Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Seharusnya Menerima Takdir


__ADS_3

Ara terlihat sangat emosi pada Bisma, setelah mendengar ucapannya yang seperti itu.


Bisma memandangnya dengan bingung, ‘Aku merasa, diriku sudah mengatakan hal di luar batas wajar. Rasanya sangat sakit, saat ia mengatakan hal demikian. Mungkin dia sudah berpikir, kalau aku adalah anak durhaka yang menginginkan kematian ayah kandungnya sendiri, dan juga orang yang tidak menghormati orang lain. Aku merasa sudah mengecewakan Ara. Ditambah lagi, aku sudah sampai melibatkan ibunya dalam setiap perkataanku,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat bingung dengan merasa khawatir dengan perasaan Ara padanya.


“Mang Ujang ....”


“Ujang ....”


“Ujang!” Ara berteriak dengan sangat keras, sehingga semua pelayan yang ada di rumah ini, mendatangi ke arahnya.


“Tolong bantu angkat, Tuan!” suruh Ara, sebisa mungkin untuk menolong ayahnya.


Bisma hanya terdiam, sembari melihat mereka yang sedang susah payah menggotong ayah. ‘Aku merasa sudah gagal. Aku sangat payah!’ batin Bisma, benar-benar sangat mengutuk dirinya sendiri di hadapan Ara dan yang lainnya.


Bisma meninggalkan Ara, dan yang lainnya dengan cepat. Ia sudah merasa kesal, entah karena ucapannya pada Ara tadi, atau karena ucapan Ara padanya.


‘Aku tidak mengerti dengan perasaan ini. Rasa ingin memiliki yang semakin lama semakin mendalam, membuatku takut kehilangan dirinya. Ini seperti kutukan bagiku. Aku yang sedari dulu membenci perlakuan ayahku, dan juga membenci wanita murahan yang sudah merebut ayah dari ibuku, dan sekarang malah pelan-pelan menaruh perasaan pada anak hasil hubungan gelap mereka. Apa aku terlalu bodoh untuk bertindak demikian? Aku baru mengenalnya kemarin. Tapi, ia sudah mampu mengubah sudut pandangku terhadap dirinya. Apalagi, saat ia mengatakan untuk selalu menerima takdir yang ada. Kalau ayahku tidak membuat kesalahan demikian, aku tidak akan bertemu dengannya sekarang. Aku berpikir kembali dan mencerna ucapan yang ia katakan. Ternyata, ada benarnya juga,’ batin Bisma, sembari melangkah keluar dan entah ke mana tujuannya melangkah.


Bisma menyusuri setiap jalan yang ada di hadapannya, tanpa tahu ke mana tujuannya. Sepanjang jalan, ia selalu memikirkan yang barusan Ara katakan.


Bisma menghentikan laju motornya, lalu menghampiri pedagang kaki lima untuk sekadar membeli cerutu dan juga minuman. Ia merogoh saku jaketnya untuk mengambil korek gas. Namun, ternyata korek itu menghilang. Entah bagaimana bisa korek itu menghilang dengan sendirinya?


“Mas, koreknya juga sekalian ya,” ujar Bisma pada pedagang itu. Ia mengangguk paham dengan ucapan Bisma. Bisma pun menerima cerutu, korek, dan juga minuman yang ia pesan, dari sang pedagang.


Bisma lalu duduk di tepi taman yang tak jauh dari rumahnya. Ia membakar cerutu itu, dan mulai menghisapnya. Perasaannya kembali lega, pikirannya pun kembali normal. Ia mulai berpikir, yang seharusnya ia pikirkan.


‘Aku bisa saja menerima semua takdir yang ia maksudkan, tapi bagaimana dengan ibuku? Kondisinya kini, tak sekuat dulu. Tapi kalau dipikir kembali ... ibu adalah istri sah. Bagaimana dengan ibunya Ara? Selama bertahun-tahun ... mungkin saja dia tidak mendapatkan apa pun dari ayah. Berbeda dengan aku dan juga ibuku. Kami selalu hidup dengan bergelimang harta. Seharusnya ... ibu bisa menerima kenyataan ini, jika dijelaskan perlahan,’ batin Bisma, yang perlahan bisa menerima semua kenyataan ini, secara perlahan.

__ADS_1


Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Apa yang harus gue lakuin?” lirihnya bingung, lalu menghisap kembali cerutu yang hampir habis terbakar.


‘Sudahlah, aku harus mencoba menerima takdir, sama seperti yang Ara bilang,’ batin Bisma, yang merasa harus segera menerima apa pun yang sudah menjadi takdirnya.


Bisma membulatkan pandangannya, “Sampe lupa! Gue udah janji buat bikinin Ara kakiage. Sekalian mampir ah ... beli kakiage, sama makanan yang lainnya buat Ara. Dia belum makan tadi,” lirih Bisma, sembari membenarkan jaket yang ia pakai, lalu segera menaiki kuda besinya untuk kembali ke kediamannya.


***


Ara memerhatikan jarum jam yang perlahan bergerak. Hanya butuh beberapa detik lagi untuk menuju hari ulang tahunnya yang ke-18. Ara langsung memadamkan lampu ruangan, dan hanya tersisa lampu tidur yang menyala. Ia kembali duduk di atas ranjangnya dan menyalakan korek gas yang diam-diam Ara ambil dari kantong Bisma pagi tadi, saat menuju ke sekolah.


Ckrekk ....


Ara menyalakan korek itu, lalu menatap jarum panjang yang hampir sampai pada angka 12. Tinggal beberapa detik lagi sebelum hari ulang tahunnya tiba.


“Lima ....”


“Tiga ....”


“Dua ....”


“Satu ....”


“Tengg ....”


Jam dinding pun berdentang. Buru-buru Ara membuat permohonannya sembari memejamkan mata.


‘Aku cuma mau sosok orang yang bisa menjagaku sampai menutup mata. Membuyarkan selimut kabut, yang selama ini menyelimuti kehidupanku. Terima kasih atas waktu yang selama ini kau berikan padaku, Tuhan.’

__ADS_1


Fiuh ....


Ara meniup perlahan api yang muncul dari korek itu. Kini, situasi sekitar menjadi gelap gulita. Hanya ada penerangan dari lampu tidur saja. Tiba-tiba saja ... Ara teringat dengan Bisma.


‘Aku jadi ingin membuat satu harapanku untuk Bisma,’ batin Ara.


‘Bisma itu ... satu-satunya orang yang aku punya setelah ibuku pergi. Tolong jaga dia, Tuhan. Aku ingin dia bisa menerima takdirnya, sebagaimana aku menerima takdirku yang seperti ini. Dan untuk papa, aku berharap ... dia bisa adil memberikan kasih sayangnya pada Bisma, dan mau memperbaiki kesalahan yang ia lakukan. Aku harap, tidak ada lagi masalah di antara mereka. Aku hanya butuh waktu untuk bisa menerima papa dalam kehidupanku. Karena... aku tumbuh tanpa seorang ayah. Aku bingung harus bersikap seperti apa saat berhadapan dengannya. Aku harap, semua akan baik-baik saja pada waktunya.’ Ara sudah selesai membuat harapan, dan membuka kembali matanya.


“Selamat ulang tahun, Ara ...,” lirihnya pada diri sendiri.


Ara benar-benar tak kuasa menahan tangisannya. Ini adalah ulang tahun pertamanya tanpa adanya ibu di sisinya.


‘Semoga saja, ini akan menjadi mudah bagiku kedepannya,’ batin Ara, yang merasa harus bisa melewati semua ini seorang diri.


Seseorang membuka pintu ruang kamar Ara, sehingga Ara pun langsung menoleh ke arahnya. Terlihat Bisma yang bingung, sembari memegang sesuatu di tangannya. Ara berusaha sebisa mungkin untuk menghapus air matanya.


Bisma memandang ke arah Ara, yang ternyata masih belum tidur.


“Hey ... kenapa belum tidur?” tanya Bisma.


‘Sepertinya ... dia tidak menyadari kalau aku sedang menangis,’ batin Ara, yang benar-benar sangat beruntung kali ini.


“Belum bisa tidur,” jawab Ara dengan lirih dan ketus, dan jug terdengar agak serak.


Bisma pun datang menghampirinya dan duduk di sampingnya, “Hmm ... gimana keadaan papa sekarang?” tanyanya.


Ara memandangnya dengan dalam, ‘Sepertinya ... Bisma tidak sepenuhnya membenci ayahnya itu. Dia masih mau bertanya tentang kondisi ayahnya,’ batin Ara, benar-benar memikirkan tentang Bisma dengan juga ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2