Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Bisma Galau


__ADS_3

“Memang lebih bagus seperti itu, jangan ketemuan di jalan, jangan mainin perasaan wanita, kalau bisa ... kamu ajak langsung ke sini aja biar Bunda sama ayah kenal sama orangnya.”


Reza memandang Bunda dengan senyumannya, ‘Respon bunda sepertinya positif dan memberikan lampu hijau padaku. Aku harus memberikan kesan positif untuk Siti di mata kedua orang tuaku, agar mereka bisa menerima Siti dengan sepenuh hati,’ batinnya yang tersenyum hangat pada Bunda.


“Makasih ya, Bun. Ya udah ... aku mau mandi dulu. Badan aku udah lengket banget,” ujar Reza dengan nada yang manja.


Namanya juga putra semata wayang, Reza lebih ingin bermanja dengan Bundanya. Apalagi ... Bunda sering sendiri di rumah. Reza menjadi semakin sayang padanya, karena ia tidak ingin ibunya merasa kesepian karena ayahnya tidak selalu ada di sisinya.


“Mmm ... pantesan dari tadi bunda nyium bau kecut, ternyata dari badan kamu,” seloroh Bunda, yang sedang mengajak Reza bercanda. Reza sampai tertawa dibuatnya.


Reza menghela napasnya dengan panjang, ‘Aku ingin terus melihat bunda tersenyum seperti ini. Sama seperti perasaanku pada Siti. Aku ingin melihat Siti seterusnya tersenyum padaku. Aku tidak akan membiarkan Bisma melukainya,’ batinnya bertekad demikian.


***


Di kamarnya, Bisma terlihat sedang kesal. Ia hanya diam, sembari menatap ke arah hadapanya. Ia sangat kesal karena teringat kejadian di mall tadi.


‘Kenapa Ara bisa bersama dengan Reza?’ batin Bisma, yang benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ia lihat itu.


Pikirannya menjadi kacau-balau saat ini. Ia tidak bisa lagi memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk.


‘Sepertinya, aku salah mengambil langkah. Aku tidak seharusnya seperti ini pada Ara. Aku tidak seharusnya mengacuhkannya. Semakin aku membuat jarak dengannya, semakin juga aku ingin memecahkan jarak itu. Aku yang memulai dan aku yang menyesali semuanya. Tapi aku masih belum yakin dengan perasaan ini! Bisa saja aku sedang mempertahankan rasa egoisku pada Ara,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan terhadap Ara.


Bisma mengubah posisinya, lalu memandang ke arah langit-langit kamarnya. Kedua lengannya ia lipat, dan ia gunakan untuk menyanggah kepalanya.


“Kenapa jadinya kayak gini sih? Gue itu cuma pengen pastiin perasaan dan hati gue aja kok! Kenapa setiap gue jauh dari dia, setiap itu juga dia makin deket sama Reza? Kenapa ini? Apa ... gue salah ambil langkah?” Bisma terus-menerus mengeluh dengan pilihan yang ia ambil.


Bisma semakin kesal dengan dirinya sendiri. ‘Sampai kapan aku bisa menahan semua ini? Sampai kapan aku bisa melihat Ara dan Reza bersama-sama?’

__ADS_1


Bisma jadi tidak ingin bertemu dengan Ara sekarang. Rasanya ... ia sangat malas bertemu dengan Ara.


“Apa gue nginep aja di rumahnya Morgan aja kali ya?” Bisma mulai berpikir, kemudian melirik kearah jam tangannya.


Ternyata saat ini, sudah sangat larut. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Bisma mendadak ragu, apakah Morgan masih terjaga?


“Ah, belum dicoba belum tahu. Gue telepon aja kali ya?” bantah Bisma yang berusaha berpikir optimis.


Bisma pun langsung mengeluarkan handphone-nya untuk menghubungi Morgan.


Sementara itu di sana, Morgan terlihat sedang asyik membaca novelnya. Tak ada lagi yang bisa Morgan lakukan. Ia hanya bisa membaca novel saja. Karena untuk membuka handphone ia merasa malas sekali. Morgan sangat malas, ketika ia melihat banyak sekali pesan singkat dari beberapa gadis yang mengejarnya. Morgan sampai bosan memblokir mereka terus-menerus. Ia juga sampai bosan mengganti nomor teleponnya secara berkala. Mereka pintar sekali mencari informasi tentang Morgan.


Tiba-tiba saja handphone-nya berdering. Tertera nama Bisma di layar handphone-nya. Morgan mengernyitkan dahinya karena bingung, tidak biasanya Bisma melakukan ini.


“Tumben banget dia nelpon gue larut malam gini,” lirih Morgan kebingungan, lalu segera mengangkat telepon dari Bisma.


“Halo Gan, lo udah tidur belum?” Pertanyaan Bisma membuat Morgan merasa gemas padanya.


“Udah, Bis. Gue udah tidur,” jawab Morgan dengan datar, membuat Bisma memandang ke arah langit-langit kamarnya dengan datar.


“Sialan lo Gan!”


“Lagian lo ada-ada aja! Kalau gue udah tidur, gimana bisa gue ngangkat telepon lo?” ujar Morgan dengan nada malas, pada Bisma.


“Sorry deh ... gue nelpon pengen nginep di rumah lo. Gue mastiin dulu lo udah tidur atau belum,” ujar Bisma, benar-benar membuat Morgan bingung. Namun, Morgan tidak ingin bertanya lebih banyak padanya.


‘Ada apa? Sepertinya ... ada masalah yang terjadi padanya, sampai dia tidak ingin pulang ke rumah,’ batin Morgan, yang sudah mengetahui tentang keadaan Bisma.

__ADS_1


“Dateng aja,” ujar Morgan, yang tidak banyak kata-kata lagi.


***


Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, Bisma pun sampai di kediaman Morgan. Ia langsung masuk ke dalam kamar Morgan, karena tidak enak dengan keluarga Morgan yang lain.


Mereka duduk di sofa, yang ada di dalam kamar Morgan. Morgan masih saja membaca novelnya, walaupun Bisma kini sudah berada di hadapannya.


Bisma memandangnya dengan heran, “Ini ‘kan malam minggu, kok loe di rumah aja sih, Gan?” tanya Bisma, membidik ke arah Morgan.


Morgan memandang ke arah Bisma dengan pandangan yang terlihat sangat datar. “Di rumah atau enggaknya, apa urusannya sama lo?” tanyanya balik, lalu membalik halaman novel yang sedang ia baca.


Kata-kata Morgan sungguh menusuk, sampai tak jarang Bisma dibuat kesal olehnya.


“Sentimen banget sih lo sama gue! Gue ‘kan cuma nanya,” ujar Bisma yang agak kesal pada Morgan, tetapi Morgan hanya diam saja mendengar ucapan Bisma yang seperti itu.


Beberapa saat mereka hanya saling diam, membuat Bisma berusaha mencari topik pembicaraan.


“Eh Rafael mana?” tanya Bisma bingung.


“Ini ‘kan malam minggu, ya udah pasti dia ngapel,” jawab Morgan tanpa menoleh ke arah Bisma, dan masih tetap fokus pada buku novelnya itu.


“Lho ... emang dia punya pacar?” tanya Bisma terkekeh, Morgan menatap sinis ke arahnya.


“Punya lah! Emangnya lo.”


Ucapan Morgan sangat sedikit, tetapi sangat sakit mengenai hati Bisma.

__ADS_1


‘Kenapa dia tidak bisa menjaga sedikit ucapannya? Seharusnya ... semakin dewasa, dia semakin paham apa yang harus dia ucapkan, dan apa yang tidak boleh diucapkan. Tapi menurutku ... ini sudah jauh lebih baik daripada awal pertama bertemu dengannya. Aku sudah lupa kesan pertama bertemu dengan Morgan seperti apa. Tapi yang aku ingat sedikit, Morgan memang mempunyai perkataan yang sangat tajam. Cocok sekali jika dia nantinya bekerja sebagai hakim atau jaksa yang menangani kasus besar. Dengan perkataan yang selalu tepat dan menusuk, itu sudah menunjang sekali untuk menjadi jaksa atau hakim yang terkenal,’ batin Bisma, benar-benar sangat tidak menyangka dengan Morgan yang masih sama saja seperti dulu.


__ADS_2