Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Alibi


__ADS_3

Reza sangat terkejut dan langsung menoleh ke arahnya. Di sana, terlihat seorang pria dengan pakaian yang standar, sedang berdiri di hadapan Reza sembari tersenyum tipis.


“Saya temannya Ara. Ada Ara tidak ya?”


“Oh temannya Non Ara, saya Ujang kepala pembantu di sini. Sebentar, saya kabari orang rumah ya,” ucapnya.


Reza membulatkan matanya, ‘Ternyata ... Ara adalah orang kaya. Tapi ... kenapa dia waktu itu sampai harus tinggal di kampung terpencil seperti itu? Dan mereka semua mem-bully¬ dirinya, mengatakan bahwa dia adalah anak haram? Apa yang mereka bilang itu benar?’ batin Reza, yang masih tidak tahu kebenarannya.


Sementara itu di sana, Ara sedang berbincang hangat dengan ayahnya. Mereka menikmati kebersamaan berbincang, apalagi tidak ada Bisma di sekitar mereka.


“Non Ara ...,” panggil seorang pelayan, yang tiba-tiba saja datang menghampiri Ara.


Ara mengalihkan fokusnya ke arah pelayan itu. “Kenapa Kak Yiyi?” tanya Ara dengan nada heran.


Wajahnya terlihat sangat tegang, membuat Ara kebingungan melihat ekspresi wajahnya itu. Entah apa yang ingin ia sampaikan pada Ara.


“Anu ... Non ....”


Pelayan itu terlihat terlalu takut untuk mengatakannya. Ara memandangnya dengan tatapan yang semakin keheranan.


“Ngomong aja, Yi,” ucap ayahnya yang membantu Ara untuk mengatakan pada pelayan itu.


“Ada cowok yang nyariin Non Ara di depan,” ucapnya dengan nada yang gemetar.


Ara tidak mengerti dengan keadaan yang pelayan itu katakan, ‘Siapa yang pagi-pagi sudah datang mencariku? Sepertinya ... aku tidak mempunyai teman laki-laki selain Reza. Apa ... Reza yang ada di sana?’ batin Ara, yang memang sudah memiliki firasat seperti itu.


Namun, hati yang sebelahnya membantah hal itu.


‘Ah ... tidak mungkin! Aku sama sekali tidak memberitahu alamat rumahku ini padanya. Tidak mungkin dia bisa sampai ke sini!’ bantah Ara pada dirinya sendiri.


Namun, jika dipikir kembali waktu itu, Ara dan Reza pernah naik angkutan umum yang sama, dan turun di tempat yang sama. Ara berpikir, ‘Apakah ... rumahnya tidak terlalu jauh dari sini?’ batinnya.

__ADS_1


“Anak papa udah genit, ya,” sindir ayahnya yang tiba-tiba melirik aneh ke arah Ara.


Ara melihatnya dengan tatapan malu, karena ia tidak seperti yang ayahnya pikirkan.


“Apa sih, Pah. Aku aja gak tahu siapa yang dateng,” bantah Ara, membuyarkan ekspetasi ayahnya.


Ayah memandang ke arah pelayan itu, “Suruh dia masuk aja, Yi,” ucapnya pada pelayan itu.


“Baik, Tuan.” Ia pun mengangguk dan pergi dari sini.


Mendadak Ara pun menjadi takut, ‘Siapa laki-laki yang ingin menemuiku itu?’ batin Ara, benar-benar sangat takut saat ini.


“Kenapa disuruh masuk, Pah? Ara ‘kan malu!” ucap Ara dalam mode manja, membuat ayahnya tersenyum ke arah Ara.


“Papa ‘kan juga mau lihat ‘teman’ kamu ini,” ujarnya dengan menekankan kata ‘teman’. Wajah Ara tiba-tiba saja menjadi panas. Entah apa yang ia rasakan saat ini.


“Permisi, Non. Ini temannya datang,” ucap pelayan itu tiba-tiba.


“Pagi, Om,” sapa Reza dengan santun, Ayah menatapnya dengan senyuman khasnya.


Ara melihatnya sampai tercengang. ‘Kenapa Papa tidak memarahi pemuda yang datang untuk menemui anak gadisnya?’ batin Ara yang benar-benar tidak habis pikir dengan yang ayahnya lakukan.


“Pagi—”


“Reza, Om. Salam kenal Om,” pangkas Reza tiba-tiba, karena melihat ayahnya Ara yang sangat bingung ingin memanggilnya dengan sebutan apa.


“Oh ... Reza. Salam kenal kembali, saya ayahnya Ara. Apa kabar?” tanyanya kembali, membuat Reza tersenyum tipis ke arahnya.


“Baik, Om. Om sendiri, gimana keadaannya?”


“Seperti yang kamu lihat.”

__ADS_1


Reza dibuat tertawa dengan jawaban ayah Ara.


“Silakan duduk.” Ia mempersilakan Reza duduk, dengan Reza yang hanya bisa menurutinya dan duduk di sebelah Ara.


Reza tersenyum, ‘Tidak terlalu sulit untuk mendekati ayahnya. Aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku pada Siti. Langkah pertama ... aku harus meyakinkan dulu ayahnya,’ batinnya, merasa sudah terstruktur untuk melakukan hal ini.


“Kok kamu bisa tahu rumah aku sih, Za? Aku ‘kan ... gak pernah ngasih tau kamu,” ucap Ara yang terlihat kebingungan.


Reza tertawa tipis ke arahnya, “Kalau aku kasih tau ... gak surprize dong,” jawab Reza dengan sedikit candaan. Ia sama sekali tidak mau terlihat kaku di mata ayah Ara, dan ingin memberikan kesan pertama yang baik padanya.


Ayah berdeham, “Romantis banget sih.”


‘Satu ikan masuk ke dalam perangkapku. Ayahnya nampak mulai terlihat open padaku. Aku hanya perlu memainkan keadaan saja. Tidak perlu banyak sandiwara, aku hanya ingin membuat kesan pertama yang baik, bukan ingin menipunya,’ batin Reza, benar-benar sangat senang dengan keadaan yang bisa ia kuasai itu.


“Apa sih, Papa ....” Ara terlihat seperti sedang malu, membuat Ara terlihat nampak manis di mata Reza, saat melakukan hal seperti itu.


“Ada rencana apa, hari ini?” tanya ayahnya tiba-tiba.


Reza mendadak berpikir keras, ‘Aku harus jawab apa? Aku hanya berencana untuk mengunjungi Siti saja. Tidak ada rencana apa pun lagi,’ batinnya.


“Cuaca di luar sangat mendukung, bagaimana ... kalau kalian jalan-jalan menghabiskan hari libur?” saran ayah Ara tiba-tiba, membuat Reza yang mendengarnya merasa sangat kaget.


‘Kenapa sangat mudah untuk mendapatkan hati ayahnya? Padahal ... aku tidak membawa martabak, kue atau sejenisnya, untuk jadi sogokan. Aku hanya datang dengan tangan kosong. Kenapa ... ayahnya sangat baik sekali padaku? Apa aku boleh memanfaatkan kesempatan ini, untuk bisa lebih dekat dengan Siti?’ batin Reza, benar-benar sangat tidak menyangka bisa mendapatkan rasa simpatik dari ayahnya Ara.


“Ah ... kebetulan sekali. Saya ingin meminta izin sama Om, untuk ajak Ara jalan-jalan ke mall. Untuk membeli beberapa buku pelajaran. Karena ... saya sekelas dengan Ara, Om. Takutnya, Ara gak paham buku mana yang harus dibeli,” ucap Reza berusaha senatural mungkin untuk berbohong di hadapan ayahnya Ara.


‘Maafkan aku, aku tidak bermaksud demikian, tapi ... hanya itu alasan yang tepat untuk bisa mengajak Siti keluar,’ batin Reza, yang benar-benar tidak bermaksud untuk berbohong.


“Lho ... emangnya ada perintah untuk beli buku, Za? Perasaan ... Ara gak dengar tuh ada yang nyuruh begitu,” ucap Ara dengan polosnya, membuat ayahnya kelepasan tertawa dan masih berusaha menahannya.


Reza menjadi tidak enak hati dengan ayahnya, ‘Kenapa Siti tidak bisa diajak kompromi sedikit pun? Apa aku salah pilih pasangan, ya?’ batin Reza, sembari menghela napasnya dengan dalam.

__ADS_1


“Jadi ... buku apa yang mau kalian beli?” tanya ayahnya menegaskan, Reza benar-benar menjadi tidak enak dengannya, dan hanya bisa tersenyum tak enak padanya.


__ADS_2