Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Tolong Ara!


__ADS_3

Pagi ini Bisma menunggu Ara keluar dari kamarnya. Sepertinya Ara terlambat bangun pagi ini. Bisma saja sudah memakan habis tiga lembar roti, tetapi Ara tak kunjung datang juga ke meja makan.


Sampai Bisma menyelesaikan sarapannya, Ara pun tak kunjung keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Bisma bertanya-tanya, dengan yang terjadi dengan Ara.


“Ara belum bangun kali ya?” lirih Bisma bertanya-tanya, dan berpikir untuk bertanya pada kepala pelayan yang bekerja di rumahnya.


“Ujang!” teriak Bisma, tetapi tak ada jawaban dari pelayannya itu. Padahal Bisma tak sabar untuk menanti kehadirannya.


“Ujang!!” Bisma semakin berteriak dengan kencang.


Terlihat Ujang yang sedang berhamburan menuju ke arah Bisma. Ia memandang Bisma dengan napasnya yang masih tersengal.


“Ada apa, Den Bisma?” tanya Ujang dengan spatula yang masih berada di tangannya. Sepertinya, ia sedang mempersiapkan makanan lainnya untuk Bisma.


“Ara mana?” tanya Bisma dengan nada yang datar, hingga terlihat keraguan dari Ujang.


“Non Ara ... su-sudah berangkat dari tadi pagi, Den.”


Bisma mendelik kaget mendengarnya, “Apa?” tanya Bisma dengan nada yang meninggi, tak percaya dengan apa yang Ujang ucapkan.


“Dia berangkat sama Den Mor—”


Tidak ada waktu lagi bagi Bisma untuk mendengarkan ucapan Ujang. Bisma bangkit, karena harus segera berangkat menuju ke sekolah. Ia tidak ingin, terjadi sesuatu dengan Ara nantinya. Hal itu membuat Ujang menjadi bingung melihatnya.


“Den Bisma!” pekik Ujang, yang tak dihiraukan oleh Bisma.


Bisma berlarian setelah menyambar tasnya, lalu segera mengemudikan mobil dengan perasaan yang tidak tenang, karena was-was dengan keadaan Ara.


‘Ara sudah merasakan kesedihan, karena ulahku. Aku ingin secepatnya menjelaskan keadaan yang sebenarnya, dan menyatakan perasaanku padanya!’ batin Bisma, yang segera melajukan kendaraannya dengan cepat.


Sementara itu, terlihat Ara yang sudah sampai di sekolah bersama dengan Morgan. Ara menunggu Morgan untuk membukakan pintu mobilnya. Seperti biasa, Morgan memang terlihat sangat romantis. Namun, sikap Morgan yang kaku membuat Ara menjadi sedikit canggung jika berhadapan dengannya.

__ADS_1


Morgan membukakan pintu mobilnya untuk Ara, lalu segera menutup kembali pintu mobil, setelah Ara sudah melangkah keluar. Ara memandang Morgan dengan tatapan yang penuh harap.


“Gue gak bisa antar lo sampai kelas. Gue harus ke kelas sebelah dulu, buat ngambil novel yang gue pesan di temen,” ucap Morgan, membuat Ara paham dengan maksud perkataannya.


“Ara bisa kok ke kelas sendiri,” ujar Ara dengan lirih, sembari melontarkan senyuman ke arah Morgan.


Morgan malah jadi tidak yakin mendengarnya, karena ia khawatir jika Ilham berusaha untuk mendekatinya lagi. “Gak apa-apa memang?” tanyanya yang memastikannya pada Ara.


Aku mengangguk, sembari tetap tersenyum di hadapan Morgan.


Karena harus berangkat terlalu pagi, Ara jadi tidak sempat berdandan ala anak kota lainnya. Kini, Ara pun kembali menjadi dirinya sendiri yang memakai kacamata. Ia sudah tidak peduli lagi dengan perkataan orang lain padanya. Karena hal kemarin yang mendebarkan, Ara jadi berusaha menjadi dirinya sendiri. Ara hanya perlu sedikit berani, untuk bisa melawan mereka semua. Ara harus mengubah sikap itu.


Morgan memandangnya dengan pandangan yang tak rela. “Ya udah, hati-hati ya?” tanyanya, membuat Ara mengangguk kecil. Morgan pun pergi meninggalkan Ara sendiri di sana. Ara hanya bisa menatap Morgan dari kejauhan, yang sudah hilang di balik kerumunan orang.


‘Morgan baik banget, kenapa dia bisa suka sama Ara, ya?’ batin Ara, merasa heran dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan juga Morgan.


“Wah ... wah ... wah ....”


‘Apa yang ia inginkan dariku?’ batin Ara heran.


“Mau ngapain kamu?” tanya Ara dengan sinis, dia tersenyum sinis ke arah Ara.


“Arasha, kembali seperti sedia kala. Kembali dengan tampang culunnya!”


Ucapannya itu membuat hati Ara sakit. Ara merasa kesal, karena ia masih saja membully dirinya.


‘Kenapa aku masih belum bisa menahan perasaanku? Padahal, aku sudah menguatkan diriku, untuk tidak mendengarkan ucapan mereka yang tidak baik padaku. Tapi tetap saja, untuk hal seperti ini, aku tidak bisa menahan. Apa mungkin ... karena ia memegang kelemahanku?’ batin Ara, merasa sangat sedih karena tidak bisa menahan perasaannya.


“Kenapa gak makeup lagi kayak kemarin?” tanyanya, membuat Ara berjaga-jaga di hadapannya.


“Mau apa kamu?” tanya Ara lagi dengan sinis.

__ADS_1


Seseorang yang ternyata adalah Ilham, mendekat ke arah Ara dengan sikap yang semaunya saja. Ia berdiri tepat di sebelah telinga Ara, membuat Ara merasa sangat khawatir dengan hal yang mungkin saja akan Ilham lakukan padanya.


“Gak nyangka ya, kita ketemu lagi di sini?” Ilham berbisik lirih di telinga Ara, membuatnya sangat risih dengan tingkah bodohnya ini.


Ara berusaha untuk menghindar dari sisinya. ‘Kenapa ia terus menggangguku seperti ini, sih?’ batinnya penuh dengan keresahan.


“Bocah yang sering gue ganggu, karena terkenal dengan kecerdasannya. Sampai-sampai, gue ngerasa tersaingi. Gue juga jadi gak dapat uang saku, karena kalah dari orang macam lo! Ternyata kita ketemu lagi di sini. Dunia memang selebar daun kelor,” ucap Ilham dengan nada yang berhasil membuat Ara muak.


“Udah deh, Ara males sama kamu!” ujar Ara, yang tidak bisa lama-lama meladeninya. Bisa-bisa, semua orang ikut menertawakannya, jika mereka tahu penyebab Ilham membully dirinya seperti ini.


Ara berusaha menghindar dan lari dari tempat ini, tetapi tangan Ilham menahan tangannya, hinga membuatnya tak bisa berkutik. Ara meronta kecil, karena khawatir semua orang memerhatikan mereka.


“Lo gak bisa lari lagi,” ujar Ilham dengan nada paling sinis, membuat Ara sangat ketakutan dibuatnya.


Ara mendelik, “Gak usah kamu ganggu Ara lagi!” ucapnya dengan nada yang sudah mulai gemetar.


Ara tak sanggup menghadapi orang ini sendiri. Bisa-bisa, ia menjadi target Ilham lagi, sama seperti dulu. Ia hanya tidak ingin Ilham menyeret Bisma, karena Ilham yang mengetahui kunci dari aib miliknya.


“Kenapa? Lo takut?”


Tampangnya sangat menyeramkan, membuat Ara hampir menangis.


Ara pun menoleh ke sekelilingnya. Mereka semua memerhatikan, tetapi tak ada yang mau menolongnya. ‘Apa tidak ada yang bisa menolongku?’ batin Ara, sembari mencari-cari seseorang yang bisa menolongnya.


Ilham semakin senang melihat ekspresi Ara yang ketakutan itu. “Teriak aja, gak ada yang bisa nolong lo!” ujar Ilham, yang membuat Ara semakin takut saja.


‘Kenapa mereka semua tidak ada yang bisa menolongku? Kena mereka sangat tega padaku?’ batin Ara lagi.


“Tolong Ara!!” teriak Ara, yang terpaksa berteriak di hadapan mereka.


Ara berusaha menoleh ke kiri dan ke kanan, dengan tangannya yang masih tetap dipegang oleh Ilham. Ia mencari keberadaan Morgan atau Bisma, tetapi mereka sama sekali tidak ada di sini saat ini.

__ADS_1


__ADS_2