Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Alasan Bisma


__ADS_3

Ara memandangnya dengan bingung, ‘Ternyata ... alasan Bisma melakukan itu karena ada Reza yang menghadang? Bisma selalu melakukan sesuatu di luar batas nalarku,’ batin Ara, merasa sangat heran dan bingung dengan apa yang sebenarnya Bisma pikirkan.


Terlihat Reza yang sedang mengetuk kaca mobil di sebelah Ara. Ara ingin membukanya, tetapi ... kacanya tidak mau turun.


‘Sepertinya ... jendela mobil Bisma sedang rusak,’ batin Ara, merasa heran dengan mobil Bisma yang selalu rusak.


“Lho ... kok gak mau turun sih kacanya?” tanya Ara pada Bisma, yang saat ini terlihat sinis.


Ara terlihat bingung, Bisma sengaja tidak membukakan kaca jendela mobil, agar Reza tidak bisa berbincang dengan Ara.


‘Memangnya, aku rela membiarkannya untuk melakukan hal itu di hadapanku? Tidak akan!’ batin Bisma, yang tidak akan pernah melakukannya.


“Mobilnya rusak lagi, ya?” tanya Ara, yang selalu terlihat polos di mata Bisma.


Hal itu sedikit menghibur hati Bisma yang sedang tidak enak. Namun, Bisma berusaha untuk menahan tawanya di hadapan Ara. Ia tidak ingin citranya rusak, hanya karena candaan recehnya itu.


‘Oh, bukan! Itu bukan sebuah candaan. Memang dia tidak seperti gadis kota pada umumnya. Dia hanya gadis lugu yang sudah lama bermukim di kampung halamannya. Jadi, ia tidak bisa disamakan dengan gadis lain!’ batin Bisma, benar-benar menganggap Ara sangat berbeda dari gadis lainnya yang pernah ia kenal.


“Otak loe tuh yang rusak!” ujar Bisma datarm tanpa melihat wajah Ara.


Menengar ucapan Bisma yang asal saja, Ara pun memukul lengannya. Kali ini, adalah kali pertama Ara memukul Bisma.


‘Ternyata ... semakin lama, dia semakin berani padaku!’ batin Bisma, yang spontan menoleh ke arahnya.


“Apa-apan sih lo?” tanya Bisma dengan heran, dengan nada yang agak tinggi.


Tanpa Bisma sadari, candaannya tadi membuat Ara terlihat sangat kesal. Raut wajahnya sudah cukup menggambarkan kekesalan hatinya. Ara menatap Bisma dengan sangat sinis, melebihi tatapan Bisma padanya.


Bisma yang menyadarinya, mendadak bingung harus melakukan apa.

__ADS_1


‘Kali ini, aku sudah menyakiti hatinya lagi. Apa aku terlalu kelewatan? Padahal, itu sudah biasa aku katakan ketika sedang bercanda bersama Morgan,’ batin Bisma, yang menyamakan bercandanya kepada Ara, dan juga kepada Morgan.


“Kamu gak pernah anggap Ara! Ara beneran marah sama kamu!” bentaknya dengan nada yang terdengar seperti hampir menangis.


Bisma menghela napasnya dengan panjang, ‘Kenapa dia sangat sensitif sekali?’ batinnya bingung.


Bisma mencengkeram lengan Ara, “Ra, gak gitu dong—”


“Lepasin!” pangkas Ara, sembari menghempaskan kasar tangan Bisma. Itu cukup membuat Bisma terlempar ke samping.


Sementara itu, Reza memandangi mereka berdua yang ada di dalam mobil. Tatapannya kesal, karena merasa seperti ada yang tidak beres di antara mereka.


‘Sepertinya ... ada yang tidak beres. Ada sesuatu yang serius yang terjadi di dalam!’ batin Reza, yang panik dan langsung mengetuk kaca jendela mobil dengan cepat. Reza sangat khawatir, jika terjadi sesuatu pada orang yang ia sebut Siti.


“Buka!” teriak Reza, sembari tetap mengetuk kaca jendela mobil Bisma.


“Lo gak apa-apa, Siti?” tanya Reza, yang terlalu khawatir padanya.


Ara hanya bisa menutupi setengah wajahnya dan hanya diam, tidak merespon pertanyaan dari Reza. Karena Ara hanya diam, Reza pun lalu merangkulnya dalam pelukannya.


Tak terima dengan apa yang Reza lakukan, mata Bisma pun mendelik, lantas keluar dari mobil dan menuju ke arah Reza.


“Bajingan!” teriak Bisma terdengar jelas di telinga Reza.


Reza bergegas menoleh ke arah Bisma, yang ternyata sedang melayangkan kepalan tangannya ke arah wajahnya. Dengan sigap, Reza pun mendorong Ara untuk menghindari, sesuatu terjadi padanya.


“Awas, Siti!” pekik Reza, yang berhasil mendorong tubuh Ara menjauhi mereka.


Bisma berhasil mendaratkan satu pukulan keras di wajah Reza, sehingga membuat Reza tersungkur di atas tanah. Semua orang seperti sedang menatap ke arah Reza dan Bisma. Reza masih melihat kembali ke arah Bisma, yang amarahnya sedang meluap-luap itu, lalu bergegas bangkit dan berdiri di hadapan Bisma untuk melindungi Ara dari Bisma.

__ADS_1


“Apa-apaan lo mukul gue begini?” tanya Reza yang masih berusaha bersikap tenang untuk menghadapinya.


‘Bagaimanapun juga, aku ini adalah seorang Ketua OSIS yang harus mencontohkan perilaku yang baik pada mereka semua. Apalagi ... mereka yang kebetulan sedang lewat, sedang memperhatikan kami. Bahkan, beberapa orang terlihat sedang memegang ponselnya untuk merekam kejadian ini,’ batin Reza, yang benar-benar harus menjaga marwahnya, sebagai seorang ketua OSIS.


“Harusnya gue yang nanya, apa-apaan loe main asal peluk orang segala?” tanya Bisma, membuat Reza hampir terpingkal, dan berusaha menahan tawanya.


“Pffttt....”


Reza tak bisa menahan tawanya, ia berhasil membuat Bisma semakin naik darah karena reaksi yang seperti itu.


“Gak lucu tau gak!” bentak Bisma dengan sinis.


Melihat pertengkaran di antara mereka, Ara yang sudah sangat malu menjadi tontonan gratis bagi mereka, hanya bisa menahan perasaan kesalnya, lalu segera pergi dari sana.


Bisma melihat ke arah Ara, yang ternyata baru saja pergi meninggalkan mereka. Hal itu benar-benar membuatnya menjadi semakin kesal. Ia pun melemparkan pandangan ke arah Reza, dan menunjuknya dengan kasar.


“Urusan kita belum kelar!” bentak Bisma dengan kesal, yang kemudian pergi meninggalkan Reza di sana. Ia berusaha mengejar Ara, yang sepertinya sudah berlari sangat jauh.


Sempat terpikir sesuatu di benak Bisma, ‘Apakah aku bisa membiarkan Reza dan Ara tinggal pada kelas yang sama? Sementara aku tidak bisa mengawasinya, jika aku berada di kelas yang berbeda. Sama saja, aku membiarkan Reza melangkah lebih dulu daripada aku,’ batin Bisma, yang benar-benar tidak bisa melakukan hal itu.


“Gue harus minta pertukaran kelas!” lirih Bisma dengan spontan, yang lalu bergegas menuju ke ruangan guru untuk mengurus dan meminta izin untuk hal itu.


***


“Maaf Bisma, untuk saat ini ... Bapak belum bisa menyetujui permintaan kamu dalam hal perpindahan kelas. Karena ... ini sudah semester berjalan.” Respon kepala sekolah yang sangat mengecewakan Bisma.


Bisma menghela napasnya dengan panjang, ‘Harus bagaimana lagi aku menghalau pergerakan Reza? Aku tidak rela jika dia terus-menerus mendekati Ara. Bisa mati aku!’ batinnya, yang benar-benar tidak rela akan hal itu.


“Yah ... apa tidak ada kebijakan lainnya, Pak?” tanya Bisma sekali lagi memelas, untuk meyakinkannya. Ia hanya bergeming, membuat Bisma semakin lemas saja.

__ADS_1


__ADS_2