
Setelah mengantarkan kembali Ara pulang ke rumahnya, Morgan pun berencana untuk mengatakan hal ini pada Bisma. Walaupun mereka sempat terlibat konflik, tetapi Morgan tidak bisa menahan untuk mengatakan berita ini kepada Bisma.
Morgan kembali menuju ke arah taman, untuk menunggu kedatangan Bisma. Kebetulan sekali, Reza dan Adelia sudah tidak ada di sana, membuatnya lebih leluasa lagi mengatakan hal yang ia lihat tadi saat bersama dengan Ara.
Beberapa saat menuggu, Bisma pun datang dengan motor sport-nya. Morgan memandangnya dengan datar, sembari merapikan novel yang baru setengah halaman ia baca itu.
Bisma melangkah ke hadapan Morgan, dan memandangnya dengan sinis. “Ngapain lo nyuruh gue ke sini, hah? Belum puas ngehajar gue tadi?” tanya sinisnya, Morgan hanya bisa memandangnya dengan datar saja.
“Duduk dulu, bicara sambil berdiri itu gak sopan,” celetuk Morgan, membuat Bisma sedikit malu mendengarnya.
Bisma pun duduk di sebelahnya, “Ada apa manggil gue, hah?” tanyanya dengan nada yang ketus.
Morgan memandang Bisma dengan datar. “Kenapa cepat banget sampainya, sih? Gue baru baca setengah halaman. Dasar, ganggu gue baca novel aja,” gerutunya, Bisma merasa sedikit kesal mendengarnya.
“Ini yang ngeganggu sebenernya gue, apa lo? Gue lagi asyik tidur, kenapa lo suruh ke sini? Kenapa lo malah keganggu sama kedatangan gue?” tanya Bisma sinis, Morgan menghela napasnya dengan panjang.
“Sudahlah, bukan ini yang mau gue bahas sama lo,” ujar Morgan, Bisma memandang Morgan dengan pandangan penasaran.
Jika Morgan sudah mengatakan hal ini, Bisma sangat mengetahui kalau percakapan mereka ini akan menuju ke arah yang serius.
“Memangnya, apa yang mau lo bahas sama gue?” tanya Bisma penasaran.
Morgan memandang dalam ke arah Bisma. “Udah tau belum, Adele balik ke sini?” tanyanya, sontak membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.
“Hah? Adele?” pekik Bisma, tak percaya dengan apa yang Morgan katakan.
“Ya, Adele.”
__ADS_1
“Adele ... yang dulu pernah jadi mantan gue?” tanya Bisma lagi, berusaha untuk meyakinkan dirinya dengan ucapan Morgan.
“Bukan, Adele penyanyi. Mau touring dia ke Indonesia,” seloroh Morgan dengan nada yang datar, membuat Bisma kesal sampai memukul bahu Morgan dengan keras.
“Sial!” bentak Bisma, yang merasa kesal dengan ucapan Morgan yang malah main-main di hadapannya.
“Ya lo lagian, kenapa masih nanya? Fungsinya gue bilang ke lo apa, kalau gak menyangkut tentang lo?” ujar Morgan, Bisma menghela napasnya panjang.
“Lo lihat dia di mana?” tanya Bisma.
“Tadi ... waktu gue lagi ngobrol sama Ara di sini, gue gak sengaja ngeliat Adele lagi ngobrol sama Reza. Kayaknya orang pertama yang dicari itu Reza, ya. Gue kira, dia bakalan nyari lo duluan,” ujar Morgan menjelaskan, yang cukup membuat Bisma terbakar mendengarnya.
“Sialan, memang dari dulu cewek itu selalu bandingin gue sama Reza. Gue punya raganya, tapi gak punya hatinya,” ujar Bisma, Morgan menyeringai di hadapannya.
“Kayak judul lagu ....”
Bisma memandang Morgan sinis, “Gak, gue lagi gak bercanda, sial!” bentaknya, Morgan sedikit tertawa mendengarnya.
“Ya ... Reza ‘kan pindah rumah ke daerah sini. Cuma beda beberapa blok aja dari rumah gue,” jawab Bisma, membuat Morgan menganga kaget mendengarnya.
Pasalnya, Morgan baru mengetahui hal ini. Ia merasa cukup terkejut, karena sekarang mereka jadi satu ruang lingkup bukan hanya di sekolah saja, tetapi juga di lingkungan perumahan ini.
“Oh, dia pindah ke sini. Gue baru tahu,” gumam Morgan, Bisma hanya bisa diam saja karena pikirannya masih tertuju pada Adele.
‘Kenapa dia balik ke sini, ya? Kenapa juga yang ditemuin pertama kali itu Reza, dan bukan gue?’ batin Bisma, yang memang sedikitnya masih menyimpan perasaan pada gadis blasteran bernama Adele itu.
Morgan melihat keresahan hati Bisma, dan memandang ke arah Bisma dengan tegas.
“Lo masih mikirin Adele?” tanya Morgan, Bisma mengalihkan pandangannya ke arahnya dan hanya diam.
Sejenak mereka saling bertatapan, karena Bisma yang bingung harus mengatakan apa pada Morgan.
__ADS_1
“Lo masih cinta sama Adele?” tanya Morgan lagi, Bisma menggelengkan kecil kepalanya.
“Entahlah, sejak dia pergi ninggalin gue, dunia gue itu seakan udah hancur. Dia bisa ya, seenaknya permainin hati gue gitu. Padahal, hubungan kita udah serius banget, dan kita juga udah ....” Bisma tak melanjutkan ucapannya karena tak kuasa. “Sudahlah ....”
Morgan mengela napasnya dengan panjang. “Hubungan lo sama Adele rumit banget di masa lalu. Lo juga bukan hanya sekadar pacaran aja sama dia. Gue harap, kalian gak sangkutin Ara ke masalah kalian,” ujarnya, berusaha memperingati Bisma sejak awal.
Bisma menghela napasnya dengan panjang. “Mana ada gue sangkutin Ara di dalam masalah ini? Enggak, lah!” sanggahnya.
“Bukan lo, tapi Adele.” Morgan menatap Bisma dengan tegas, membuat Bisma memandangnya dengan bingung.
“Kenapa? Kenapa dia?” tanya Bisma, yang masih belum mengerti dengan keadaan.
“Ya, gue cuma khawatir aja dia nyari masalah sama Ara, karena dia baru ketemu dan kenal sama Ara. Sama seperti Fla yang suka sama Reza, dia bikin satu kelas musuhin Ara, hanya karena Reza kelihatannya deket sama Ara,” ujar Morgan menjelaskan tentang keresahan hatinya.
Bisma membulatkan pandangannya, baru mengetahui tentang permasalahan yang terjadi antara Fla dan juga Ara. Hal itu sungguh tidak bisa ditoleransi Bisma. Amarahnya seketika memuncak, membuatnya ingin sekali membalaskan rasa sakit yang mungkin Ara rasakan, pada Fla.
“Gak bisa dibiarin! Kalau gue tau Ara di-bully sekelas, gue pasti bakalan bertindak lebih awal!” geram Bisma, Morgan menghela napasnya dengan panjang.
“Telat, lo ke mana aja?” cemooh Morgan, Bisma merasa tidak menerima akan hal itu.
“Ya gue gak tau sama sekali, Gan! Kalau gue tau dari awal, mungkin gue bakal peringatin si Fla licik itu, sama seperti gue peringatin Ilham kemarin,” ujar Bisma.
Morgan menggelengkan kecil kepalanya, “Lo mau ngelakuin hal yang sama yang lo lakuin ke Ilham, buat ngasih pelajaran ke Fla?” tanyanya, Bisma terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
“Gue punya cara sendiri,” jawab Bisma, Morgan hanya terdiam mendengarnya.
“Pokoknya gue gak mau ikut campur masalah lo sama Adele. Gue cuma mau, lo awasin pergerakan Adele, jangan sampai Adele kemakan omongan Fla atau Gladis,” ujar Morgan menegaskan.
Bisma bingung mendengarnya. “Kenapa bawa-bawa Fla sama Gladis?” tanyanya heran.
Mendengar hal itu, Morgan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
“Memangnya lo lupa? Sebelum Adele ke Amerika, dia satu genk sama Fla dan Gladis, bukan?” ujar Morgan, membuat Bisma mendelik kaget karena melupakan hal itu.