
“Buat lo?” tanya Morgan lagi, berusaha terlihat tenang dan bersikap senatural mungkin. Hal itu membuat Ara kembali bersikap aneh, sehingga Morgan semakin tertarik lebih jauh dengannya.
“I-iya buat aku,” jawab Ara, dengan terbata-bata.
Morgan semakin menajamkan tatapannya ke arah Ara. Terlihat Ara yang seperti semakin gugup, membuat Morgan semakin ingin memastikan hal yang ia rasakan dengan Ara.
Morgan pun menarik tangan Ara secara bergantian, untuk melihat dan memastikan, apa benar ada luka di sana. Ara terlihat merasa tertekan dan tidak rela, tetapi Morgan tidak memedulikan itu. Morgan hanya fokus untuk mencari luka baru yang ada di bagian tubuh lainnya. Namun, ia tidak menemukan sama sekali luka yang baru di tubuh Ara.
“Mau ngapain?” tanya Ara yang merasa sangat takut, dengan apa yang Morgan lakukan itu.
Morgan memandanginya dengan semakin dingin. “Lo bohong, ‘kan?” bidiknya, yang sudah menduga, kalau Ara pasti akan terlihat sangat kaget mendengar ucapannya.
“Hah?”
“Iya, lo bohong ‘kan? Lo ke sini bukan karena mau minjem alkohol dan kain kasa. Tapi loe ke sini karna khawatir sama Bisma?” ucap Morgan yang semakin membidiknya, sehingga ia tidak bisa lagi berkutik.
Laki-laki ini mulai bertingkah dengan aneh lagi. Ara sama sekali tidak mengerti dengan maksud dan tujuannya mengatakan hal seperti ini padanya.
“Bisma ... sabar ya! Gue pasti di sini kok nemenin lo!” terdengar samar ucapan seorang gadis, dari dalam ruangan.
Fokus Ara menjadi teralihkan karenanya. ‘Siapa dia?’ batin Ara, merasa sedih tetapi tidak tahu karena apa.
Ara pun menoleh ke arah Morgan, “Nama kamu siapa?” tanya Ara, yang memberanikan diri bertanya tentang namanya, karena ia sangat tidak nyaman berbicara dengan orang yang tidak ia kenal.
“Morgan,” jawabnya, selalu terdengar dingin di telinga Ara.
“Kamu temennya Bisma?” tanya Ara lagi, Morgan pun mengangguk seperlunya.
‘Kalau Morgan ini temannya Bisma, apa mungkin ... dia juga mengenal gadis yang ada di dalam?’ batin Ara, yang sangat penasaran dengan hal itu.
__ADS_1
“Apa ... kamu kenal gadis yang ada di dalam?” tanya Ara dengan nada yang sangat lirih.
Sejujurnya, Ara sangat takut jika Morgan sampai berpikir yang tidak-tidak dengannya karena ia bertanya seperti ini. Ara tidak mau mengekang circle pertemanan Bisma. Namun, ia juga harus tahu, siapa pun yang sedang dekat dengan Bisma, agar dirinya tidak salah paham dan tahu harus bersikap seperti apa nantinya.
“Gladis,” jawab Morgan lirih, Ara tidak mendegarnya dengan jelas.
“Hah?” tanya Ara, berharap agar Morgan mengulangi kembali ucapannya itu.
“Namanya Gladis. Teman sekelas gue dan Bisma. Dia emang deket banget sama Bisma,” ujar Morgan menjelaskan, membuat Ara paham dengan situasi yang terjadi.
Ara kembali memandang ke arah mereka, ‘Gadis itu memang terlihat sangat cantik. Bahkan ... dia sangat cocok jika disandingkan dengan Bisma. Berbeda denganku! Walaupun aku terlahir dari ayah yang sama dengan Bisma, tapi kecantikanku tidak seperti yang Bisma miliki. Padahal kalau dipikir kembali, ibuku tidak seburuk itu. Malah, aku menganggapnya sangat cantik,’ batin Ara, benar-benar sangat sedih mengingat takdirnya yang seperti ini.
Morgan masih memandang Ara dengan bingung, karena terdapat keanehan pada sikap Ara.
“Lo ... cemburu?” tanya Morgan menambahkan.
Ara yang mendengarnya, langsung kaget bukan kepalang. Mendengar tuduhannya itu, Ara pun langsung mundur beberapa langkah ke belakang, untuk menghindari Morgan melihat wajah jeleknya saat ia terkejut.
Morgan bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Ia hanya memandangi Ara saja, dengan tatapan datar. Hal itu membuat Ara merasa dirinya sudah tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan Bisma.
‘Sudah ada Gladis dan Morgan yang menjaganya. Aku rasa ... aku harus pergi dari tempat ini,’ batin Ara yang berpikir demikian.
Ara pun mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan tempat tersebut. “Aku pergi dulu! Jangan lupa ... jagain Bisma!” ujar Ara dengan sangat tergesa-gesa.
Tanpa menunggu persetujuan Morgan, Ara pun langsung berbalik dan berlari meninggalkan Morgan di sana. Ia harus berlari sekuat tenaga, untuk bisa menyembunyikan wajah jeleknya di hadapan Morgan.
Morgan hanya bisa menggelengkan kecil kepalanya, tak menyangka kalau Ara memiliki sifat yang sangat unik.
Ara masih saja berlarian untuk menghindari Morgan. Karena tidak terlalu memerhatikan sekitar, Ara tak sengaja menabrak seseorang dengan lumayan keras, membuat dirinya sampai terhempas beberapa meter ke belakang.
__ADS_1
“Aww ....” Ara merintih lirih sembari memperbaiki kacamata yang ia kenakan.
Perlahan, Ara melihat ke arah orang yang tidak sengaja ia tabrak tadi. Ia terlihat seperti orang yang sangat kaget. Ara merasa takut jika le orang itu memakinya. Spontan Ara pun menunduk karena takut dengannya.
“Maaf ... Ara gak sengaja! Maaf!” ujar Ara dengan penuh ketakutan, sembari selalu menundukkan kepalanya berulang kali di hadapannya.
Ia hanya terdiam, sembari tetap memandang Ara dengan tatapan demikian. Ara yang penasaran karena tidak ada respon sama sekali darinya, langsung menoleh ke arahnya.
“Apa tadi lo bilang? Ara?” tanyanya dengan nada tinggi, semakin tidak mempercayai perkataan Ara.
Ara sangat tahu, bahwa ia salah kali ini karena tidak memerhatikan sekelilingnya dengan benar. Ia sangat siap, jika orang itu berbuat seenaknya dengan perkataannya yang mungkin akan terdengar kasar di telinga Ara.
“Iya, Ara salah. Maafin Ara, ya!” ujar Ara, yang masih berusaha untuk meminta maaf padanya.
Ara benar-benar tidak ingin mempunyai musuh lebih dari saat ini. Sudah cukup, Ara ingin tenang bersekolah di sini.
“Lo yang waktu itu tinggal di desa, sama ibu lo bukan?” bidiknya tiba-tiba, yang spontan membuat Ara langsung memandang ke arahnya.
‘Kenapa dia bisa tahu masa lalu yang aku alami? Kenapa dia bisa sampai mengetahui dengan detail? Apa ... dia mengenalku?’ batin Ara bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Ara mendelik dengan tatapan kaget, dan tidak percaya. ‘Apa dia benar-benar mengenaliku?’ batin Ara lagi.
“I-iya. Bener yang kamu bilang itu,” jawab Ara dengan ragu dan takut.
‘Apa tidak apa-apa memberitahukan masa laluku pada orang lain yang sama sekali tidak aku kenal?’ batin Ara, yang benar-benar sangat ketakutan jadinya.
Lelaki itu mendelik kaget di hadapan Ara, “Jadi, loe anak haram itu?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi.
Ara kembali terkejut dengan perkataannya. Sudah lama sekali, tidak ada yang mengejeknya dengan perkataan yang demikian, membuat Ara merasa seperti bernostalgia.
__ADS_1
‘Kenapa tiba-tiba ada orang dari kota yang mengejekku seperti ini lagi? Bahkan dia sampai tahu masa laluku!’ batin Ara, benar-benar sangat heran dengan keadaan.