
“Masuk aja deh,” lirih Ara yang sudah memutuskan demikian, kemudian membuka pintu kamar Bisma dengan perlahan karena tak mau membangunkan Bisma.
Di hadapannya kini, terlihat Bisma yang sudah terlelap di atas ranjang tidurnya. Ara melihat ke arah kaki Bisma, karena ia tak tahu lukanya seperti apa. Kakinya tertutup oleh selimut, membuat Ara tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Ara melangkah mendekati Bisma, yang nampaknya sudah tertidur pulas. Ia pun mempersiapkan dirinya, dan memberanikan dirinya untuk hal ini.
Ara kini berdiri di hadapan Bisma, lalu duduk bersimpuh di lantai. Wajah Bisma kini terlihat sangat pucat, membuat Ara semakin resah melihatnya.
‘Apa dia belum makan malam? Kok pucat banget, sih? Kenapa tadi aku bisa sampai tertidur, sih?’ batin Ara heran dengan dirinya sendiri.
“Bisma ... kamu baik-baik aja, ‘kan? Ara ke sini jengukin Bisma,” ujar Ara dengan nada lirih, sembari tetap memandangi wajah Bisma.
Ara terdiam dengan bibir terkulum, sembari memandangi wajah Bisma yang terlihat polos. Kesedihan itu seketika terasa, membuat Ara tak kuasa menahan tangisnya.
“Maafin Ara ya, Bisma?” gumam Ara, yang tak kuasa menahan tangisnya.
‘Maafin Ara, karena kejadian itu terjadi, memang karena Reza,’ batin Ara, yang tidak bisa mengatakannya langsung di hadapan Bisma.
***
“Engh ....”
Ara berusaha membuka matanya. Ia terbangun karena ia merasa seperti ada yang membangunkannya. Ia berusaha menekankan fokus matanya, kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan. Namun, tidak ada siapa pun di sini. Hanya ada Bisma, yang belum bangun dari tidurnya.
“Hmm ....” Ara masih berusaha mencerna keadaan sekelilingnya.
Ternyata, memang tidak ada siapa pun di sini. Ara menatap ke arah Bisma, yang masih tertidur pulas di tempatnya. Ia juga baru menyadari, tentang tangannya yang menggenggam tangan Bisma dengan erat.
‘Ternyata, semalaman aku menggenggam tangan Bisma?’ batin Ara heran, dan berusaha untuk berpikir keras mengenai hal ini.
__ADS_1
“Aku ternyata ketiduran di kamar Bisma ...,” lirih Ara sembari mengucek pelan matanya.
“Memangnya aku semalaman megangin tangan Bisma? Perasaan mah enggak deh!” gumam Ara, berusaha untuk memikirkan jawaban dari berbagai pertanyaan di pikirannya.
“Hmm ... udahlah, nanti lagi mikirnya.” Ara malah jadi berdebat dengan perasaannya sendiri.
Ara pun memandang ke arah Bisma yang masih saja tertidur di hadapannya. “Aku ke sekolah dulu, ya,” ujarnya lirih, kemudian meninggalkan Bisma sendiri di kamarnya.
Kini Ara pun sudah melangkah keluar dari kamar Bisma. Bisma melirik sedikit ke arah pintu, dan Ara pun sudah menghilang di baliknya. Karena dirasa sudah aman, Bisma pun membuka kedua matanya, lalu menatap langit-langit kamarnya dengan sendu.
‘Kenapa dia peduli sama gue? Harusnya dia marah sama gue, karena gue udah ninggalin dia di sekolah kemarin,’ batin Bisma yang merasa heran.
Bisma jadi teringat, betapa manisnya Ara tadi malam, yang tertidur pulas di hadapannya.
Saat itu, Bisma membuka matanya dengan perlahan, karena merasa pegal di sekujur tubuhnya. Ia tak sengaja menyenggol Ara, yang sedang tertidur pulas, dengan memangkukan kepalanya di atas ranjang tidur Bisma.
Melihat pemandangan yang aneh baginya, Bisma pun segera membenarkan pandangannya yang masih rabun.
Melihat Ara yang seperti itu di hadapannya, tiba-tiba saja Bisma merasa tersentuh dengan yang ia lakukan. Ara semalaman tidur menemaninya melewati malam. Bisma yang tersentuh pun menggenggam tangan Ara, lalu membelai lembut pipinya.
Saking asyiknya Bisma memandangi Ara yang tertidur pula situ, ia sampai terlupa sesuatu.
‘Ara bakal telat sekolah, nih!’ batin Bisma yang baru saja teringat sesuatu.
Karena khawatir dengan Ara yang mungkin akan terlambat sekolah, Bisma pun menggoyangkan pelan tubuh Ara, berharap ia bisa bangun dari tidurnya. Ketika Ara sudah mulai membuka matanya, Bisma pun kembali memejamkan matanya, karena iabelum siap untuk berbicara dengan Ara.
Begitulah yang sebenarnya terjadi, membuat Bisma merasa sangat sendu ketika mengingatnya.
“Sebenernya dia gak salah apa-apa. Yang salah itu Reza. Apa gue benar melakukan hal yang begini ke Ara?” gumam Bisma, berusaha untuk memikirkan hal tersebut.
__ADS_1
Sementara itu, Ara kembali menuju ke kamarnya. Ia menghampiri ranjang tidurnya, kemudian duduk di bibir ranjang. Ara masih mencemaskan tentang bocah nakal yang sudah mem-bully dirinya waktu itu. Bukan hal yang tidak mungkin, jika mereka akan bertemu kembali nanti.
‘Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menjadi bahan cemoohannya lagi!’ batin Ara kembali berpikir tentang keadaan.
Namun, Ara juga tidak mungkin terus-terusan lari seperti ini darinya. Ara tidak ingin menjadi orang yang terlihat seperti pengecut di hadapan Ilham.
‘Aku gak mau dia mikir aku pengecut,’ batin Ara lagi, berusaha untuk mencari cara agar bisa melewati semuanya.
Pandangannya tak sengaja melihat ke arah meja. Di sana, terlihat benda yang bisa dipakai di mata, yang Bisma berikan waktu itu. Ara meraihnya dan berpikir sejenak sembari memandangi softlense tersebut.
‘Apakah aku harus mengubah seluruh penampilanku, agar Ilham tidak bisa mengenaliku lagi?’ batin Ara merasa sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi padanya nanti.
***
Setelah berpikir panjang, Ara pun akhirnya memutuskan untuk mengubah penampilannya. Saat ini ia melangkah menuju ruang kelas. Sepanjang jalannya menuju ke arah kelasnya, mereka semua terus memerhatikan Ara. Namun, Ara berusaha tidak memedulikannya, dan semakin mempercepat langkahnya untuk menuju ke arah ruangan kelasnya.
Tiba-tiba saja Ilham menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ara, sembari memerhatikan Ara dengan saksama. Ilham yang berdiri di hadapan Ara, membuat langkah Ara terhenti tiba-tiba. Sebisa mungkin, Ara menahan rasa takut ini di hadapan Ilham.
‘Semoga aja, dia gak kenal sama aku,’ batin Ara yang berusaha bersikap biasa di hadapan Ilham saat ini.
“Gue baru lihat lo di sekolah ini,” ujar Ilham lirih, yang merasa keheranan.
Ara menghela napasnya dengan panjang, ‘Untunglah! Aku sepertinya berhasil menipu Ilham dengan penampilanku sekarang,’ batin Ara.
Karena permasalahan ini yang terus Ara pikirkan, ia sengaja melepaskan kacamatanya, dan mengubah seluruh penampilannya yang dirasa tidak pantas. Ara benar-benar berubah total, karena pelayannya yang bernama Yiyi, yang sudah mengubah diri Ara menjadi sangat berbeda dari biasanya.
‘Pantas saja, dia sampai tercengang seperti tadi. Bahkan, seorang Ilham pun tidak mengenali diriku saat ini,’ batin Ara merasa sedikit puas dengan hasil make over ini.
“Iya aku ....” Ara tersadar, karena suaranya yang masih sama persis dengan suaranya yang lama.
__ADS_1
Ara harus berakting total, karena ia tidak ingin sampai Ilham mencurigainya.