
“Tinggal ngejaga lo dari Ilham,” gumam Morgan, Ara memandangnya sekilas, karena mendengar Morgan yang mengatakan hal demikian.
“Memangnya kenapa dengan Ilham?” tanya Ara heran.
Morgan pun tersenyum, “Gak apa-apa.”
Keadaan aneh, Ara hanya bisa memandang Morgan saja dengan bingung. Pastinya Morgan punya alasannya sendiri untuk menjaga Ara dari Ilham. Ia tidak ingin Ilham sampai melakukan apa pun lagi kepada Ara, terlebih lagi saat ini Ara sudah berstatus menjadi kekasihnya.
“Kalau ada orang yang ganggu lo, kasih tau gue ya! Jangan sampai lo diem aja, karena gue gak mau jadi pacar yang gak berguna,” ucap Morgan, membuat Ara mengangguk kecil mendengarnya.
“Iya, nanti Ara pasti bilang ke Morgan kok,” ujar Ara membuat Morgan kembali tersenyum mendengarnya.
“Ya udah, ayo kita ke kelas. Nanti istirahat, makan bareng sama gue ya,” ucap Morgan, yang mendapatkan anggukkan dari Ara.
“Oke deh.”
Karena sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan, Ara pun segera pergi dari sana bersama dengan Morgan yang berjalan beriringan bersamanya.
***
Sesampainya di kelas, Morgan merasa ada yang aneh dari Ilham. Wajahnya terlihat sangat berantakan, dengan luka memar di seluruh wajahnya. Hal itu membuat Morgan merasa heran dengan yang terjadi dengan Ilham.
“Kenapa lo, Ham?” tanya Morgan heran.
“Gue dihajar sama Bisma!” jawab Ilham, yang lalu segera mengambil barang-barang miliknya.
Morgan memandangnya dengan heran, “Dihajar gimana?” tanyanya.
“Itu ... gue udah buat adenya dia sengsara dari dulu,” jawab Ilham, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
__ADS_1
Morgan mendadak kesal, karena mendengar ucapan itu dari Ilham. Hal itu karena Morgan sangat tahu ucapan Ilham yang sedang mengarah ke Ara.
Morgan mendelik di hadapan Ilham, membuat Ilham merasa kaget melihat tatapan Morgan yang mematikan seperti itu.
“Lo kenapa lagi, Gan?” tanya Ilham dengan nada suara yang terdengar sangat gemetar.
“Jadi lo yang udah ganggu Ara?” tanya balik Morgan dengan sinis, sontak membuat Ilham mendelik mendengarnya.
“Itu dulu, Gan. Sekarang ... gak akan lagi!” ujar Ilham, yang merasa sudah sangat kapok dengan yang ia lakukan pada Ara.
“Kalau lo gak mau gangguin Ara lagi, kenapa lo kemarin ke kelas Ara? Kenapa lo perhatiin dia dari jauh? Apa yang lo bawa kemaren?” tanya Morgan sinis, dengan pertanyaan yang berutubi-tubi ia lontarkan pada Ilham.
Ilham sudah sangat ketakutan mendengarnya, “Enggak, gue cuma mau minta maaf, tapi gue gengsi. Terus lo kayaknya ngedeketin dia, bikin gue kesel. Makanya gue niat buat ngerjain dia lagi tadi pagi. Gak nyangka Bisma ngeliat gue yang lagi jahilin Ara, dan akhirnya dia hajar gue habis-habisan begini,” ujar Ilham menjelaskan, membuat Morgan merasa sangat kesal mendengarnya.
“Jadi ... Bisma udah masuk ke sekolah? Apa dia sudah sembuh total? Terus, kenapa sekarang dia gak ada di kelas?” Morgan kebingungan dengan hal ini.
Tangannya menggebrak meja, “Lo inget baik-baik, mulai sekarang bukan cuma Bisma yang akan ngelakuin ini ke lo. Gue juga pastinya akan ngelakuin hal yang sama, bahkan lebih dari yang Bisma lakuin ke lo! Inget baik-baik!” ujar Morgan, sontak membuat Ilham merasa sangat takut karena mendengarnya.
“I-iya, gue gak akan bersikap buruk lagi ke Ara!” ujar Ilham, yang merasa sangat takut dengan apa yang Morgan ancamkan padanya.
“Good! Jangan sampai ucapan sama perbuatan lo beda! Gue gak akan segan, dan langsung nyerahin lo ke penjara kalau lo berani nyentuh Ara sedikit aja!” ujar Morgan, yang memang tidak pernah main-main dengan apa yang ia ucapkan pada siapa pun juga.
Karena merasa sangat takut, Ilham pun hanya mengangguk, lalu segera pergi dari kelasnya sembari membawa barang-barang miliknya. Lukanya itu membuatnya harus segera pulang, untuk mendapatkan perawatan agar tidak memburuk.
Morgan menghela napasnya, karena akhirnya ia bisa menyingkirkan Ilham yang mungkin akan mengganggu Ara nantinya. Namun, ia masih memikirkan sesuatu tentang kejadian itu.
‘Bisma datang ke sekolah, cuma buat ngehajar Ilham? Terus kenapa dia datang ke sekolah kalau gak sekolah? Dia ke mana sekarang?’ batin Morgan, bingung dengan apa yang terjadi antara Bisma tadi.
‘Gue pacaran sama Ara, apa harus bilang sama Bisma?’ batin Morgan, yang memikirkan hal kecil seperti ini.
__ADS_1
‘Kalau gue gak bilang, nanti Bisma masih berharap sama Ara. Tapi kalau gue bilang, mungkin nanti kita gak akan pernah kayak dulu lagi. Gimana, ya?’ batin Morgan yang semakin kebingungan karena hal ini.
Morgan tidak tahu saja, kalau Bisma sudah mengetahui semuanya secara langsung. Tanpa perlu ia memberitahu Bisma, Bisma sudah lebih dulu tahu, bahkan hancur karena mengetahui semua itu.
***
Karena sudah hancur dengan harapannya kepada Ara, Bisma sampai tidak memikirkan keadaannya. Kakinya yang masih belum pulih, kini kembali terasa sakit setelah amarahnya pada Ilham menghilang. Ia tinggal meratapi kesedihannya, karena mungkin sebentar lagi Morgan dan Ara akan mengatakan kebenaran itu padanya.
Mau tidak mau, Bisma harus siap mendengar hal itu langsung dari mulut Ara.
Kini, Bisma kembali pulang ke rumah. Ia tidak ingin melakukan apa pun, bahkan saat jam makan siang pun, seluruh pelayan sudah membujuk Bisma, tetapi Bisma sama sekali tidak ingin makan.
Bisma hanya mengunci dirinya di kamarnya, sembari menangis menumpahkan perasaan sedih atas kekalahannya dengan Morgan.
“Gue gak nyangka kalau Morgan bakalan suka sama Ara, dan Ara juga nerima cinta Morgan. Kalau dia suka sama Ara, kenapa awalnya dia ngedukung gue untuk deket sama Ara?” gumam Bisma, yang tak habis pikir dengan apa yang Morgan lakukan.
Matanya melirik ke arah jam dinding. Kini, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Seharusnya Ara sudah sampai di rumah, tetapi Bisma sama sekali belum menerima laporan dari para pelayannya mengenai Ara.
Karena merasa penasaran, Bisma pun menghubungi kepala pelayan. Beberapa saat menunggu, akhirnya telepon pun terhubung.
“Halo, Den. Ada apa?” tanya Ujang.
“Ara udah pulang belum?” tanya Bisma dengan datar, mencoba untuk menyembunyikan suaranya yang mulai bindeng.
“Belum, Den. Non Ara belum pulang,” jawab Ujang, membuat hati Bisma menjadi tidak tenang mendengarnya.
‘Ke mana Morgan bawa Ara? Harusnya dia udah sampai dari setengah jam yang lalu. Hati gue jadi gak tenang gara-gara mereka belum sampai di rumah,’ batin Bisma, tak terima dengan keadaan ini.
Bisma menghela napasnya dengan panjang. “Kabarin kalau udah sampe,” ujar Bisma, yang lalu mengakhiri sambungan teleponnya dengan sang kepala pelayan.
__ADS_1