
Hari ini, adalah hari pertama Ara masuk ke sekolah, yang sudah diberitahu Bisma sebelumnya. Ia sama sekali tak ingin menunda kesan pertamanya.
Ara berjalan dengan penuh semangat menuju ke arah ruang makan. Ia terkejut, ternyata Bisma sudah lebih dulu ada di meja makan. Padahal, ini masih terlalu pagi untuk jam berangkat sekolah.
Karena merasa sangat takut, Ara pun memperlambat temponya dalam berjalan. Ia menunda-nunda, agar tidak terlalu cepat berhadapan dengan Bisma, supaya bisa mempersiapkan dirinya lebih dulu.
‘Kenapa aku jadi malas sekali ketika melihat Bisma?’ batin Ara.
Bisma memandang Ara dengan tatapan dingin, sembari tetap melahap roti yang sedang ia makan. Ara pun berhenti tepat di hadapannya.
“Ih, kesel! Kenapa Bisma bangun pagi banget? Padahal ini ‘kan masih jam setengah 6?” ucap Ara dengan nada yang biasa ia katakan.
Bisma hanya diam, sembari tetap memandang ke arah Ara. Ia terlalu dingin bagi Ara, sampai Ara tidak suka dengan sikap dinginnya itu.
‘Seharusnya, dia mengucapkan beberapa kata sambutan di pagi hari. Ternyata benar ucapan para pelayan itu, Bisma ternyata memang sangat kaku,’ batin Ara, yang diam-diam menilai Bisma dalam hatinya.
“Duduk,” ucap Bisma terdengar biasa saja.
‘Dia biasa aja sih, tapi kenapa aku selalu tidak bisa menolak setiap perkataannya? Aku malah terus menuruti ucapannya itu,’ batin Ara heran, dengan tetap memandang ke arahnya.
Ara menghela napasnya dengan panjang, ‘Sudahlah! Demi bisa tinggal di rumah mewah ini, aku rela kok!’ batin Ara, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ara pun menurut, dan lekas duduk di tempat yang sama dengan yang ia duduki kemarin. Ia melihat menu sarapan pagi ini, yang ternyata memang benar, kehidupan orang kaya jauh lebih baik daripada kehidupannya waktu itu. Ia bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Ibu selalu tidak sempat memasakkannya, karena harus bekerja sebagai asisten rumah tangga. Namun, Ara tidak memedulikan itu. Tugasnya hanyalah belajar, dan berharap bisa tumbuh dan sukses dengan kehidupan yang jauh lebih layak dari sebelumnya.
Ara hanya diam sembari memandang makanan yang ada di atas meja. Ia sangat bingung, apa yang harus ia makan?
Karena merasa bingung, Ara pun melihat ke arah Bisma, yang kebetulan juga sedang melihat ke arahnya. Hal itu membuat Ara tersenyum kaku padanya.
__ADS_1
“Kenapa diam aja?” tanya Bisma datar, Ara menyeringainya dengan penuh keterpaksaan.
‘Apa aku harus memberitahukan padanya, kalau aku tidak biasa untuk sarapan setiap paginya? Tapi, aku ragu. Mungkin saja, dia tidak akan mempercayaiku, dan malah menyuruhku untuk makan,’ batin Ara, yang merasa ragu untuk mengatakannya pada Bisma.
“Mau gue suapin?” tanyanya datar, Ara spontan menggeleng cepat ke arahnya.
‘Bukan! Bukan itu yang aku maksud. Apa aku harus benar-benar memberitahukannya?’ batin Ara.
“Anu ... Bisma, aku sebenernya gak pernah sarapan kalau mau berangkat sekolah,” ungkap Ara dengan sangat hati-hati. Ia sampai memejamkan matanya, karena takut dengan reaksi Bisma.
Mendengar ungkapa Ara, Bisma pun memandangnya dengan heran.
“Kenapa loe gak pernah sarapan?” tanya Bisma, Ara membuka kembali matanya dan langsung menatap ke arahnya.
“Ibu ... gak pernah bikinin aku sarapan. Karena setiap pagi harus berangkat kerja. Dia gak sempet ngurusin aku. Jadinya, aku terpaksa gak pernah makan setiap pagi,” ucap Ara berterus terang.
Ara merasa bingung. Dengan makanan seenak ini, ia merasa sedih karena kehidupannya dulu berbanding terbalik dengan kehidupan yang saat ini ia jalani.
Bisma menghela napasnya panjang. Perasaan Ara jadi mellow sekarang. Ia merasa, ia tidak pantas menerima semua ini.
‘Kalau dipikir kembali, aku lebih baik tinggal bersama dengan ibuku di kampung, daripada aku harus tinggal di kota besar seperti ini. Banyak hal yang aku tidak ketahui, yang mungkin saja membuatku terasa sangat bodoh di mata orang yang melihatnya,’ batin Ara, merasa sangat sendu memikirkannya.
“Loe udah jadi bagian dari keluarga ini. Loe pantes kok nerima semuanya,”ucap Bisma dengan nada yang sangat lembut menurutnya.
Ara menunduk sendu, ‘Ucapannya ada benarnya juga, tapi aku masih saja tidak bisa menerimanya.’
Bisma memandang Ara dengan dalam, “Gue janji, apa pun yang loe minta, loe mau makanan, pakaian, sepatu, atau apa pun itu ... gue pasti bakal nurutin semua keinginan loe. Buang jauh-jauh semua hal atau masa lalu loe yang buruk. Kalo ada sesuatu, bilang ke gue!” ujar Bisma dengan tegas.
Ucapannya itu membuat mata Ara terbuka lebar. Kali ini, kata-kata Bisma sangat menyentuh hatinya. Ia merasa sangat senang saat Bisma mengatakan seperti itu.
__ADS_1
Saking senangnya, Ara berhambur memeluknya dengan cepat. Ia memeluknya dengan pelukan yang sangat erat. Hanya Bisma, satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Lagi-lagi, Ara tersentuh dengan kata-kata romantis Bisma itu. Ia tidak bisa menahan diri, jika melihat sesuatu yang romantis, atau yang membuatnya menjadi sedih.
Mungkin, ia termasuk golongan orang yang ‘Melankolis’
Bisma sangat heran, karena melihat Ara yang hanya memeluknya dengan erat. Wajahnya memerah, karena merasa malu dengan apa yang Ara lakukan itu.
Bisma berdeham, membuat Ara tersadar akan satu hal. Ia terlalu lama memeluk Bisma.
Spontan, Ara pun melepaskan pelukannya dari Bisma, karena merasa sudah sangat malu.
Ara menutup wajahnya karena malu dengan Bisma, “Maap, Bisma. Ara gak sengaja!” lirih Ara, sembari tetap menutup wajahnya.
Karena merasa sangat malu, Ara tidak tahu harus bagaimana. Ia sudah terlanjur malu dengannya.
Kini, Bisma tidak berbicara sedikit pun, membuat Ara merasa tidak enak hati dengannya.
Ara memandang bingung ke arahnya, “Bisma ... maapin Ara, ya?” tanyanya.
Bisma tetap saja diam dan bergeming. Ara yang penasaran, langsung membuka matanya untuk melihat situasi dan keadaan Bisma saat ini.
Ternyata, Bisma sudah tidak ada di tempat. Ara menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi ia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Bisma.
Ara menjadi bingung sendiri, “Lho ... Bisma mana?” gumam Ara bertanya-tanya.
‘Apa aku sedang berhalusinasi?’ batin Ara, sembari mendelik bingung dengan keadaannya itu.
Seketika, tubuhnya merinding tak keruan. Ia melirik takut ke segala arah, khawatir ada hal mistis yang sedang berada di sekelilingnya.
__ADS_1
Bukan hal yang tidak mungkin, di rumah sebesar ini, terdapat hal yang tak kasat mata. Ara meraba lehernya yang ternyata masih saja merinding, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Bisma ... Ara takut,” lirih Ara, sembari tetap berjaga-jaga apabila ada sesuatu yang tidak mengenakkan.