
Mendengar pernyataan cinta Bisma itu, sontak membuat Ara mendelikkan matanya. Ia tidak menyangka, bahwa Bisma memiliki perasaan padanya.
Selama beberapa detik, Ara hanya bisa memandang Bisma dengan mata mendelik, dan juga mulut yang menganga. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa kakak tirinya itu memiliki perasaan yang lebih dari sekadar adik dan kakak.
Sempat stuck dan bingung, Ara hampir saja menjatuhkan gelas yang ia pegang. Ia benar-benar sangat tidak menyangka, karena Bisma yang sudah mengatakan hal seperti itu di hadapannya.
“A-apa?” gumam Ara, tak percaya dan bingung harus menjawab apa.
Bisma memandangnya dengan dalam. “Ra, gue suka sama lo! Gue suka sama lo!” ujarnya lagi, berusaha untuk mempertegas ucapannya pada Ara.
Karena merasa bukanlah mimpi, Ara hanya bisa menggelengkan kecil kepalanya. Ia tidak bisa melakukan apa pun, lidahnya pun terasa sangat kelu saat ini.
“Gue harap, lo jauhin Morgan. Gue mau kita mulai hubungan ini, karena gue udah sangat tersiksa dengan hubungan lo sama Morgan ataupun Reza waktu itu. Gue gak mau bohongin perasaan gue lagi, karena gue gak mau nanti menyesal karena ga bisa ungkapin perasaan gue sama lo ini!” ujar Bisma, semakin yakin dengan apa yang ia ungkapkan pada Ara.
Karena sudah stuck, lagi-lagi Ara hanya bisa memandang Bisma saja, tanpa mengatakan apa pun. Hal itu yang membuat Bisma semakin kesal saja dengan apa yang Ara lakukan di hadapannya.
“Please, kasih jawaban, Ra! Jangan diam aja, kali ini ... tolong kasih jawaban!” ujar Bisma, yang malah terlihat seperti sedang mengemis perasaan cinta pada Bisma.
Malam sudah semakin larut, tetapi Ara yang semula mengantuk, jadi sama sekali tidak mengantuk karena mendengar hal mengejutkan ini dari Bisma. Ia merasa bahwa Bisma tidak tepat mengatakan hal ini di malam yang larut ini.
“Bis, ini udah malam. Ara harus istirahat sekarang,” ujar Ara, Bisma menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
“Semua udah gue lakuin buat lo, Ra. Dari mulai belain lo di depan papa, buat lo jauh dari Reza, ngehajar Ilham, musuhan sama Morgan, buat Fla dan Gladis paham tentang posisi lo dan bikin mereka stop bully lo di kelas, apa lagi yang harus gue lakuin buat ngasih tau kalau lo itu penting bagi gue, dan lebih dari sekadar adik kaka?” ungkap Bisma, mengatakan hal ini dengan sangat serius.
Kepala Ara seketika terasa berat, mendengar ucapan Bisma yang sangat berat maknanya baginya. Ia tidak menyangka, Bisma melakukan hal itu karena ia memendam perasaannya.
“Tapi ... kita ini saudara, Bis!” ujar Ara, tak percaya dengan apa yang Bisma katakan.
Walaupun Ara mengerti, perasaannya pada Bisma selama ini adalah perasaan yang juga lebih dari seorang adik kepada kakaknya. Hubungannya dengna Morgan mengajarkan banyak hal padanya, sampai rasa cemburu Morgan ternyata membuatnya sadar dengan perasaannya terhadap Bisma, yang sebenarnya juga lebih dari seorang adik kepada kakaknya.
“Ra ... udahlah. Jangan nolak dengan alasan klasik begitu. Gue suka sama lo!” ujar Bisma, yang terdengar memaksakan perasaannya pada Ara.
Namun, banyangan Ara tentang Bisma dan juga Gladis masih terngiang di benaknya, membuatnya menjadi sangat ragu dengan perasaan Bisma padanya.
“Kalau Bisma suka sama Ara, kenapa Bisma nyium Gladis waktu itu? Kenapa Bisma malah deket sama dia, dan malah kayak ngejauhin Ara?” tanya Ara, Bisma menghela napasnya dengan panjang.
Ara merasa bersalah, karena ia menyadari teriakan Bisma saat Morgan menciumnya malam itu.
“Bisma ... kenapa teriak malam itu?” tanya Ara yang masih penasaran dengan hal itu.
“Karena gue gak rela ngelihat lo dicium sama Morgan! Gue sampai kesel, dan mukul dinding yang ada di hadapan gue. Gak tau kenapa, kesel aja bawaannya ngeliat lo bersikap begitu sama Morgan,” ujar Bisma, membuat Ara merasa malu mendengarnya.
“Ya, gak salah Morgan begitu karena Morgan pacar Ara,” gumam Ara lirih, membela Morgan di hadapan Bisma.
__ADS_1
Bisma mendengarnya dengan sangat tidak rela, karena Ara masih menganggap Morgan sebagai kekasinya. Ia merasa pernyataan cintanya sangat sia-sia di hadapan Ara.
“Ra ... gue suka sama lo! Tinggalin Morgan, dan pacaran sama gue. Gue janji, bakal kasih yang terbaik daripada yang Morgan kasih ke lo!” ujar Bisma, dengan seribu janji lelaki saat menyatakan perasaannya kepada seorang wanita.
Ara tak bisa mengambil keputusan sepihak. Ara harus memikirkannya dengan matang, agar ia tidak salah langkah lagi ke depannya.
Ara memandangnya dengan dalam. “Bisma, Ara gak bisa putusin semuanya sepihak. Ara masih pacaran sama Morgan, dan Ara gak bisa mainin perasaan Morgan gitu aja. Walaupun Ara belum sepenuhnya nerima Morgan, tapi ... hadirnya Morgan di hidup Ara udah buat Ara sedikit terhibur, saat Bisma bikin Ara nangis waktu itu,” ujarnya menjelaskan, Bisma memandang Ara tak rela, karena ia ingin mendapatkan jawabannya langsung saat ini juga dari Ara.
Namun Bisma menyadari, bahwa hal ini juga membutuhkan waktu. Ia juga harus menyelesaikan hubungannya dulu dengan Gladis, yang entah apa jadinya saat ini. Walaupun ia tidak merasa menjalin hubungan dengan Gladis, setidaknya ia sudah memberikan harapan palsu pada Gladis, dan harus segera diakhiri agar tidak terlalu berharap lagi.
“Ara mau istirahat, Bisma. Besok pagi Ara berangkat bareng sama Morgan, Bisma gak usah nunggu Ara ya. Berangkat aja dulu, dan pulang duluan seperti waktu itu Bisma ngejauhin Ara. Ara udah terbiasa berangkat dan pulang bareng sama Morgan,” ujar Ara, sontak membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.
Ara melangkah meninggalkan Bisma di sana, membuat Bisma tak terima dengan pernyataan cintanya yang tertolak.
“Ra! Gimana dengan perasaan gue?” pekik Bisma, Ara menghentikan langkahnya karena pekikan Bisma yang menahannya.
Ara menghela napasnya dengan panjang. “Ara harus pikir-pikir dulu, Bis. Ara masih ada Morgan, dan Bisma masih perlu bicara sama Gladis,” ujarnya tanpa melihat ke arah Bisma.
Karena sudah tidak ada lagi yang perlu dikatakan, Ara pun pergi dari sana dengan membawa gelas yang sedari tadi ia pegang di tangannya, dan juga membawa mawar yang Bisma berikan.
Hati Bisma sedikitnya teriris, karena ternyata Ara lebih mementingkan Morgan ketimbang dirinya yang sudah berjuang mati-matian untuk melindunginya.
__ADS_1
“Morgan ... kenapa dia harus masuk duluan?” gumam Bisma, yang hanya bisa meratapi perasaannya pada Ara.