
Wanita itu memulai pekerjaannya dengan mencuci rambut Ara. Ia juga segera melakukan perawatan yang lainnya. Ara hanya diam pasrah dan menurut dengan apa yang ia pinta.
Ada perasaan kurang nyaman saat Ara menerima perawatan darinya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, Ara sama sekali tidak ingin melihat Bisma marah, karena ia yang tidak menuruti keinginannya.
Beberapa jam berlalu. Akhirnya perawatan yang ia berikan sudah selesai. Ara kembali memakai kacamata untuk melihat hasil dari perawatan kali ini.
Dengan perasaan heran dan penasaran, Ara pun melihat dengan jelas dirinya di depan cermin.
Matanya membulat, ia sampai terkejut dibuatnya. “Wah ....”
Tangannya menyentuh tiap bagian yang sudah diberi perawatan, ‘Ternyata jika aku merawat tubuhku, aku akan jadi secantik ini! Seandainya dulu ibu merawatku dengan benar, aku tidak akan merasa dikucilkan karena fisikku juga,’ batin Ara, merasa sangat tidak menyangka dengan perubahan yang besar ini.
“Sudah selesai, Kak!” ucap wanita itu pada Bisma, yang sedang melihat layar handphone-nya.
Karena perawatan yang sudah selesai, Bisma lalu melihat ke arah Ara, dengan Ara yang malu dan malah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
‘Kenapa aku masih tidak percaya diri dengan diriku saat ini? Aku malu jika Bisma menertawakanku dengan riasan yang terlalu berlebihan ini,’ batin Ara, masih tidak percaya diri dengan keadaan yang ada.
Bisma saat ini berdiri di hadapanku, “Kenapa mukanya ditutupin?” tanya Bisma sinis, Ara hanya menggeleng dengan cepat.
“Aku nggak nyaman sama make up-nya. Dan kayaknya, baju yang aku pakai terlalu ...,” jawab Ara dengan ragu.
Ara sama sekali tidak ingin mengecewakan Bisma, tapi mau bagaimana lagi? Ara memang tidak nyaman dengan pakaian seterbuka ini.
Bisma menghela napasnya, “Kamu cantik,” lirihnya.
Mendengar ucapan Bisma itu, Ara yang kaget langsung mendelik ke arah Bisma.
‘Apa yang dia katakan barusan? Dia baru saja memujiku! Dia orang pertama yang memujiku setelah ibuku. Padahal, orang lain terus mengatakan hal buruk padaku tentang keadaan fisikku saat itu. Aku merasa, Bisma adalah orang yang bisa menerimaku dengan tulus. Andai aku dan Bisma benar-benar adik dan kakak kandung, aku pasti akan sangat bahagia!’ batin Ara, yang merasa sangat tersentuh dengan apa yang Bisma katakan.
“Apa kamu bilang, Bis?” tanya Ara yang penasaran, tetapi Bisma sama sekali tidak menghiraukannya dan malah memandang ke arah wanita itu.
“Apa di sini tidak menyediakan softlens?” tanya Bisma pada wanita itu.
“Kebetulan sekali di sini banyak menyediakan softlens minus,” jawab wanita itu.
__ADS_1
Bisma dengan segera melihat ke arah Ara. Ara heran, kenapa Bisma melihatnya dengan tatapan seperti itu?
“Kacamata yang kamu pakai minus berapa?” tanya Bisma.
‘Ada apa membahas kacamataku?’ batin Ara heran.
“Minus 4,” jawab Ara dengan singkat.
Bisma kembali melihat ke arah wanita itu, tapi Bisma tidak mengatakan apa pun.
“Oh baik. Saya akan carikan model yang cocok,” ucap wanita itu, kemudian pergi meninggalkan Ara dan juga Bisma.
Situasi antara Ara dan Bisma menjadi sangat canggung. Ucapan Bisma yang mengatakan Ara adalah pacarnya, masih terngiang di pikiran Ara dengan jelas.
Mereka hanya saling melempar pandang. Tak ada kata yang terucap dari mulut mereka.
‘Kok canggung banget, ya?’ batin Ara, merasa agak beda berhadapan dengan Bisma saat ini.
Tak hanya Ara, Bisma pun merasakan hal yang sama dengan yang Ara rasakan.
Tegang, canggung, tetapi sebisa mungkin Bisma menghindari semua itu.
“Mau dipakaiin atau pakai sendiri?” tanya wanita itu menawarkan.
‘Apa yang untuk dipakai?’ batin Ara yang merasa sangat bingung mendengarnya.
“Pakaikan saja,” jawab Bisma.
Wanita itu mengangguk kecil, kemudian berjalan ke arah Ara berada. Ia mengeluarkan barang itu dari bungkusnya. Barang yang sama sekali tidak pernah Ara lihat sebelumnya.
“Coba dibuka lagi kacamatanya,” pintanya.
Dengan heran dan bingung, Ara pun membuka kacamatanya kembali, dan meletakkannya di atas meja. Tiba-tiba saja, ia menyentuh kelopak mata Ara, sampai-sampai membuat Ara melompat kaget.
“Ya ampun!” pekik Ara, membuat pelayan itu terkejut karenanya.
__ADS_1
“Maaf ya,” ujarnya lirih, Ara berusaha menenangkan jantungnya.
Ara memandangnya dengan sinis, “Sebenarnya, aku mau diapain, sih? Apa di sini bisa perawatan mata juga? Terus mata aku mau diapain? Mau dicuci kayak tadi rambut aku gitu?” tanya Ara dengan sangat polos, tetapi wanita itu malah tertawa setelah mendengar pertanyaannya.
Bisma juga hampir tidak bisa menahan tawanya, tetapi ia harus menjaga harga dirinya di hadapan pelayan itu.
“Udah ... kamu diem aja. Biarin mbaknya bekerja, jangan diganggu!” Suara Bisma terdengar datar.
Ara memanyunkan bibirnya kembali. Setelah kenal dengan Bisma, ia jadi sering memanyunkan bibir karena kesal. Akan tetapi, ia sama sekali tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada Bisma. Yang ada, nanti Bisma marah padanya.
“Ya sudah kita lanjutin ya,” ucap wanita itu, membuat Ara mengangguk kecil merespon ucapannya.
Ia kembali menyentuh kelopak mata Ara dan melebarkannya, sehingga membuat matanya menjadi perih terkena AC di ruangan ini.
Tiba-tiba saja Ara merasa ada sesuatu yang menempel di bola matanya. Walaupun Ara sempat terkejut dan merasa takut, ia tidak ingin Bisma memprotes tindakannya lagi.
“Sudah!” ucap wanita itu.
Ara mengerjapkan matanya, merasa ada yang mengganjal di bola matanya. Ia tidak bisa membuka matanya, karena saat ini matanya teraa sangat perih.
‘Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak bisa melihat!’ batin Ara, yang merasa sangat ketakutan dibuatnya.
“Bisma, mata Ara perih!” teriak Ara sangat histeris. Ia mencari-cari tangan Bisma dengan tangannya yang ia ulurkan di hadapannya. Ara benar-benar tidak bisa membuka matanya sekarang.
“Tenang aja, Kak. Sini aku pakein cairannya dulu,” ucap wanita itu. Ia kembali menyentuh kelopak mata Ara, dan meneteskan sesuatu seperti obat mata pada kedua matanya.
Ara mengedipkan matanya dengan cepat, sampai air itu menetes kembali keluar dari matanya.
“Kakak boleh buka matanya sekarang,” ucap wanita itu lagi.
Dengan perlahan, Ara mencoba membuka kedua matanya lagi.
Pandangannya kini menjadi lebih aneh, setelah memakai benda ini. Namun, ia bisa melihat dengan jelas tanpa harus menggunakan kacamata lagi.
Ara merasa alat ini adalah alat ajaib bagi penderita mata minus, yang tidak ingin memakai kacamata. Ia sampai menutup mulutnya, karena kagum dengan kehebatan alat ini.
__ADS_1
Merasa penasaran dengan penampilannya tanpa kacamata, Ara kembali melihat dirinya secara utuh tanpa menggunakan kacamata di depan cermin.
Matanya mendelik kaget, ‘Ini sangat menakjubkan! Penampilanku menjadi sangat berubah dengan makeup setebal ini, baju yang terbuka dan juga memakai alat yang ada di mataku sekarang!’ batin Ara, merasa sangat senang dengan penampilannya saat ini.