
Ya! Itu adalah Bisma, yang sudah berdiri di depan sana. Lagi-lagi, Bisma melihat pemandangan yang bisa membuat kesalahpahaman.
Bisma menghampiri Ara dengan cepat, kemudian menarik tangan Ara yang sedang dipegang oleh Reza. Bisma menarik tangan Ara, dan membawanya keluar ruangan, meninggalkan Reza sendirian di sana. Tak ada yang bisa Ara lakukan selain menuruti yang Bisma perintahkan.
Mereka sudah berada jauh dari ruang kelas Ara. Bisma akhirnya secara sukarela melepaskan tangannya itu, dari tangan Ara. Ara merintih lirih, karena rasa sakit yang masih terasa sejak masalah pagi tadi.
Bisma menatap ke arah Ara dengan penuh amarah. Ara hanya bisa diam melihat tatapan sinisnya itu.
“Sebenernya lo di sini tuh buat apa sih?” tanya Bisma sinis, Ara sampai panas dingin mendengarnya. Ara tidak bisa menjawab, jika emosi Bisma masih tinggi seperti ini.
“Lo tuh di sini buat belajar! Bukan malah asik berduaan sama cowok! Pake segala pegang-pegangan lagi ... mau dianterin pulang segala!” ocehnya, yang benar-benar sudah tidak bisa menahan perasaan kesalnya lagi.
Ara memandangnya dengan sendu, ‘Ucapan Bisma ada benarnya juga. Aku mungkin saja sudah mengecewakan Bisma karena masalah ini. Aku sudah terlalu gegabah! Bagaimana kalau Bisma marah, dan tidak mengizinkanku untuk sekolah di sini lagi? Kapan lagi bisa sekolah di tempat sebagus ini?’ batin Ara, yang benar-benar sangat ketakutan di hadapan Bisma.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Gue tuh begini ke lo, jangan sampai lo berpikir gue peduli sama lo, gue cuma peduli sama pendidikan lo. Dan lagi ... lo pake duit keluarga. Lo harusnya sadar, dan gak bertindak semena-mena dalam masalah belajar!”
Ucapan Bisma semakin lama, semakin membuat Ara terpojok.
‘Memangnya harus berbicara sampai sekasar itu, ya?’ batin Ara yang merasa sedih mendengar ucapan Bisma yang kasar itu.
Namun, Ara berpikir kembali. Ucapan Bisma memang ada benarnya juga.
‘Kalau seperti ini ... sama saja aku tidak menghargai setiap uang yang keluar untuk membiayaiku. Aku tidak tahu harus sedih karena sudah mengecewakan Bisma, atau sedih karena sudah kecewa dengan perkataannya yang terlaku sarkas. Aku merasa ... hidupku bagai benalu yang menumpang pada inangnya. Aku tak kuasa menahan air mataku lagi. Entah kenapa, aku selalu ingin menangis kalau ada seseorang yang membentakku,’ batin Ara, yang malah menangis di hadapan Bisma.
Akhirnya, Ara pun kelepasan menangis di hadapan Bisma. Ia tidak lagi memedulikan keadaan sekitar, dan malah menangis tersedu-sedu saat ini. Bisma yang memandangnya, merasa sedikit iba pada Ara.
__ADS_1
“Ra ... jangan nangis, dong!” ucap Bisma yang terdengar seperti sedang membujuk Ara. Namun, Ara tidak mendengar ucapan Bisma, dan malah mempertegas kesedihannya.
Bisma berusaha untuk membuat Ara menghentikan tangisannya. “Udah, udah. Maapin gue kalau tadi gue terlalu kasar sama lo,” ucap Bisma, dengan cepat memeluk Ara tanpa ragu.
Perasaan Ara menjadi sangat aman, ketika Bisma memeluk tubuhnya. Ia tidak lagi merasa sakit hati pada Bisma. Secara berangsur, Ara pun menghentikan tangisnya. Bisma membantunya untuk menyeka air matanya, yang kini sudah membanjiri seluruh area pipinya. Kacamatanya saja sampai berembun karenanya. Ara segera membersihkan embun yang menghalangi pandangannya, kemudian kembali memakai kacamata itu lagi.
“Yaudah jangan nangis, nanti gue bikinin kakiage yang loe suka,” rayu Bisma.
Ara mengerenyitkan dahinya karena sepertinya, Ia melupakan arti dari kakiage.
“Apa tuh?” tanya Ara yang masih tidak paham dengan maksudnya.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, mendengar pertanyaan dari Ara, “Bakwan,” jawabnya dengan datar, sembari memandang dingin ke arah Ara.
Sikapnya yang seperti ini yang membuat Ara jengkel. Namun, ternyata Ara sudah menyayangi Bisma. Ia tidak peduli dengan sikap Bisma yang menyebalkan ini. Pasalnya, Bisma sudah susah payah membujuk Ara dari perasaan sedih yang ia alami tadi, dan Ara sama sekali tidak ingin membuat Bisma kecewa karenanya.
“Makasih Bisma!” ucap Ara dengan sangat senang, dengan Bisma yang hanya diam mematung.
Aea melihatnya sekilas, tampangnya ternyata sangat datar saat ini. Ia tidak memedulikannya dan malah kembali memeluk Bisma dengan erat.
“Ayo pulang,” ajak Bisma, Ara mengerenyitkan dahinya kemudian merenggangkan pelukannya. Ara menatapnya dengan heran.
“Katanya mau latihan?” tanya Ara, Bisma terlihat membuang pandangannya lagi.
“Kayaknya ... masak kakiage buat lo, lebih penting daripada latihan,” ucap Bisma yang terdengar seperti ragu. Wajahnya terlihat memerah kembali. Ekspresi seperti ini, yang membuat Ara kebingungan membacanya.
__ADS_1
“Bisma ... kok mukanya--”
“Ayo pulang!” ucapnya memotong, sembari menarik tangan Ara.
Ara hanya bisa pasrah, karena kondisi tanganku yang masih sakit, sehingga ia tidak ingin banyak melawan dan membuat gesekan terlalu banyak.
***
Mereka sudah sampai di kediaman mereka. Ara melihat mobil asing yang terparkir rapi di depan pelataran rumah, membuat Bisma kesulitan untuk memarkir mobil di garasi.
“Itu mobil siapa, Bis?” tanya Ara bingung, Bisma menatapnya seperti kesal.
‘Ternyata, ada tamu yang tidak disenangi Bisma,’ batin Ara, yang tidak banyak bertanya lagi setelah melihat tatapannya itu.
Mereka pun turun dari mobil, dan segera menuju ke dalam rumah.
Ara tak sengaja melihat seseorang yang sangat asing baginya. Laki-laki paruh baya itu pun menyadari kedatangan Ara, kemudian segera bangkit dan berdiri di hadapan mereka. Ara takut dengan tatapan aneh yang terlontar dari dirinya, sehingga ia mengubah posisinya perlahan menjadi berdiri di belakang Bisma. Terlihat sorot mata yang aneh dari dirinya, sehingga Ara tidak berani menyimpulkan itu.
“Kalian sudah pulang. Baguslah, ayo kita makan sama-sama,” ajak laki-laki paruh baya itu, yang terdengar sangat sopan, membuat Ara sedikit lega dengan perlakuannya.
“Papa mau ngapain ke sini? Bukan harusnya papa di Amerika sekarang?” tanya Bisma dengan datar.
Ara sangat terkejut, mengetahui kebenaran bahwa laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya ini adalah Ayah biologisnya. Ara sampai menganga kaget dibuatnya. Sepertinya ini adalah kali pertama pertemuan Ara dengan dirinya.
Ara memandanginya dengan dalam, ‘Aku merasa, laki-laki paruh baya ini, sangat mirip dengan Bisma. Terlihat sekilas sorot matanya yang hampir sepenuhnya sama dengan yang Bisma miliki. Ternyata dia orangnya ... yang membuat ibuku menanggung semuanya. Entah kenapa, timbul sedikit perasaan benci di hatiku, setelah melihatnya,’ batin Ara, yang benar-benar kaget melihat ayahnya.
__ADS_1
“Jangan seperti itu, Bisma. Papa sengaja ke sini, luangin waktu buat jenguk anak-anak papa. Apa kamu tidak senang papa ada di sini?” tanyanya, Bisma membuang pandangannya.