
Bisma menarik tangan Ara, dan sampai di depan pintu rumah Ilham. Di sana, Ara terlihat gugup, dengan Bisma yang memandangnya dengan dingin.
“Lo mau jenguk Ilham, ‘kan? Tekan belnya sekarang!” suruh Bisma.
Sebenarnya Ara tidak ingin melakukannya jika ada Bisma di sini, tetapi ia sudah terlanjur sampai di rumah Ilham, dan harus melakukan hal yang sebelumnya ingin ia lakukan, yaitu menjenguk Ilham.
Namun, perasaan bimbang masih saja menyelimuti Ara, karena Ilham seperti ini karena Bisma. Bukan hal yang tidak mungkin jika mereka berkelahi lagi, di depan matanya.
‘Nanti kalau Ilham ketemu sama Bisma lagi, bakalan ribut lagi gak ya?’ batin Ara merasa bingung.
Morgan pun tiba di hadapan mereka, dengan membawa buah-buahan di tangannya. Ia langsung menekan bel rumah Ilham. Hal itu membuat Ara merasa sangat terkejut.
“Morgan ....” Ara bergidik ngeri, karena sebenarnya ia tidak siap dengan keadaan yang aneh seperti ini.
Wajar saja Ara tak siap, karena yang memulai perkelahian ini adalah Bisma. Saat ini Bisma di sini untuk menjenguk Ilham, bukan hal yang tidak mungkin jika Ilham masih memiliki dendam pada Bisma.
Seseorang datang membukakan pintunya, sehingga membuat Ara dan yang lainnya terkejut. Terlihat seorang wanita dewasa yang terlihat sangat anggun, berdiri di hadapan mereka.
“Selamat siang, Tante. Saya Morgan, temannya Ilham. Kami datang mau jenguk Ilham.
Mendengar ucapan Morgan, wanita itu pun tersenyum. “Baiklah. Silakan masuk,” ucapnya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Ilham, karena sudah ada izin dari ibunya Ilham. Namun, Ara masih takut saja jika Bisma dan Ilham kembali berkelahi di hadapannya.
Ara menghela napasnya dengan panjang. Buru-buru ia tepiskan apa yang menghantui pikirannya itu.
__ADS_1
‘Ah, ada Morgan. Gak mungkin mereka sampai berantem lagi kayak kemarin,’ batin Ara, yang sedikit merasa tenang dengan hal itu.
Mereka dibawa masuk ke dalam ruangan kamar Ilham. Di sana, Ilham sedang disuapi makan oleh wanita yang sepertinya adalah pembantu mereka. Ara memandang Ilham dengan sendu, karena ternyata luka bekas pukulan Bisma terlihat sangat mengerikan.
‘Lukanya ngeri banget! Bisma parah banget, sampe ngehajar Ilham dengan kekuatan monster seperti itu,’ batin Ara yang merasa kasihan dengan Ilham saat ini.
“Ilham, ini ada teman-teman kamu menjenguk kamu,” ucap ibunya, membuat Ilham mengalihkan pandangannya ke arah mereka.
Ilham mendelik kaget, karena ia melihat Morgan, Bisma, dan juga Ara, yang sedang menjenguknya saat ini.
‘Bisma? Mama gak tau ‘kan kalau ini Bisma?’ batin Ilham, yang khawatir tentang hal ini.
“Oh, ya Mah. Mama bisa keluar sebentar?” tanya Ilham, ibunya pun mengangguk mendengarnya.
“Iya Tante,” ucap Ara tak enak padanya.
Sikap lembut ibunya Ilham kepada mereka, membuat Ara berpikir sejenak.
‘Ibunya baik banget, kenapa Ilham sikapnya begitu, ya?’ batin Ara heran, karena sikap ibu dan anak ini yang sangat bertolak belakang.
Ibunya dan pelayannya sudah meninggalkan mereka di sana. Hal itu membuat Ara dan yang lainnya semakin leluasa untuk berbicara kepada Ilham.
Ara memandang dalam ke arah Ilham, “Ham, kami datang buat jenguk kamu,” ucapnya, membuat Ilham memandang kesal ke arah Ara.
“Buat apa kalian ke sini? Gue ‘kan udah nyakitin lo dari dulu, dan gue begini juga karena Bisma. Ngapain juga Bisma datang ke sini? Apa masih kurang puas buat ngehajar gue? Gue udah bilang, gue gak akan ganggu lo lagi, dan gue beneran ngomong begini,” ucap Ilham dengan sinis, yang sudah berpikiran negative saja tentang Ara dan yang lainnya.
__ADS_1
Mendengar Ilham yang mengatakan hal itu, Morgan pun menatap Ilham dengan tegasnya.
“Justru kita ke sini buat jenguk lo, dan menyelesaikan pertikaian yang ada. Lo udah janji gak akan ganggu Ara lagi, dan Bisma akan minta maaf sama lo untuk semua yang dia lakuin ke lo,” ucap Morgan, sontak membuat Bisma mendelik kaget ke arahnya.
“Hah?” gumam Bisma, terkejut dengan apa yang Morgan ucapkan itu. Morgan hanya memandangnya saja dengan datar, lalu memandang ke arah Ara.
“Ya, Ilham. Seluruh biayanya nanti akan ditanggung ayah Ara, untuk pengobatan kamu,” ucap Ara, Ilham tak habis pikir dengan hal ini.
“Gak usah, gue gak kekurangan duit buat ngobatin luka gue,” tolak Ilham dengan datar, membuat Bisma terpancing emosi mendengarnya.
“Lo tuh ya—”
Bisma tertahan, karena Morgan yang menahannya dengan tangannya. Bisma pun tersadar, kalau mereka saat ini sedang berada di rumah Ilham.
‘Ya sudahlah, lagipula Ilham udah bilang kalau dia gak akan ganggu Ara lagi. Gue juga udah puas buat ngehajar dia, jadi ... gak ada salahnya kalau gue minta maaf sama dia. Siapa tau kalau gue minta maaf, dia bakalan masih kasih contekan buat gue,’ batin Bisma, yang berusaha untuk menerima keadaan ini.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Gue minta maaf sama lo, Ham. Gue udah bersikap kasar sama lo kemarin. Maaf, itu gue kepancing emosi, karena lo udah bikin ade gue sengsara karena bully,” ucapnya dengan nada yang terdengar jelas seperti ditekan sebisa mungkin.
Siapa pun yang mendengar nada bicara Bisma pasti mengerti, kalau Bisma sedang tidak tulus mengatakannya di hadapan Ilham. Namun, Ilham yang memang sudah tidak ingin mengulangi kesalahannya, berusaha untuk memaafkan Bisma. Karena biar bagaimanapun juga, ini juga karena kesalahannya sudah membully Ara. Ia sudah sepantasnya mendapatkan pelajaran dari Bisma.
“Ya, gue maafin lo.” Ilham langsung memandang ke arah Ara, “Maafin gue juga ya, Ra. Gue udah bully lo dari dulu. Sekarang malah lo jenguk gue begini. Harusnya lo gak perlu melakukan hal itu sama orang yang udah bikin hidup lo sengsara,” ucapnya, membuat Ara tersenyum mendengarnya.
“Ya, Ara gak permasalahin lagi kok. Kita ‘kan satu sekolah, gak baik kalau musuh-musuhan. Ara juga udah mulai terbiasa dengan ucapan mereka dan sikap mereka ke Ara, tapi ... Ara cuma khawatir kalau mereka sampai nyeret Bisma ke dalam permasalahan ini. Ara cuma gak mau Bisma malu, karena biar bagaimanapun juga hal itu menyangkut tentang Bisma, karena ayahnya Bisma dan ayah Ara itu orang yang sama,” ujar Ara menjelaskan, membuat Ilham mengerti dengan maksud dan perkataan Ara itu.
Secara tidak langsung, ia sudah membuat Bisma dalam masalah besar dengan mengatakan bahwa Ara adalah anak haram. Kini, semua orang tahu bahwa Ara adalah anak haram. Mereka belum tahu, kalau Ara dan Bisma adalah saudara, membuat Ilham terbebani karena masalah ini.
__ADS_1