
Setelah semua persiapan selesai, Bisma pun dibawa ke ruangan UKS oleh mereka. Ara berusaha mengikutinya dari belakang, untuk memastikan keadaan Bisma.
Seseorang menahan tangan Ara, membuat Ara spontan langsung menoleh ke arahnya untuk melihat siapa yang menahan tangannya.
Ara terkejut, karena ternyata Reza yang menahan tangannya. Ara memandangnya dengan bingung bercampur dengan perasaan paniknya.
“Lho ... kenapa Za?” tanya Ara.
Reza memandang Ara dengan tatapan datar, membuat Ara tidak mengerti dengan apa yang ia maksud.
“Aku mau ke Bisma dulu! Lepasin aku, Za!” ucap Ara yang terdengar agak membentaknya, sembari menghempaskan tangannya yang ditahan oleh Reza. Namun Reza pun berusaha agar Ara tidak melepaskan diri darinya. Hal itulah yang membuat Ara menjadi marah padanya.
“Lepasin Ara, Za! Jangan kira Ara nggak tahu, kalau ini semua karena kesengajaan dari kamu!” Ara tidak bisa menahan diri lagi untuk mengatakan hal ini pada Reza.
Ara melihat dengan sangat jelas, bahwa Reza yang telah melakukan semua ini dengan sengaja. Bidikan Ara tepat, hingga Reza tidak bisa mengelak semuanya di hadapan Ara.
“Jangan marah sama gue, Siti. Gue bakal lepasin lo, kalo lo janji nggak bakal marah sama gue,” ucap Reza, membuat Ara menjadi sangat bimbang.
Karena Ara tidak punya pilihan lain, Ara pun menyetujui ucapan Reza. Itu semua karena Bisma semakin jauh dan Ara tidak tahu akan dibawa ke mana Bisma oleh mereka.
“Iya, Ara janji nggak akan marah sama Reza. Sekarang, lepasin Ara dulu. Ara mau lihat keadaan Bisma,” ucap Ara yang terdengar sangat khawatir.
Mendengar ucapan Ara, Reza menjadi sangat bingung mendengarnya. Ia merasa sangat sedih, karena Ara ternyata lebih memedulikan Bisma dibandingkan dirinya.
‘Apa Bisma lebih penting daripada aku?’ batin Reza, yang sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi.
Perlahan Reza pun melepaskan genggaman tangannya dari Ara. Ara lalu berlari mengikuti rombongan orang yang sedang membawa Bisma pergi. Reza merasa, kesalahannya ini justru malah membuat Ara semakin dekat dengan Bisma. Saat ini, ia sangat menyesal melakukan semua itu.
“Harusnya gue gak ngelakuin ini ke Bisma! Itu malah bikin dia tambah deket sama Siti!” gumam Reza dengan kesal, menyesali perbuatan kali ini.
__ADS_1
‘Aku tidak menyangka, kejadiannya malah akan jadi seperti ini. Aku malah jadi kesal sendiri,’ batinnya kesal.
“Argh!”
Sementara itu, Ara berusaha berlarian mencari rombongan yang tadi membawa Bisma. Ia kehilangan jejak, karena Reza yang menahannya tadi. Ara malah menjadi bingung harus memilih di antara persimpangan jalan, membuatnya berhenti sejenak untuk melihat keadaan.
“Aduh ... mereka pada ke mana sih? Ara ‘kan bingung kalau disuruh muter-muter sekolah ini. Ara belum terlalu hapal!” lirih Ara, sembari mengatur napas dan melihat sekelilingnya.
‘Ternyata benar ... aku masih terlalu awam untuk mengetahui lebih jelas beberapa lokasi di sekolah ini,’ batin Ara, benar-benar sangat tidak percaya dengan keadaan ini.
Hampir putus asa, beberapa orang melewatinya saat ini. Tanpa pikir panjang, Ara pun langsung menghadang jalan mereka.
“Permisi ... kalian tahu nggak, ruang UKS lantai dasar di mana?” Ara memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka.
Mereka menatap Ara dengan pandangan yang tidak enak, membuat Ara menjadi agak canggung di hadapan mereka.
Tidak ada waktu untuk memikirkan masalah perasaan. Ara hanya butuh informasi mengenai ruangan yang ia cari, untuk bisa melihat keadaan Bisma sekarang.
“Maaf udah ganggu waktu kalian. Aku cuma mau tahu, ruang UKS di lantai dasar di mana, ya?” tanya Ara sekali lagi, tetapi mereka masih saja menatap Ara dengan tatapan aneh.
“Dari sini lo ambil kanan, lurus aja terus, ruangannya ada di paling pojok. Inget, enggak usah lo muncul lagi dihadapan kita, ngerti nggak lo?” Salah seorang yang lain menyahut tiba-tiba, tetapi Ara tersenyum ke arahnya.
“Iya makasih, ya!” ucap Ara dengan nada yang tergesa-gesa.
Karena sudah mendapatkan informasi dari mereka, Ara pun langsung mengikuti petunjuk darinya. Ia berlarian menuju ruangan UKS, untuk melihat keadaan Bisma. Ara mencarinya, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak terlewat dengan ruangan yang ingin ia tuju.
Setelah lama mencari, akhirnya Ara menemukan ruangan itu. Ia kembali berlari agar bisa cepat sampai ke ruangan. Tiba-tiba saja seorang gadis datang dengan sangat tergesa, membuat Ara berhenti sejenak. Gadis itu terlihat masuk ke dalam ruangan itu, membuat Ara menghampirinya dan mengintipnya dari jendela.
Terlihat gadis itu yang memandang Bisma dengan tatapan iba. Ara merasa gadis itu sangat dekat dengan Bisma. Perasaan Ara mendadak menjadi sedih, dengan sesuatu yang ia lihat ini.
__ADS_1
‘Bisma deket banget sama dia. Sebenarnya, apa hubungan mereka?’ batin Ara, benar-benar sangat bingung dan sedih memandang ke arah mereka.
Karena sudah terlalu sedih, Ara pun memutuskan untuk pergi dari sana. Ia membalikan tubuhnya, untuk segera pergi dari sana.
Baru beberapa langkah, Ara tak sengaja menabrak seseorang yang ternyata sudah berdiri di belakangnya. Ara pun langsung menoleh untuk melihat orang yang ia tabrak tadi.
“Hati-hati,” lirihnya dengan dingin, yang tatapannya tak kalah dinginnya dengan ucapannya.
Melihat orang ini, membuat Ara merasa aneh dengan dirinya. Namun karena Ara tidak ingin membuatnya bingung, Ara pun akhirnya menunduk sedikit dari tatapannya.
“Maaf ... Ara nggak sengaja,” ucap Ara yang tak enak dengannya, hanya bisa membuang pandangannya sembari menunduk. Ara sangat takut apabila lelaki ini marah padanya.
Seseorang yang ditabrak Ara ternyata adalah Morgan. Ia hanya bisa memandang wajah Ara yang ketakutan, dengan pandangan yang bingung.
‘Gadis ini terlihat sangat lugu. Dia bahkan tidak berani untuk menatap mataku. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?’ batin Morgan, heran dengan apa yang Ara lakukan.
“Gue nggak mau makan lo, kok!” ucap Morgan lirih, masih dengan nada khasnya.
Ara terlihat curi-curi pandang pada Morgan, membuat Morgan menjadi sangat heran dengannya.
‘Jadi ini ... sikap lugu adik tiri Bisma? Apa ... dia khawatir dengan keadaan Bisma?’ batin Morgan, yang menatap Ara dengan heran, sembari mencoba membaca keadaan.
“Lo ke sini ... buat ngelihat keadaan Bisma?” tanya Morgan dengan nada membidik, membuat Ara terlihat seperti seseorang yang kehabisan kata-kata.
Hal itu terlihat cukup manis bagi Morgan.
“Enggak kok! Aku ke sini karena mau minjem alkohol sama kain kasa,” sanggah Ara, dengan nada yang sangat menggemaskan.
Melihat sikap Ara yang sangat imut, Morgan sepertinya sedikit tertarik padanya. Morgan tak bisa memungkiri, ternyata gadis polos seperti Ara memang sangatlah menggemaskan.
__ADS_1