Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Ara Sadar


__ADS_3

Mendengar apa yang Reza katakan itu, membuat Morgan menjadi sangat heran dengannya.


‘Kenapa dia percaya diri banget, sih?’ batin Morgan, yang tidak bisa membiarkan semua itu terjadi.


Morgan tidak bisa membiarkan Ara sampai harus jatuh ke pelukan Reza, apalagi Bisma, Ia harus bisa menarik kembali Ara, agar hubungan mereka bisa terus terjalin.


Bisma melihat ke arah ruangan Ara, dan ternyata Ara sudah sadar. Ia dengan segera masuk ke dalam ruangan Ara, meninggalkan Morgan dan Reza di sana.


“Ara sadar!” ujar Reza, yang lalu segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


Morgan tidak mau buru-buru, dan membiarkan mereka masuk lebih dulu darinya. Ia merasa sangat kesal, karena ternyata mereka masih saja mengejar Ara. Padalah, mereka sudah tahu kalau ia dan Ara berpacaran.


“Mereka gak ada berhentinya, ya? Padahal mereka sudah tahu, kalau gue dan Ara pacaran. Kenapa mereka malah semakin gencar ngedeketin Ara?” gumam Morgan yang heran dengan apa yang mereka lakukan.


Karena Morgan juga ingin melihat keadaan Ara, ia pun segera masuk ke dalam ruangan kamar Ara.


Melihat kedatangan Morgan di hadapannya, Ara pun memandangnya dengan datar, membuat Reza dan Bisma tersadar dengan pandangan yang Ara lontarkan pada Morgan.


Ara menghalihkan pandangannya ke arah Bisma dan Reza, membuat Morgan merasa sangat kesal melihatnya.


Morgan merasa, jika Ara sama sekali tidak ingin melihatnya. Hal itu dibuktikan dengan Ara yang tidak mau memandang ke arahnya.


‘Sial! Si Ara gak mau lihat gue!’ batin Morgan, kesal dengan apa yang Ara lakukan di hadapannya itu.


Morgan memandang dalam ke arah Ara, “Udah siuman. Lo butuh apa, Ra? Biar nanti gue bawain,” tanya Morgan, Ara pun memandangnya dengan sinis, berusaha untuk menyalurkan semua perasaan kesalnya pada Morgan.


“Gak usah, Morgan. Nanti Ara minta sama Bisma aja,” tolak Ara, sontak membuat Bisma tersenyum menyunggingkan bibirnya ke arah mereka.


‘Mereka mau apa? Gak akan ada yang bisa dapetin Ara,’ batin Bisma, merasa sangat senang dengan keadaan ini.


Tak hanya Morgan saja yang kesal, Reza pun kesal karena Ara masih saja mengatakan hal tentang Bisma. Ia merasa kesal, karena Ara terus mengatakan hal mengenai Bisma di hadapannya.

__ADS_1


‘Bisma? Ada gue di sini, dia malah ngomongnya Bisma,’ batin Reza, yang juga kesal dengan apa yang Ara katakan itu.


Untuk menepis rasa kesalnya, Reza pun memandang Ara dalam, dan berusaha untuk mengalihkan fokus Ara.


“Ra, kenapa ini terjadi sama lo? Apa alasan lo masuk rumah sakit?” tanya Reza.


Ara menghela napasnya dengan panjang, “Ara cuma telat makan aja, kok!” jawabnya, membuat Morgan merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.


‘Gak mungkin karena telat makan doang, pasti ada penyebab lain dan penyebab itu adalah gue. Kenapa dia gak mau berterus-terang sama mereka, sih?’ batin Morgan, heran dengan apa yang Ara katakan itu.


Morgan menghela napasnya panjang, ‘Kalau aja gue gak marahin Ara waktu itu, mungkin Ara gak akan meminta putus! Kenapa gue malah bodoh, sih? Gue salah mengira, kalau kelinci seperti Ara bisa dengan mudahnya dipengaruhi. Ternyata sangat susah mengganti kebiasaannya,’ batin Morgan, merasa sangat menyesali perbuatannya itu.


Bisma memandang ke arah mereka dengan datar, “Kalian mending pulang aja sekarang. Gue bisa kok jagain Ara sendirian,” suruhnya, sontak membuat Morgan dan Reza mendelik kaget mendengarnya.


“Gue mau di sini aja jagain Ara,” tolak Morgan.


“Ya, gue juga udah bilang sama ayah gue, dan gue akan jagain Ara di sini semalaman,” tolak Reza juga, membuat Ara merasa sangat sesak mendengarnya.


“Gue mau jaga Ara, mending kalian balik. Kalian pasti dicariin dengan keluarga kalian,” ujar Bisma sekali lagi, Morgan dan Reza pun menggelengkan kepalanya untuk menolak ucapannya.


“Gak, gue di sini aja,” tolak Morgan lagi, membuat Reza mengangguk kecil menyetujui ucapan Morgan kali ini.


Karena sudah merasa terganggu dengan kehadiran Morgan dan Reza, Ara pun memandang sinis ke arah mereka.


“Ara gak mau kalau Morgan dan Reza nungguin Ara di sini. Ara minta kalian pulang aja sekarang,” ujar Ara yang tidak menginginkannya dan meminta mereka pulang dari sana.


Sempat shock dengan apa yang mereka dengar dari Ara, mereka pun akhirnya mengangguk kecil dan menyetujui apa yang Ara inginkan.


Ini semua demi kenyamanan Ara.


“Oke, gue balik dan gak nginep,” ujar Morgan, menyetujui apa yang Ara katakan.

__ADS_1


“Ya, gue juga,” ujar Reza, yang juga menyetujuinya.


Ara pun tersenyum mendengarnya, “Baiklah. Terima kasih karena sudah mengerti.”


Morgan memandang dalam ke arah Ara, “Jangan sampai bikin gue khawatir lagi kayak sekarang, ya. Cek handphone lo, jangan sampai gak nerima telepon dari gue nanti,” ujarnya, Ara melupakan handphone-nya.


“Ara juga gak tau mana handphone Ara,” ujar Ara dengan polosnya.


Bisma mengeluarkan sesuatu dari sakunya, “Ini handphone lo mati. Gue cuma bawa handphone, gak bawa charger. Mungkin besok gue minta tolong orang rumah, minta bawain charger,” ujar Bisma, Ara pun tersenyum mendengarnya.


“Makasih, Bisma.” Ara tersenyum di hadapan Bisma, walaupun terlihat masih lemas dan pucat.


“Ya udah, Ra. Gue pulang dulu. Itu buah dan bunga gue bawain buat lo, jangan sampai gak lo makan ya buahnya!” ujar Reza, berusaha untuk mengingatkan tentang hal yang ia bawakan untuk Ara.


Morgan merasa kesal mendengarnya, tetapi ia tidak bisa mengatakan apa pun di hadapan Reza. Ia juga tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya karena masalah bunga dan buah yang Reza bawakan untuk Ara.


‘Sabar, tahan. Jangan sampai Ara malah makin marah sama lo!’ batin Morgan, yang berusaha untuk menahan dirinya sendiri.


“Ya udah gue pamit,” ujar Reza yang lalu pergi meninggalkan mereka di sana.


Morgan memandang dalam ke arah Ara. “Ra, gue pulang dulu. Besok gue ke sini lagi buat jenguk lo,” ujarnya.


Karena Ara tidak ingin masalahnya dengan Morgan sampai terdengar oleh Bisma, Ara pun hanya bisa mengangguk kecil mendengar ucapan Morgan padanya.


“Ya,” jawab Ara singkat, seperti bukan seorang pacar.


Morgan pun meninggalkan mereka, membuat Ara merasa sangat lega karena Morgan dan Reza yang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.


Kini, hanya tinggal Bisma dan Ara saja yang berada di ruangan tersebut. Bisma memandang Ara dengan sinis, seperti sedang ingin melahapnya.


“Ini semua salah lo! Seandainya lo mau makan makanan gue waktu itu, lo pasti gak akan telat makan kayak gitu!” bentak Bisma, Ara pun menghela napasnya dengan panjang.

__ADS_1


__ADS_2