Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Tidak Suka Dengannya 2


__ADS_3

Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Jangan sedih ... gue gak benci kok sama loe. Biar gimana pun, loe itu adik gue,” ucap Bisma dengan datar, hanya sebatas ingin menghibur hati Ara yang sedang tersinggung.


Ara memandang lekat ke arah Bisma, membuat Bisma merasa agak bingung harus melakukan apa.


‘Apa ... dia ingin memelukku lagi? Aku sudah tidak kuasa menahan diri, jika memang benar dia ingin memelukku lagi,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat bingung dengan keadaan.


“Ara ngantuk ...,” lirih Ara, sembari mengusap matanya dengan pelan.


Bisma menghela napasnya dengan panjang, ‘Untung saja ... dia tidak memelukku lagi. Kalau ia sampai memelukku lagi, aku tidak sanggup menahannya,’ batin Bisma, yang benar-benar sudah ketakutan mengetahuinya.


“Ya udah, tidur gih. Besok kita berangkat sekolah lagi. Jangan mikirin laki-laki! Inget, lo sengaja gue rekomendasiin buat masuk ke sekolah gue, supaya gue bisa memantau keadaan lo!” ujar Bisma, yang merasa sudah harus menjaga Ara.


‘Dan supaya gue bisa mengenal lo lebih jauh lagi,’ batin Bisma yang ikut berbicara.


Bisma tidak bisa mengatakan hal ini pada Ara.


‘Hanya dengan cara ini, aku bisa terus bertemu dengannya. Entah di rumah, atau di sekolah,’ batin Bisma, merasa sangat senang bisa melakukan ini bersama dengan Ara, bersama-sama.


Ara mengangguk lemas, seperti tidak ingin mendengar apa pun lagi dari Bisma. Bisma pun mengerti, Ara pasti merasa lelah karena seharian beraktivitas. Begitu pun dirinya.


Bisma mengelus singkat rambut Ara, lalu meninggalkannya sendiri di sana.


‘Aku harus menyelesaikan urusanku dengan papa. Kalau tidak, dia akan terus-terusan mengganggu Ara,’ batin Bisma, yang benar-benar harus melakukan hal itu.


***


Bisma kembali menuju ruang makan. Ternyata, ayahnya masih berada di sana. Ayahnya menoleh ke arah Bisma, yang sedang melihat ke arahnya. Pandangannya selalu dingin, saat berhadapan dengan Bisma.

__ADS_1


‘Bagaimana aku bisa betah memiliki ayah seperti dia? Dia saja tidak pernah memberikan kehangatan padaku,’ batin bisma, yang tanpa pikir panjang, langsung duduk di hadapannya.


“Papa gak bisa begini! Jangan seenaknya muncul di hadapan Ara seperti ini. Ini terlalu mengejutkan, bukan?” tanya Bisma dengan nada awal yang tinggi.


Ayahnya menatap ke arahnya, lalu menaruh handphone yang sedang ia pegang, ke atas meja makan. Bisma melihat tatapan kesal darinya.


‘Sepertinya ... dia sudah cukup menahan sabarnya di hadapan Ara. Aku tidak masalah dengan emosinya yang meluap-luap itu. Aku tidak takut sama sekali!’ batin Bisma, yang sudah mempersiapkan semuanya di hadapan ayahnya.


“Apa salahnya? Papa cuma mau lihat anak Papa aja, kok. Biar bagaimanapun juga, Ara itu tetap anak Papa!” ucapnya dengan nada yang sama, dan terdengar sama sekali tidak bersalah.


Bisma semakin menyipitkan matanya, “Gara-gara wanita itu, Papa sampai rela nyakitin mama selama bertahun-tahun. Papa juga udah bikin hati mama remuk! Papa gak pernah mikirin perasaan mama! Sekarang, mama lagi sakit pun ... Papa sama sekali gak mau datang buat jenguk dia! Apa pantas sekarang papa datang menjenguk Ara?”


PLAK!


Satu tamparan mendarat di pipi kiri Bisma. Bisma sampai tidak percaya, ayahnya melakukan ini padanya, hanya karena ia membela ibunya sendiri?


Bisma menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


‘Aku? Jelas, tidak akan mengalah padanya!’ batin Bisma, benar-benar sangat mendominasi kali ini.


“Lebih baik Bisma mati, daripada harus diam terus-terusan! Bisma sama mama udah nahan ini selama 17 tahun! Kalau Papa gak cinta sama mama, kenapa juga Papa harus nikah sama mama? Kenapa Papa gak nikahin pelacur itu aja?” tanya Bisma, semakin menjadi.


Ayahnya terlihat semakin geram, setelah mendengar ucapan Bisma yang terdengar sangat kasar. Ada sedikit rasa goyah di hatinya.


‘Aku tidak ingin menyerah sampai di sini. Aku ingin menuntut hak ibuku padanya!’ batin Bisma, yang benar-benar tidak bisa melakukan apa pun saat ini.


“Bisma, Papa peringatkan sekali lagi untuk diam!” Nadanya semakin lama kian meninggi. Ia tiba-tiba saja memegang dada sebelah kirinya dan terlihat kehilangan kendali atas dirinya.

__ADS_1


“Aww ....” Ayah merintih kesakitan, dan terduduk di atas lantai. Sementara itu, Bisma hanya memandangnya dengan dingin.


“Lebih baik, Papa mati sekarang,” lirih Bisma dengan dingin.


Ayahnya terlihat seperti meminta tolong pada Bisma, tetapi Bisma sama sekali tidak menghiraukannya. Ia lantas terbujur kaku di atas lantai, dan sama sekali tidak bergerak.


“Bisma ...,” lirih seseorang yang Bisma tahu adalah Ara.


Ara terlihat berhambur dan bersimpuh di hadapan ayahnya. Ia menangis tersedu, setelah melihat kondisi ayahnya yang sudah terbujur kaku.


“Bisma, kenapa malah diam aja? Cepet bawa papa ke rumah sakit!!” suruh Ara, terdengar seperti sangat khawatir.


Bisma menghela napas panjang, tidak tahu harus berbuat apa.


“Kenapa diem aja sih, Bis? Ini Papa udah sekarat, lho!” bentak Ara sekali lagi, membuat Bisma semakin bingung jadinya.


Pandangan Ara menajam ke arah Bisma, “Kalau sampai terjadi sesuatu sama Papa, aku gak akan maafin kamu, Bis!”


Kata-kata yang baru saja Bisma dengar, membuatnya sangat bimbang.


‘Apa sebesar itu, kasih sayang yang Ara miliki untuk ayahku? Padahal ... aku yang anak kandungnya saja, malah menginginkan kematiannya dipercepat,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat tidak menyangka dengan apa yang Ara lakukan.


“Kenapa lo malah peduli sama bajingan ini sih, Ra? Dia yang udah bikin nyokap gue, dan nyokap lo menderita! Dia pantes buat mati! Biar dia sekalian nyusul nyokap lo di sana,” ucap Bisma dengan penuh emosi.


Bisma terdiam, memandang sikap Ara yang tiba-tiba saja berganti seperti itu. Ia terlihat sangat kesal, bahkan lebih kesal dibandingkan sikapnya yang sebelumnya.


Bisma sedikit gentar memandangnya, ‘Sepertinya, emosiku mengundang amarahnya Ara,’ batin Bisma, benar-benar sangat bingung dengan keadaan.

__ADS_1


Spontan Ara pun memelotot ke arah Bisma, membuat Bisma agak gentar melihatnya.


“Gak usah kamu bawa-bawa ibuku! Kamu gak punya hak untuk itu, bahkan menyebutkan namanya aja kamu gak berhak! Jadi, gak usah kamu peduli lagi sama ibu aku. Dan apa kamu pikir, aku gak denger semua ucapan kamu tadi barusan sama Papa? Aku denger semuanya, Bis! Aku denger itu! Ibuku memang seorang pelacur, persis seperti yang kamu bilang tadi. Tapi aku berusaha nerima takdir itu, walaupun sesekali aku mengeluh dengan takdir yang ada. Gak seperti kamu, yang masih belum menerima takdir kamu. Coba kamu bayangin, kalau Papa gak melakukan kesalahan itu, aku pasti gak bakalan ada di dunia ini, Bis. Kamu harus lihat hikmahnya!”


__ADS_2