, kemudian melemparkan senyuman manis ke arahnya. Bisma sangat menyukai senyuman indahnya itu.
Goresan luka yang mungkin sampai saat ini masih belum bisa pulih seutuhnya, membuat Bisma merasa bersalah kembali atas kesalahan yang ayahnya perbuat kepada ibunya. Belum lama sejak ayahnya memberitahukan semua kebenaran padanya dan ibu, ibunya menjadi bukan dirinya setelah mendengar pengakuan dari ayah mengenai hal bejat yang ayahnya lakukan. Ternyata, selama 17 tahun ini, Bisma sudah lengah. Ia tidak bisa menjaga ibunya dengan benar, sampai ibu harus menahan semua luka ini sendirian.
Terlihat jelas kerutan di wajahnya. Pipinya pun nampak basah, mungkin karena sisa menangisi hal yang sangat pedih baginya. Tak bisa Bisma pungkiri, kepahitan ini ternyata terjadi pada mereka, membuat ibunya harus menanggung semua hal pahit dalam hidup mereka.
Namun Bisma tetap harus bersyukur, karena kesalahan ini, ia jadi bisa bertemu dengan Ara. Ara, orang yang katanya adalah adiknya.
Bisma pun menghampirinya dan duduk bersimpuh di hadapannya, sembari menyodorkan seikat mawar merah padanya yang sudah ia persiapkan khusus untuknya. Ibunya sangat menyukai bunga. Karena itulah Bisma sampai membuat pekarangan indah di depan rumahnya, yang dipenuhi dengan bunga berwarna-warni. Itu semua ia lakukan untuk ibunya.
“Apa ini?” tanya Ibu dengan senyuman terkulum. Betapa manisnya Ibu dengan senyuman itu.
__ADS_1
“Ini bunga yang Bisma tanam sendiri di rumah. Pasti Mama suka.” Bisma menjawab pertanyaannya dengan senyuman. Ia mencoba menghirup aroma dari bunga tersebut, sampai ia memejamkan mata karena aromanya yang sangat harum.
“Harum.” Ia kembali membuka matanya dan melontarkan senyum yang sama pada Bisma.
Melihat ibunya tersenyum, Bisma pun merasa sangat sendu. Ia merasa tidak ingin membuat ibunya tersakiti kembali.
“Kalau Mama mau ... Bisma bisa bawain semua bunga yang ada di rumah, buat Bisma tanam di sini. Biar Mama bisa ngeliat bunga yang bermekaran setiap pagi dan sore,” ujar Bisma yang berusaha tegar saat mengatakan hal ini.
Bisma sama sekali tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang sangat kuat seperti ibunya.
“Mama mau kok. Bisma bisa menanam bunga?” tanyanya, Bisma hanya mengangguk pelan. “Bisma mau tinggal di sini sama Mama?” tanyanya lagi.
Pertanyaannya kali ini cukup sulit untuk Bisma jawab. Ia harus bertahan sebentar lagi untuk bisa mendapatkan semua harta yang ayahnya miliki, dan hidup bahagia bersama dengan ibunya. Bisma hanya tinggal menunggu waktunya saja, mengingat usianya yang sudah mulai dewasa dan juga ayahnya yang sudah mulai menua.
‘Aku harus membuat ayah mengakui diriku dulu. Aku harus belajar dengan giat, supaya aku bisa meneruskan perusahaan yang ayah kembangkan saat ini,’ batin Bisma yang hanya bisa melontarkan senyum ringan di hadapan ibunya.
“Kalian semua boleh tinggalin saya di sini?” pinta Bisma pada mereka, yang saat ini masih berdiri di belakang ibunya.
Bisma merasa sangat risih dengan kehadiran mereka. Ia juga tidak ingin mereka mengetahui masalah keluarganya lebih dalam.
“Baik, Den.”
Akhirnya, mereka pun pergi dari hadapan Bisma. Kini, Bisma bisa leluasa untuk menumpahkan rasa kesal di hatinya. Ditambah lagi Bisma pun tidak ingin mereka melihatnya menangis.
“Segera,” jawab Bisma atas pertanyaan ibunya sebelumnya.
__ADS_1
Bisma tidak tahu, harus berkata apa lagi. Entah mengapa, ia merasa sangat menyayangi ibunya itu. Ibunya sangat mengerti, lalu mengusap lembut kepala Bisma.
“Mah ... Bisma mau nanya sesuatu sama Mama,” ucap Bisma tanpa perlu menunggu lama lagi.
“Iya, Bisma mau nanya apa?” tanyanya, sepertinya sudah mulai bisa diajak untuk berbincang. Bisma harus mempersiapkan dirinya, agar tidak salah ucap.
“Ada teman Bisma, yang punya adik tiri dari ibu yang berbeda. Katanya, setiap dekat dengan adiknya, dia merasa ada hal yang gak biasa. Bukan seperti perasaan adik-kakak pada umumnya. Kalau mereka berdua pacaran, terus menikah, apa boleh?” tanya Bisma, tanpa berpikir panjang lagi.
Ibunya menatap sendu ke arah Bisma. “Cinta, gak bisa dipaksa. Mereka bisa bersama, dan gak ada larangan tentang itu,” ucapnya, membuat satu senyuman mengembang di pipi Bisma.
Namun, karena Bisma tidak ingin ibunya mengetahuinya, ia pun berusaha menutupi rasa bahagianya itu.
‘Ternyata benar, aku bisa bersama dengan Ara,’ batin Bisma, yang sangat senang dengan hal itu.
“Jadi, mama ngedukung mereka sepenuh hati?” tanya Bisma sekali lagi, untuk memastikan jawaban dari ibunya.
“Iya, Mama sudah mulai paham arti cinta. Daripada mereka berbuat sesuatu hal yang tidak pantas, lebih baik disatukan saja. Toh, mereka bukan satu darah walaupun satu bapak,” ucapnya, yang sepertinya diambil dari kisahnya sendiri.
‘Apa ... itu artinya, mama sudah tidak mempermasalahkan lagi tentang kesalahan yang ayah lakukan padanya? Apa ibu sudah bisa menerima takdirnya?’ batin Bisma memikirkan hal tersebut secara dalam.
Bisma pun mencengkram ibunya dengan semangat. “Bisma janji, secepatnya Bisma akan bawa Mama keluar dari sini dan tinggal sama Mama. Bisma janji, Ma!” ucap Bisma dengan sangat bersemangat.
Muncul satu harapan baru untuk Bisma. Dilihat dari kedaan kemarin, ia jadi paham kalau sebenarnya Ara juga memendam perasaan padanya. Ia jadi merasa tak bertepuk sebelah tangan lagi. Kali ini ia sudah percaya diri, jika nanti dirinya mengungkapkan perasaannya padan Ara. Bisma sangat senang bisa merasakan hal yang sama dengan yang Ara rasakan.
‘Aku harus mempersiapkan hari esok yang lebih cerah. Aku sudah mantap melangkah, untuk menyatakan perasaanku pada Ara. Aku tidak ingin lari lagi dari kenyataan. Berhubung, Ara juga menyukaiku, akan lebih mudah nantinya saat aku menyatakan perasaanku padanya. Aku sungguh tidak sabar mengenai hal itu!’ batin Bisma yang merasa sangat senang dan bersemangat dengan hal ini.
__ADS_1
***