
Bisma mendelik kesal, “Lo beneran mau cari ribut sama gue, Gan?” tanyanya, Morgan memandangnya dengan datar.
“Gak, tuh. Lo pasti bakalan kalah dengan kondisi lo yang masih lemah. Gue sengaja diam, bukan berarti gue kalah,” bantah Morgan, sontak membuat Bisma merasa tidak terima mendengar hal itu dari Morgan.
“Jangan bangga gitu jadi orang! Gue gak akan ngelepas Ara buat lo! Gue juga pasti akan ngejauhin Ara dari lo! Tinggal tunggu tanggal mainnya aja!” ujar Bisma, Morgan menyunggingkan tipis senyumannya, membuat Bisma merasa kesal melihatnya.
“Udahlah! Males gue sama lo!” bentak Bisma, yang lalu pergi dari sana menuju kamar Ara.
Morgan menggelengkan kecil kepalanya, karena ia merasa emosi Bisma yang masih belum bisa dikontrol dengan baik.
“Dia masih aja meledak-ledak seperti biasanya,” gumam Morgan, tak mengerti dengan apa yang Bisma pikirkan.
Bisma melangkah ke arah ruangan kamar Ara. Ia menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada di depan ruangan kamar Ara. Pintu ruangan kamar Ara terlihat tertutup, membuatnya hanya bisa menunggunya di luar ruangan.
“Ra,” panggil Bisma, tak ada jawaban dari Ara.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, karena tidak ada jawaban sama sekali dari Ara. Ia malah berpikir jika ia membuat Ara marah. Padahal, jika Bisma tahu, Ara sama sekali tidak marah padanya.
“Ra, lo marah sama gue?” tanya Bisma lagi, tak berapa lama Ara pun membuka pintu ruangan kamarnya.
Keadaannya sudah baik-baik saja, walaupun wajahnya terlihat basah sisa tangisannya.
“Lo gak apa-apa?” tanya Bisma, Ara menggelengkan kecil kepalanya.
“Gak apa-apa. Justru Ara yang harusnya nanya sama Bisma,” ujar Ara. “Bisma gak apa-apa?” tanyanya.
Bisma tersenyum tipis, “Gak apa-apa,” jawabnya singkat.
Ara memandangnya dengan sendu, “Maafin Morgan ya, Bisma. Ara jadi gak enak sama Bisma, gara-gara Ara, Morgan sampai bikin Bisma babak belur gini,” ujarnya.
__ADS_1
“Gak akan gue maafin.” Bisma memandang Ara dengan tajam, membuat Ara merasa sangat khawatir dengan pertemanan Bisma dan Morgan.
Ara tidak ingin, hanya karena dirinya, mereka sampai bertengkar hal yang tidak ia mengerti.
“Maafin Ara, Bisma. Nanti Ara bicara sama Morgan, supaya Morgan minta maaf langsung ke Bisma,” ujar Ara lagi, berusaha untuk meminta maaf kepada Bisma.
Bisma menggelengkan kepalanya kecil. “Gue gak mau begitu, Ra. Yang gue mau, lo stop deket sama Morgan. Dia gak bener, masa mau minta cium sama lo?” ujarnya, dengan sangat memaksakan keadaan kepada Ara.
Mendengar ucapan Bisma, Ara pun merasa sangat heran. Ia berpikir jika ini semua memang hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih yang berpacaran. Hal itu wajar, karena Ara yang memang ingin membiasakan melakukan hal-hal yang orang kota lakukan, terutama dalam gaya berpacara mereka.
“Itu bukannya hal yang biasa dilakukan orang yang pacaran, ya? Kenapa Bisma bilang itu gak baik?” tanya Ara, Bisma gemas mendengarnya.
“Gak baik, Ra! Itu gak baik! Cowok yang baik gak akan pernah ngerusak ceweknya!” bentak Bisma, Ara berpikir suatu hal.
“Berarti Bisma juga gak baik, dong?” tanya Ara, Bisma menganga kaget mendengarnya.
“Maksudnya?”
Lagi-lagi Ara mengungkit hal yang Gladis lakukan pada Bisma. Bisma merasa sangat kesal, karena ternyata perlakuan Gladis yang aneh itu membuat Ara terus salah paham dengannya.
“Ra ... gue sama Gladis itu gak ada apa-apa!” ujar Bisma dengan sangat tegas, tetapi Ara sama sekali tidak mau mendengarnya.
“Ara gak mau dengar. Kalian udah melakukan hal itu, masa sih kalian gak ada hubungan apa-apa? Ara gak percaya!” ujar Ara, Bisma menghela napasnya dengan panjang.
“Memangnya kenapa? Banyak orang yang gak ada apa-apa, tapi tetap nyium lawan jenisnya,” ujar Bisma, Ara mendelik kaget mendengarnya.
Mereka saling menatap satu sama lain, dengan Bisma yang secara sadar langsung mencium bibir Ara dengan sangat nekat. Menyadari Bisma yang melakukan hal itu kepadanya, Ara sontak mendelik tak keruan dengan hal itu.
Sejenak Bisma mencium bibir Ara dengan menumpahkan seluruh perasaannya pada Ara. Ara hanya bisa mendelik, tak percaya dengan apa yang Bisma lakukan padanya.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, Bisma pun melepaskan ciumannya dari Ara. Ara masih saja mendelik, tak percaya dengan apa yang Bisma lakukan itu.
“Ciuman sama orang, gak mesti ada hubungan apa-apa, Ra. Kalau salah satunya mau, atau keduanya mau, pasti akan terjadi,” ujar Bisma, sontak membuat Ara memandang ke arahnya dengan keadaan yang masih mendelik.
‘Bisma nyium Ara?’ batin Ara, tak percaya dengan apa yang Bisma lakukan padanya.
Ara mendadak kesal, saking kesalnya ia merasa tidak ingin melihat Bisma lagi. Ia tidak menyangka, kalau Bisma yang ia anggap sebagai kakaknya, malah mencium bibirnya seperti itu, sama seperti yang dilakukan Morgan padanya. Ara mewajarkan Morgan melakukannya, karena Morgan memanglah kekasihnya. Sedangkan Bisma adalah kakaknya.
“Bisma ngapain nyium Ara?” pekik Ara, kesal dengan apa yang Bisma lakukan padanya.
“Gue cuma mau kasih tau, kalau orang yang gak ada hubungan apa pun bisa melakukan itu!” ujar Bisma, sontak membuat Ara mendelik semakin kesal mendengarnya.
‘Gak ada hubungan apa pun, ya? Itu berarti gak ada cinta?’ batin Ara, yang malah kesal sendiri dengan Bisma.
Entah apa yang Ara rasakan, tetapi ia merasa kesal karena Bisma yang sudah melakukan itu tanpa landasan cinta. Ia merasa kesal sendiri, karena malah membayangkan Bisma yang sedang mencium Gladis waktu itu.
“Ih, gak tau ah! Jangan pernah ngobrol sama Ara lagi! Ara benci Bisma!” bentak Ara, yang lalu segera meninggalkan Bisma di sana sendirian.
“Ara!” pekik Bisma, tetapi Ara tidak menghiraukannya.
Bisma menyusul Ara, yang saat ini berlarian ke arah ruangan tamu. Di sana, Morgan ternyata masih menunggu sembari membaca novelnya. Ara berlarian ke arah Morgan, dan langsung menarik tangan Morgan.
“Ayo pergi dari sini!” ajak Ara, Morgan yang terkejut hanya bisa menurut dengan apa yang Ara lakukan itu.
Morgan sedikit bingung, karena sebelumnya Ara sangat marah padanya karena ia menghajar Bisma. Namun, sekarang Ara malah menarik tangannya untuk menjauhi Bisma.
‘Pasti ada yang terjadi di antara Bisma dan Ara,’ batin Morgan, yang sudah merasakan ada hal aneh dari mereka.
Bisma tak mengejar mereka lagi, dan hanya bisa memandang kepergian mereka. Morgan membawa Ara, dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Sementara itu Bisma hanya bisa duduk di sofa, pasrah dengan apa yang terjadi padanya dan juga Ara.
__ADS_1
Tangannya meremas rambutnya dengan erat. “Apa ini? Gue bodoh banget sih udah ngelakuin itu ke Ara!”