
“Bagus gak?” tanya Ara, wajahnya terlihat biasa saja, dan datar.
“Bagus,” jawab Reza dengan singkat, sembari mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, tentu saja dengan wajah datar. Ara hanya diam melihat ekspresinya yang seperti itu.
“Gimana cara pakainya, Za?” tanya Ara penasaran. Reza masih melihat-lihat isi dari alat ini.
“Kayaknya ... ini udah ada SIM card-nya, dan udah bisa dipakai buat telepon, dan internetan,” jawabnya membuat Ara bingung.
‘Apa itu ... internetan?’ batin Ara heran.
Ara menatap Reza dengan pandangan seperti kebingungan.
‘Aku tahu, pasti dia tidak mengerti yang aku katakan tadi. Wajar saja sih ... desa tempatnya tumbuh, adalah desa terpencil. Wajar saja bunda mengajakku untuk pindah waktu itu. Mungkin ... di sana tidak ada signal,’ batin Reza, yang sudah mengerti dengan hal itu.
“Lo gak tahu internetan?” tanya Reza yang memastikannya, Ara terlihat hanya bengong sembari menggelengkan kepalanya. Reaksinya cukup membuat Reza merasa senang.
“Jangan-jangan, loe gak punya Enstagram?” bidik Reza, lagi-lagi Ara menggelengkan kepalanya.
‘Ya ... wajar saja sih, gadis yang tumbuh di desa, mana sempat memikirkan hal seperti itu?’ batin Reza yang mengerti dengan sikap Ara.
Reza dengan senang hati membuatkan akun media sosial untuknya. Namun, sebelum itu, Reza harus menyimpan nomor Siti terlebih dahulu, untuk sekadar bertukar kabar dengannya. Ia juga memasangkan aplikasi lainnya yang bisa digunakan untuk bertukar kabar dengan orang lain.
Setelah beberapa saat mengotak-atik handphone Ara, Reza pun akhirnya telah menyelesaikan semua yang ia lakukan.
“Sudah,” lirih Reza karena sudah menyelesaikan pembuatan akun untuk Ara.
Ara terlihat masih saja bingung dengan yang sedang Reza lakukan.
“Itu Reza habis ngapain?” tanya Ara dengan lirih, membuatnya terlihat semakin polos.
Reza tersenyum tipis melihat ekspresinya itu. “Bikin akun Ensta.”
“Itu untuk apa?” tanya Ara kembali, yang memang benar-benar tidak mengerti dengan yang Reza lakukan.
__ADS_1
Reza pun menghela napasnya, “Aku pikir akan lebih sulit mengajarkan Siti sesuatu yang baru tentang teknologi,’ batinnya.
Reza tak menghiraukannya, lalu segera membuka kamera di handphone Ara dan mengarahkan pada mereka. Ara memandang aneh ke arah handphone-nya yang sedang Reza pegang.
“Lho ... kok itu ada Ara di situ? Kok jadi kayak kaca, sih?” tanya Ara dengan nada yang terdengar sangat imut, membuat Reza menjadi tambah gemas dengannya.
Reza pun tertawa kecil mendengar pertanyaannya yang polos itu, “Siti ... Siti ....”
Karena sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Reza pun mengambil gambar wajah Ara yang belum siap, terlihat lucu di matanya. Reza memperlihatkan hasil jepretannya padanya. Wajahnya seketika memerah, ia pun kaget setelah melihat wajahnya ada di layar.
“Wah ... jelek banget!” Ara langsung berteriak, membuatku semakin tak bisa menahan tawa.
“Kalau gak mau jelek, senyum dong!” Reza berusaha memberikan sugesti padanya, dan kembali mengarahkan kamera ke arah mereka.
Gambar ke-2 sudah berhasil Reza ambil. Ia melihat hasilnya dengan saksama, begitu pun Ara yang dengan penuh rasa heran, langsung mendekati Reza dengan jarak yang sangat dekat.
Reza yang menyadarinya, langsung merasa kaget. Mungkin bagi Ara, dia tidak melakukan apa pun. Namun, itu cukup membuat Reza tegang.
‘Entah kenapa ... bila berada pada jarak yang dekat seperti ini, hatiku menjadi tak menentu. Entah apa yang aku rasakan,’ batin Reza, merasa sangat aneh dengan apa yang ia rasakan.
Reza hanya diam, tak merespon ucapan Ara sehingga membuat Ara bingung. Ara refleks kemudian langsung melihat ke atas. Ia pun sangat terkejut karena ternyata wajah Reza berada sangat dekat dengan wajahnya. Melihat pemandangan aneh ini, Ara pun segera mengatur jaraknya dengan Reza, agar ia tidak merasa canggung padanya.
Ara berdeham, “Maaf ya, Za. Ara—”
“Begini cara mainnya!” Reza langsung saja memotong ucapan Ara, sehingga membuat Ara merasa khawatir. Namun, entah apa yang ia khawatirkan.
Reza sekilas memandang ke arah Ara, ‘Aku sengaja memotong ucapan Siti. Aku tidak ingin dia berpikir yang tidak-tidak padaku,’ batin Reza, lalu kembali melihat ke arah handphone yang sedang ia pegang.
“Pertama masuk ke sini ... kalau mau lihat beranda di sini ....”
Reza menjelaskannya dengan saksama. Ara terlihat hanya diam, sambil sesekali mengangguk kecil. Hal itu membuat Reza merasa senang sekali, karena ia bisa mengajari Ara seperti ini.
‘Rasanya nyaman, tidak seperti wanita zaman sekarang yang selalu ingin terlihat lebih hebat jika diberi tahu,’ batin Reza, yang benar-benar sangat menikmati hal ini.
__ADS_1
“Kalau mau tambah teman, begini. Terus bisa juga upload foto yang bagus.”
“Gimana caranya, Za?” tanya Ara penasaran, Reza kembali menjelaskan padanya.
Tiba-tiba saja, Reza melihat akun Enstagram milik Bisma. Hal itu membuat Reza mendapatkan sebuah ide jahil, untuk menyentil Bisma.
‘Kira-kira ... seru tidak ya, jika dia melihat fotoku dan Siti ada di Ensta?’ batin Reza, yang lalu langsung mem-follow akun Bisma.
“Gini, cara upload foto.” Reza kembali mengajarkannya, dan mencontohkan menggunakan foto mereka yang barusan ia ambil.
Mata Ara nampak berbinar, sepertinya kagum saat melihat foto mereka yang ada di Ensta miliknya.
“Bagus banget hasil fotonya ...,” lirih Ara, sembari memandang lekat foto mereka.
Jarak mereka kembali sedekat tadi. Reza sampai menelan salivanya, saat ia mengetahuinya.
‘Aku harus bisa menahan nafsuku kali ini. Tapi ... apakah aku bisa menahan gejolak perasaanku padanya? Sepertinya ... aku sudah benar-benar menyukainya. Tak disangka, aku benar-benar menyukai gadis yang kutolong ini. Apa ... aku harus mengutarakan perasaanku sekarang? Apa ini waktu yang tepat?’ batin Reza, benar-benar sangat ingin mengutarakan perasaannya pada Ara.
Reza terdiam sembari memandang handphone yang sudah Ara pegang. Tak dipungkiri, Reza juga memandang lekat ke arah Ara.
‘Apakah aku berani untuk mengutarakan perasaanku padanya?’ batin Reza, yang masih berpikir dengan apa yang ia rasakan kali ini.
Beberapa saat berpikir, Reza pun akhirnya menemukan jawaban dari hal yang ia pikirkan secara singkat.
‘Ya. Sekarang!’ batin Reza, merasa sangat yakin dengan tekadnya.
Reza berusaha mengatur napasnya lebih dulu, agar bisa mengendalikan dirinya dulu, dan tidak terkesan terburu-buru. Setelahnya, ia segera memandang dalam ke arah Ara.
“Siti ....” Reza memanggilnya dengan suara yang bergetar.
‘Tak kusangka, aku akan mengatakan ini sekarang. Aku masih belum siap, tapi ... aku harus melakukannya dengan cepat. Aku tidak mau sampai keduluan dengan siapa pun, terutama ... Bisma!’ batin Reza, yang benar-benar ingin mengucapkan hal ini pada Ara.
Ara memandang ke arah Reza, “Ada apa, Za?” tanyanya.
__ADS_1
“Gue pengen ngomong sesuatu sama lo,” ucap Reza dengan sangat berhati-hati.