
Bisma tiba-tiba saja datang untuk menghajar wajah Morgan, karena ia mendengar selorohan Morgan yang terasa sangat di luar batas. Ia tak bisa menerimanya, karena ia merasa Morgan sangat tidak sopan mengatakan hal itu di hadapan Ara.
Terjadilah perkelahian antara Bisma dan Morgan. Hal itu membuat Ara bangkit dari tempat duduknya, karena terkejut dengan apa yang Bisma lakukan kepada Morgan.
“Bisma, udah!” pekik Ara, yang tak dihiraukan oleh Bisma.
Bisma segera menindih tubuh Morgan, dengan kepalan tangan yang terus-menerus menghajar wajah Morgan.
Mulai kehabisan tenaga, pukulan Bisma pun melemah, sehingga membuat Morgan memanfaatkan kesempatan itu. Ia membalikkan keadaan menjadi pemegang kendali, dan menindih di atas tubuh Bisma.
Morgan mulai menghajar wajah Bisma tanpa ampun, karena tenaganya yang masih full dengan kondisi kesehatan yang sangat baik. Berbeda dengan Bisma, yang keadaan kakinya saja masih belum sepenuhnya pulih. Tangannya pun masih terpasang banyak sekali plester, karena lecet pada pertarungan melawan Ilham, dan juga menghajar dinding balkon saat Morgan telat mengantarkan Ara kembali ke rumahnya.
Bisma tak bisa mengelak, karena sudah hampir kehabisan tenaga. Di sana, Ara hanya bisa memandang mereka dengan kaki yang gemetar, saking takutnya dengan keadaan mereka yang sudah bonyok seperti itu.
“Berhenti, Morgan! Jangan pukulin Bisma lagi!” pekik Ara, sontak membuat Morgan mendelik dan menghentikan pukulannya pada Bisma.
Morgan bangkit sembari memandang sinis ke arah Ara. “Kenapa Ra?” tanyanya, membuat Ara bingung mendengarnya.
“Kenapa gimana maksudnya?” tanya balik Ara, tak mengerti dengan pertanyaan yang Morgan lontarkan.
“Kenapa lo malah belain Bisma? Lo ‘kan tahu, dia yang ngehajar gue duluan!” bentak Morgan, sontak membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
Baru kali ini Morgan membentaknya sampai seperti ini. Hal itu membuat Ara tak percaya, dengan apa yang Morgan lakukan padanya.
__ADS_1
‘Baru kali ini Morgan bentak Ara. Ara paling gak bisa dibentak,’ batin Ara, yang hatinya sangat sedih melihat bentakan dari Morgan.
Morgan yang terkesan dingin dan romantis, kali ini membentaknya langsung dengan sangat kasar. Hal itu membuat Ara tak terima, karena bentakannya itu sudah merasuk ke dalam relung hati Ara.
Namun, biar bagimanapun juga, apa yang Morgan katakan adalah benar. Bisma sudah menghajar Morgan lebih dulu, sehingga membuat kekacauan ini terjadi. Akan tetapi, Bisma tidak mungkin menghajar Morgan tanpa sebab. Hal itu yang Ara yakini.
“Udahlah, Ara mau istirahat lagi!” ujar Ara, yang langsung pergi dari sana, meninggalkan mereka.
Morgan tak terima dengan apa yang Ara lakukan. “Ara!” pekiknya, tetapi Ara sama sekali tidak menghiraukannya, dan malah berlarian ke arah kamarnya yang berada di lantai atas rumah ini.
Bisma bangkit, dan kini berdiri di belakang Morgan. “Kurang ajar lo! Beraninya ngomong begitu di hadapan Ara!” ujarnya, sontak membuat Morgan mengalihkan fokusnya ke arah Bisma.
Morgan membalikkan tubuhnya ke arah Bisma, dan terlihat Bisma yang sudah tidak keruan di hadapannya. Mereka sejenak saling pandang, membuat Morgan merasa sedikit kesal dengan Bisma.
“Kenapa lo ngehajar gue?” tanya Morgan, masih heran dengan apa yang Bisma lakukan padanya.
“Emangnya salah ya, gue bilang begitu ke PACAR gue sendiri?” tanya Morgan, dengan menekankan kata ‘Pacar.’
Bisma mendelik, tak terima dengan apa yang Morgan katakan. “Pacar lo itu adek gue! Gue gak suka lo ngomong macem-macem sama dia! Jangan lo rusak dia, atau lo bakalan berhadapan dengan gue!” bentaknya, Morgan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
“Adek? Bilang aja lo iri sama gue, karena gak bisa dapetin Ara, ya kan?” ledek Morgan, sontak membuat Bisma mendelik mendengarnya.
Bisma masih tidak ingin mengatakan perasaannya yang ia rasakan terhadap Ara. Ia ingin menyembunyikannya, walaupun ia merasa kalau itu sangat tidak mungkin. Namun, ia harus melakukan hal itu di hadapan Morgan.
__ADS_1
“Lo gak denger, hah? Ara itu adik gue! Gue gak suka lo ngerusak dia, ngerti?” Bisma semakin kasar berbicara dengan Morgan, membuat Morgan tak terima mendengarnya.
“Alah, bilang aja kalau iri! Lo gak harus nutupin semua perasaan yang lo rasain, Bis! Bukan hal yang tidak mungkin, kalau lo suka sama adik tiri lo sendiri. Apalagi Ara punya sifat yang polos, sampai gue aja luluh saking polosnya dia. Dia beda dari yang lain,” ujar Morgan, Bisma tak terima Morgan mengatakan hal demikian.
“Jangan bicara soal Ara lagi! Gue gak sudi lo deskripsiin Ara di hadapan gue!” bentak Bisma, yang benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi di hadapan Morgan.
Morgan kembali menyunggingkan senyumannya. “Lo lihat, gue pasti bakalan dapetin Ara seutuhnya. Gue gak akan biarin lo deketin Ara, walaupun hanya sebatas adik dan kakak. Gue gak percaya kalau lo anggap hubungan lo sama Ara itu hanya sebatas adik dan kakak aja. Pasti lo ngerasain lebih, karena lo juga seorang lelaki,” ujarnya, sedikit banyaknya membuat Bisma kesal karenanya.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, Bisma pun mendelik ke arah Morgan.
“Keluar! Lo gak diterima lagi di sini!” bentak Bisma, sembari menunjuk ke arah pintu rumahnya.
Morgan semakin menyunggingkan senyumannya di hadapan Bisma. “Lo gak nerima? Bokap lo dan Ara masih nerima gue, tuh.”
Ucapan Morgan sangat membuat Bisma kesal. Mungkin ia sudah tidak menerima Morgan lagi di rumah ini, tetapi ia lupa dengan kedua orang tersebut, yang mungkin saja masih menerimanya dengan baik di rumah ini.
“Gue gak akan biarin lo pacaran sama Ara lebih lama dari ini! Gue akan buat hubungan kalian hancur!” ujar Bisma, yang sudah tidak peduli lagi dengan pertemanannya dengan Morgan.
Hanya karena masalah wanita, pertemanan mereka kali ini diuji. Morgan tidak akan mengalah dari Bisma, karena di sini dirinya yang menjadi pemenangnya.
“Silakan aja kalau bisa,” ucap Morgan, semakin memacu semangat Bisma untuk membuat hubungan mereka hancur.
Bisma menatap Morgan dengan tajam. “Jangan panggil gue Bisma, kalau gak bisa bikin hubungan kalian hancur! Liat aja, lo boleh punya raganya Ara saat ini, tapi gue jamin lo gak akan punya hatinya Ara!” ujarnya dengan sangat yakin akan hal itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bisma yang asal, Morgan mendelik kaget karena dengan sangat beraninya Bisma mengatakan hal itu di hadapannya. Walaupun Morgan tidak terlalu memedulikan wanita, tetapi berbeda dengan Ara. Ia bertekad untuk memperjuangkan Ara hingga akhir.
“Sekali lagi, silakan saja kalau bisa.” Morgan semakin menegaskan pada Bisma, membuat Bisma semakin terpancing karena hal itu.