Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Berbagi Keresahan


__ADS_3

Sementara itu di sana, Morgan masih menunggu Ara dengan setia. Namun, ia juga merasa gelisah dan terus melirik ke arah jam tangannya, karena ia harus segera datang ke sekolahnya.


“Ke mana Ara, ya? Udah siap belum, sih?” gumam Morgan, sembari terus melirik ke arah jam tangannya.


Pandangannya tertuju pada Bisma, yang saat ini menghampiri ke arahnya. Mereka sejenak saling pandang, membuat Morgan merasa aneh berhadapan dengan Bisma saat ini.


“Kenapa?” tanya Morgan, heran dengan reaksi Bisma saat memandangnya.


Bisma memandangnya dengan datar, saking kesalnya ia karena sudah melihat Morgan di rumahnya, pagi-pagi seperti ini. Namun, rasa kesalnya saat ini sudah tidak ada gunanya lagi. Ia merasa Ara sudah menolaknya demi Morgan, dan ia sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi.


“Gue udah nyatain perasaan gue ke Ara,” ujar Bisma, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.


“Apa?” pekik Morgan, tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Bisma menyunggingkan senyumannya di hadapan Morgan. “Ya, hati-hati. Mungkin setelah dipikirin baik-baik sama Ara, Ara akan mutusin lo dan akan memilih gue,” gertak Bisma, membuat Morgan mendelik tak bisa menerimanya.


“Apa-apaan? Gue gak akan pernah kasih dia izin buat mutusin hubungan ini!” ujar Morgan, yang sepertinya sudah sangat terkejut saat ini.


Bisma sengaja melakukan hal ini, karena ia tidak mau merasakan resah seorang diri. Ia ingin membaginya pada Morgan, agar Morgan juga memikirkan Ara dan merasakan keresahan yang ia rasakan. Ia juga sengaja masih memberikan Ara perhatian kecil, karena masih sedikit berharap Ara akan memilihnya dan memutuskan hubungannya dengan Morgan.


Namun, kembali lagi, itu hanya merupakan harapan dari Bisma. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada Ara lagi, dan ia tidak ingin memaksa Ara untuk menerima cintanya lagi. Sudah cukup ia merendah di hadapan Ara seperti semalam, ia tidak ingin melakukannya lagi.


Yang terpenting saat ini, Bisma hanya mengandalkan miracle pada hubungannya dengan Ara. Semua hal yang sudah ia keluarkan, mungkin saja bisa menjadi pertimbangan bagi Ara, agar Ara bisa berpikir dengan baik tentang perasaan mereka.

__ADS_1


Bisma menyunggingkan senyumannya, “Ya, hati-hati aja. Gue pastikan hubungan kalian bakal berakhir, kurang dari satu bulan,” ujar Bisma dengan sangat percaya diri, lalu segera meninggalkan Morgan untuk melangkah menuju ke arah mobilnya.


Bisma pun pergi dengan mengendari mobilnya, sementara Morgan hanya bisa memandang kepergiannya dengan tidak percaya. Walaupun tak beralasan dan tak memiliki bukti, apa yang Bisma katakan itu cukup membuatnya shock.


“Oh My God! Kenapa semuanya malah begini? Kenapa Bisma malah terang-terangan ungkapin perasaannya sama Ara? Bukannya dia orangnya gengsian?” gumam Morgan, tak percaya dengan apa yang ia lakukan itu.


Pikiran Morgan mendadak kacau, karena Ara dan Bisma yang tinggal satu tempat tinggal, memungkinkan mereka untuk lebih dekat dalam beberapa momen. Hal itu saja sudah membuat Morgan sangat gelisah dan resah.


“Gimana ini? Mereka tinggal satu rumah. Bukan hal yang tidak mungkin kalau misalkan mereka benar-benar jadian!” gumam Morgan, yang sudah mulai berpikir akan hal tersebut.


Sementara itu di sana, setelah selesai bersiap-siap, Ara menuruni anak tangga dan melihat ke arah meja makan. Memang benar, di sana sudah ada makanan yang tersedia, dan terlihat sangat menggoda. Banyak sekali makanan yang ia suka, sehingga ia tidak bisa menahan perasaannya untuk menyantap makanan ini.


“Duh ... Bisma ternyata beneran udah masakin buat Ara. Kalau Ara gak makan, sayang banget makanan sebanyak ini,” gumam Ara, dengan mulut yang sudah menganga karena melihat kelezatan dari tampilan masakan yang Bisma buat untuknya.


“Duh ... gimana dong? Sayang banget, tapi Ara udah telat!” gumam Ara, yang merasa bimbang dengan keadaan.


Karena merasa gelisah, Ara pun segera pergi dari sana untuk segera menuju ke arah Morgan berada.


Saat pandangannya tertuju pada Morgan, ia melihat Morgan yang sepertinya sedang dalam keadaan tidak mood. Wajahnya terlihat datar dan dingin, membuat Ara merasa sedikit terkejut dan khawatir.


“Morgan!” pekik Ara dari arah pintu, lalu segera berlarian kecil menghampiri ke arah Morgan, yang sedang berdiri dan bersandar pada mobilnya.


Saat baru sampai di hadapan Morgan, Morgan yang sudah terlanjur resah pun langsung memeluk Ara dengan erat. Hal itu sontak membuat Ara merasa terkejut, dengan apa yang Morgan lakukan itu.

__ADS_1


“Morgan kenapa meluk Ara?” tanya Ara dengan jantung yang tiba-tiba saja berdebar.


Ya, ini adalah kali pertama Morgan memeluk Ara. Ini juga adalah kali pertama Ara mendapatkan pelukan dari seorang lelaki, keculai Bisma yang ia anggap sebagai kakaknya kala itu. Ara merasa dadanya terus terpacu, berdebar dan entah apa yang akan ia lakukan setelahnya.


“Cuma rindu aja,” jawab Morgan dengan nada yang datar, tetapi dalam hatinya ia berusaha untuk menahan gejolak api cemburu yang ia rasakan sejak tadi.


Ini adalah cara Morgan untuk menahan rasa cemburunya. Ada dua cara yang biasa ia lakukan. Yang pertama dengan mengatakannya secara gamblang, dan yang kedua berusaha menahan sebisa mungkin apa yang ia rasakan itu.


Di samping itu, Morgan juga masih perlu penjelasan dari Ara. Namun saat ini, bukanlah waktu yang tepat untuk mereka membahas perkara aneh ini. Mereka harus segera sampai di sekolah, sebelum pukul 7 pagi.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, lalu melepaskan pelukannya pada Ara. Ia memandang Ara lekat, dengan Ara yang selalu menunduk karena ingin menutupi rasa malunya dari Morgan.


“Ayo, kita ke sekolah. Kayaknya kita udah telat,” ajak Morgan, Ara pun mengangguk kecil dengan pandangan yang berusaha ia tatap ke arah Morgan.


Tanpa banyak kata, seperti biasa Morgan membukakan pintu masuk mobil untuk Ara. Ara pun masuk ke dalamnya disusul Morgan, lalu mereka segera pergi bersama menuju ke sekolah.


Sepasang mata memandang mereka dengan tatapan tajam. Bisma masih menunggu Ara pergi, dan bersembunyi di dekat jalanan rumahnya. Sekilas melihat Morgan yang memeluk Ara, membuat hatinya kembali terbakar.


Namun, Bisma sadar ini bukanlah hal yang bisa ia lakukan lagi. Ia tahu dirinya siapa, dan tidak lagi berani melakukan hal itu di hadapan Ara.


Tujuan Bisma kembali ke rumahnya adalah untuk memeriksa makanan yang sudah ia sediakan untuk Ara. Ia keluar dari mobilnya, dan menuju ke arah meja makan untuk memastikannya sendiri dengan mata kepalanya.


“Hah?”

__ADS_1


__ADS_2