
Morgan mengantar Ara ke kelasnya, walaupun ia sudah hampir terlambat dengan pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai. Ia benar-benar mengambil pelajaran dari kejadian waktu itu, karena ia tidak bisa mengantar Ara ke kelasnya. Ia tidak ingin kejadian itu terulang lagi dengan Ara.
Walaupun terlambat, ia rela melakukannya dengan kenyamanan Ara belajar di sekolah ini.
Sesampainya mereka di depan pintu ruangan kelas Ara, mereka pun saling pandangan satu sama lain, dengan Morgan yang lalu memegang kepala Ara.
“Semangat belajarnya,” ucap Morgan, dengan senyuman yang sangat manis.
Ara memandangnya dengan tatapan yang senang. “Ya, Morgan juga semangat ya belajarnya,” ujarnya, yang merasa sangat senang diperhatikan seperti ini oleh Morgan.
Entah sejak kapan Morgan menjadi sebucin ini dengan Ara, tetapi ia merasa sangat senang memberikan kasih sayang dan perhatian kepada Ara. Ia menyadari, Ara sangat kekurangan kasih sayang. Baik dari keluarganya, maupun dari orang-orang terdekat lainnya.
“Bye,” pamit Morgan sembari melambaikan tangannya ke arah Ara.
“Ya.”
Setelah melihat Morgan pergi dari sana, Ara pun menghela napasnya dengan panjang. Ia segera masuk ke dalam ruangan kelas, karena pelajaran pertama yang akan dimulai dalam 10 menit ke depan.
Saat Ara masuk ke kelas, semua orang memandang dengan sinis ke arahnya. Ia merasakan hal yang tidak wajar di sini, tetapi ia masih saja bersikap seperti biasa dan tak menghiraukan mereka. Ia pun duduk di kursinya seperti biasa.
Fla tiba-tiba saja datang ke hadapannya, membuat semua mata tertuju ke arahnya.
“Aduh, kemarin deketin Reza, sekarang deketin Morgan. Cari muka banget sih ini orang! Dasar culun!” bentak Fla, yang tiba-tiba saja mencaci maki Ara di hadapan semua teman sekelasnya.
Ara bingung melihat sikap Fla padanya, yang sepertinya tidak senang melihat dirinya bersama Morgan.
“Kamu kenapa sih, Fla? Gak ada hari tanpa bully Ara?” tanya Ara, yang kini sudah mulai berani angkat bicara.
__ADS_1
Melihat kemajuan sikap Ara, Fla pun merasa sangat kaget dan merasa sangat tertantang dengan ucapan Ara yang sangat tegas itu.
Fla mendelik, “Eh, culun, apa lo bilang?” tanyanya sinis, Ara masih saja memandang Fla dengan tatapan yang tajam.
“Kamu kenapa bully Ara terus, sih? Memangnya gak bosen kamu bersikap seperti ini sama Ara?” tanya Ara, Fla merasa tidak percaya dengan kemajuan sikap Ara yang semula polos, menjadi sangat berani seperti ini di hadapannya.
“Wah ... ternyata beneran udah mulai berani. Pantesan aja ngegodain si nomor 1 kelas sebelah!” Fla berkata dengan suara yang lantang, sehingga teman sekelasnya memandang Ara dengan sinis.
Sampai sini Ara paham, bahwa mereka sangat tidak menyukai para idolanya yang didekati Ara.
‘Mungkin banyak yang suka sama Morgan, sama kayak banyak yang suka sama Reza. Makanya mereka jadi bersikap seperti itu. Aku harus kasih tahu mereka, kalau aku dan Morgan udah pacaran, jadi mereka gak berani ganggu aku lagi,’ batin Ara, yang merasa harus mengatakan hal itu di hadapan mereka.
Ara memandangnya dengan tegas, “Ara gak gangguin Morgan, kok. Ara sama Morgan memang udah pacaran,” ujarnya memberitahu semua orang yang ada di kelas ini.
Mendengar pengakuan Ara, sontak membuat mereka merasa sangat terkejut dan sangat tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
Ara hanya bisa mengangguk kecil, dengan mereka yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang Ara katakan tadi.
“Gak mungkin cewek culun kayak lo bisa pacaran sama orang nomor 1 di kelas sebelah! Gue gak percaya, dan lo mending gak usah ngaku-ngaku, deh!” bentak Fla, Ara menghela napasnya dengan panjang.
“Iya, lo harusnya sadar diri lo itu siapa! Udah Reza, Bisma, Morgan juga sekarang!”
“Iya, gak sekalian aja cowok-cowok ganteng di sekolah ini lo deketin!”
“Iya, ketahuan banget murahannya!”
Karena Ara mengatakan bahwa ia dan Morgan sudah berpacaran, mereka terkejut dan malah semakin mencemooh dirinya. Namun, Ara tidak bisa berbuat apa pun, dan hanya bisa memandang mereka dengan tatapan bingung.
__ADS_1
“Fla!” pekik Gladis, yang tiba-tiba saja datang ke hadapan Fla.
Fla menoleh dengan bingung, Gladis pun mencengkeram lengan tangan Fla dengan erat.
“Apa nih?” tanya Fla bingung.
“Ikut gue dulu!” ajak Gladis.
Tidak ada pilihan lain, Fla pun mengikuti Gladis ke arah luar ruangan kelasnya.
Sesampainya di luar ruangan, Gladis pun melepaskan tangannya dari tangan Fla, membuat Fla merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengannya.
“Lo kenapa, sih? Kenapa malah buru-buru begitu?” tanya Fla, heran dengan sikap Gladis yang sepertinya sangat terburu-buru dan khawatir.
Gladis mencoba mengatur napasnya, “Jangan pernah ngatain atau bully Ara lagi, karena Ara itu adik tirinya Bisma!” ujarnya, sontak membuat Fla mendelik kaget mendengarnya.
“Apa?” pekik Fla, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari Gladis.
“Iya, pokoknya jangan pernah sentuh Ara lagi, kalau lo gak mau kejadiannya kayak Ilham! Gue pokoknya udah peringatin lo, karena Bisma ngomong langsung ke gue akan melakukan hal buruk dengan orang yang sengaja bikin Ara sakit,” papar Gladis menjelaskan, Fla malah jadi gemetar mendengar ucapan Gladis kepadanya itu.
Fla sangat tidak percaya, bahwa Ara adalah adik tiri dari Bisma. Ia sudah menganggap Ara adalah wanita yang tidak tahu malu, karena sudah mendekati Bisma, Morgan dan juga Reza dalam waktu yang bersamaan. Kalau ia tahu hubungan kakak adik Ara dengan Bisma sejak awal, ia pasti tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa membuatnya hilang dari muka bumi ini.
“Kalau tahu dari awal, gue pasti gak akan pernah bully dia!” gumam Fla, Gladis menghela napasnya dengan panjang.
“Makanya, sebelum semuanya terlambat, sebelum rencana pem-bully-an Ara terjadi, gue mau kita udahin rencana untuk bully Ara. Gue gak mau ambil risiko, karena saat Bisma ngehajar Ilham habis-habisan aja, Bisma sampai gak ingat kondisi dan keadaannya. Dia beneran nekat ngehajar Ilham di hadapan semua orang.” Gladis berusaha mengingatkan kembali, kejadian Ilham yang dihajar habis-habisan oleh Bisma.
Fla menggelengkan kepalanya tak percaya dengan keadaan. “OMG ... kalau tau dari awal, gue pasti gak akan pernah ngelakuin ini ke dia. Dia juga udah gak deketin Reza lagi, dan sekarang malah pacaran sama Morgan. Jadi, gue juga gak punya alasan lagi untuk bully dia,” ujarnya, yang kali ini sontak membuat Gladis terkejut dan mendelik mendengarnya.
__ADS_1
“Apa? Ara pacaran sama Morgan?” pekik Gladis, Fla memandangnya dengan sangat serius.