Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Permainan Basket Yang Menegangkan


__ADS_3

Bisma pergi meninggalkan Reza tanpa kata, membuat Reza semakin bingung memandangnya.


‘Apa ... ada yang salah dariku? Seharusnya ... dia mengusirku, bukan? Kenapa kali ini, dia malah pergi setelah menatapku?’ batin Reza, yang menggelengkan kepalanya lalu menuju ke arah Ara yang sedang terbaring.


Reza bergegas mencari buku yang sepertinya ia tinggalkan di ruangan ini. Sekian lama ia mencari, tetapi belum ada tanda untuk menemukannya.


“Mana sih ....” Reza masih berusaha untuk mencari buku itu.


Pandangannya terus ia alihkan ke segala sisi ruangan, sehingga ia berhasil menemukan buku tersebut, yang ternyata jatuh di sela laci. Reza melangkah untuk mengambilnya.


“Bisma ....” lirih Ara yang mampu menghentikkan langkah Reza.


Mendengar ucapan Ara itu, Reza pun mendadak kesal mendengarnya. ‘Ternyata ... Siti sedang memikirkan Bisma? Apa ini yang membuat Siti jadi terbaring lemah di sini?’ batinnya.


“Bisma ....”


Reza pun dengan cepat menyambar bukunya, lalu kembali menatap ke arah Ara yang masih tak sadarkan diri.


“Gue gak akan nyerah, Ti,” lirih Reza yang berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Walaupun kenyataannya ia sangat sesak mendengar Ara mengucapkan nama Bisma tadi, setidaknya itu justru yang membuatnya merasa sangat bersemangat, untuk terus menggapai Ara.


‘Siapa sebenarnya Bisma? Aku tidak mengerti asal-usul wanita ini, tapi ironi sekali ... aku justru sangat berharap bisa lebih dekat dengannya. Berawal dari ketidaktegaan, berujung dengan perasaan,’ batin Reza, benar-benar tidak menyangka akan hal ini.


***


Setelah beberapa hari dalam diam, mereka pun akhirnya dipertemukan kembali pada situasi yang sulit.

__ADS_1


Siang ini Bisma sedang berlatih bermain basket bersama teman-teman yang lain. Tak sengaja ia melihat Ara yang sedang berjalan bersama dengan Reza dari kejauhan. Emosinya tak tertahan, Bisma memerhatikan mereka dengan emosi yang hampir meluap.


‘Aku merasa ... aku perlu memberi Reza lebih banyak pelajaran, supaya dia tidak mengganggu Ara lagi. Tatapannya pada Ara, sudah sangat jelas, bahwa dia menyimpan rasa pada Ara,’ batin Bisma, yang benar-benar tidak tenang dengan hal ini.


Karena tidak bisa melanjutkan permainannya, Bisma pun menepi sebentar ke pinggir lapangan untuk menghampiri Morgan, yang tak lain adalah sahabatnya. Bisma segera duduk di samping Morgan, yang kini tengah asyik membaca novel.


Ya! Morgan memang senang sekali membaca. Dia juga terkenal pendiam dan tidak banyak bergaul sejak zaman Sekolah Menengah Pertama dulu. Bisma sering sekali menginap di rumahnya untuk bermain playstation bersama kakaknya, Rafael. Itulah penyebab Bisma jarang sekali berada di rumahnya.


“Kenapa?” tanya Morgan datar, Bisma berusaha menahan rasa kesalnya.


Tak mendapatkan jawaban dari Bisma, Morgan pun memerhatikan Bisma dengan saksama. Terlihat Bisma yang sedang memandang ke arah Ara dan juga Reza, yang sedang asyik tertawa bersama sembari berjalan menuju ke arah lapangan ini. Morgan kembali memandang ke arah Bisma, dengan tatapan yang benar-benar tajam.


‘Apa ... Bisma kesal karena melihat adiknya, berjalan beriringan bersama rivalnya itu?’ batin Morgan yang menghela napas panjang, lalu menepuk-nepuk bahu Bisma, membuat Bisma menoleh spontan ke arahnya.


“Lo pasti kesel karena ngeliat adik lo jalan sama rival lo, ‘kan?” tanya Morgan dengan bidikan yang sangat tepat, membuat Bisma menegaskan pandangannya pada Morgan.


Walaupun Bisma mengelak dengan berbagai macam alasan, Morgan sudah paham tanpa harus Bisma mengatakannya. Tak ada yang bisa berbohong dengan Morgan. Perilaku Bisma itu terlihat sangat jelas, bukan?


“Menurut gue ... dari beberapa artikel yang gue baca, bukan hal yang gak mungkin kalau saudara tiri, saling menyimpan perasaan,” ucap Morgan, berusaha untuk memberikan Bisma semangat.


Kata-kata yang Morgan ucap, dibuat tersirat mungkin, supaya Bisma bisa mengambil hikmahnya sendiri. Hanya saja, mungkin nada Morgan terlalu cuek untuk memberikan motivasi pada Bisma. Maklum saja Morgan selalu pasif jika berhadapan dengan siapa pun.


“Gak usah ngada-ngada deh ya ....” tepis Morgan sinis, kemudian kembali menuju ke lapangan.


Morgan hanya diam melihat reaksinya yang aneh. ‘Sepertinya memang benar ... dia memiliki perasaan pada gadis itu. Bukan hal yang tidak mungkin terjadi, mengingat mereka berdua hanyalah saudara tiri.


Morgan tak sengaja menoleh ke arah gadis itu, yang ternyata juga sedang melihat ke arahnya. Ia pun membuang pandangannya, karena tidak tahu harus bagaimana. Ia kembali melihat ke arah Bisma yang ternyata sedang membuat permainan dengan Reza.

__ADS_1


‘Pertarungan satu lawan satu yang sangat sengit menurutku. Setahuku, Bisma dan Reza adalah rival yang seimbang. Baik mengenai basket, ketenaran, sampai dalam hal wanita,’ batin Morgan, benar-benar tidak bisa memilih antara Reza dan juga Bisma.


Di sana Ara juga nampak memerhatikan keduanya. Morgan tidak tahu siapa yang sebenarnya Ara perhatikan, karena Bisma dan Reza sama-sama di arah yang sama. Morgan akhirnya kembali memerhatikan permainan basket antara Reza dan juga Bisma.


Morgan terus memerhatikan mereka, ‘Sepertinya ... ada yang aneh dengan mereka saat ini,’ batin Morgan yang berusaha mencari celah, dan membaca keadaan.


Pergerakan mereka seperti terlalu dipaksakan. Tiba-tiba saja, Bisma terjatuh di atas lapangan basket, membuat Morgan dan Ara terkejut melihatnya. Morgan yang sangat kaget pun langsung menghampiri mereka ke dalam lapangan.


Tak hanya Morgan, Ara juga mendelik kaget, melihat kejadian yang terjadi di depan matanya.


“Bisma!” pekik Ara dengan sangat keras.


Ara pun berlarian menuju ke dalam lapangan untuk melihat dan memastikan keadaan Bisma. Ia memaksa menerobos masuk ke dalam kerumunan orang, yang sedang mengerumuni Bisma saat ini.


“Bisma!” Ara benar-benar sangat khawatir dengan keadaannya. Ara pun duduk bersimpuh di hadapan Bisma.


Ara juga melihat seseorang yang tadi melihat ke arahnya, juga sedang melihat keadaan Bisma. Namun Ara sama sekali tidak memedulikannya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Bisma.


“Ahh ....” Bisma merintih kesakitan, sembari memegangi kakinya. Sepertinya Bisma mengalami luka yang cukup serius.


“Bisma kenapa? Bisma nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Ara dengan nada panik, tetapi Bisma sama sekali tidak merespon, dan hanya tetap merintih kesakitan.


“Siapa pun itu, tolong ambil tandu!” teriak Morgan pada mereka semua.


Tak butuh waktu lama, seseorang terlihat membawa tandu dan bergerak menghampiri mereka.


“Tolong semuanya minggir dulu! Kita mau angkat Bisma!” pinta Morgan yang tidakAra ketahui namanya siapa.

__ADS_1


Mendengar perkataan Morgan, Ara pun mundur beberapa langkah untuk memberikan jarak pada mereka. Dengan cepat, mereka mengangkat tubuh Bisma bersama-sama dan meletakkannya di atas tandu. Ara sangat khawatir dengan keadaan Bisma saat ini.


__ADS_2