Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Keputusan Bisma


__ADS_3

“Dasar bodoh, mana ada yang mau nolong cewek culun kayak lo? Apalagi ... lo itu anak HARAM!” ujarnya dengan menekankan kata ‘Haram.’


Ucapan Ilham kali ini sudah sangat melewati batas. Ara tidak bisa lagi menahan semua ini. Air matanya, pun sudah tidak bisa terbendung lagi. Ara juga sudah mencapai batasnya. Ia merasa, rapuh.


‘Reza, Morgan, Bisma, siapa pun, tolong Ara,’ batinnya berusaha berharap dengan keadaan ini.


Dengan sekuat tenaga, Ara pun menghempaskan tangan Ilham yang sedang mencengkram tangan Ara. Ia melarikan diri, sekuat yang ia bisa. Ternyata ia bisa lepas dari cengkeraman Ilham, tetapi dengan keadaan terpojok.


‘Aku tidak ingin bersekolah di sini lagi. Aku tidak ingin bertemu dengan bocah nakal itu lagi!’ batin Ara, yang berlari sembari menangis karena ketakutan.


Dari arah hadapan Ilham, terlihat Bisma yang menatap kesal ke arah Ilham. Ia tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia sudah melihat Ara menangis, dan itu semua karena ulah temannya sendiri. Bisma sampai tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Namun, ia berusaha untuk menahan amarahnya, dan menghampiri Ilham di sana.


“Sialan tuh cewek, kuat juga tenaganya!” lirih Ilham, yang masih terdengar samar oleh Bisma.


“Siapa yang lo maksud?” tanya Bisma, berusaha menekan emosi sebisa mungkin, untuk memancing Ilham.


“Cewek culun yang dulu tinggal satu desa sama gue. Bisa-bisanya gue sama dia ketemu lagi di sini,” jawab Ilham dengan nada yang sangat angkuh, Bisma masih berusaha menahan rasa kesalnya.


“Cewek culun? Siapa yang lo maksud?” tanya Bisma lagi, dengan Ilham yang masih saja tak menghiraukannya. Ilham sama sekali tidak menoleh ke arah Bisma sejak tadi dan hanya berfokus pada Ara saja.


“Ara. Si cewek culun dari kelas si ketua OSIS itu,” jawab Ilham dengan santai.


Bisma ingin sekali merobek rahangnya itu, agar tidak berbicara sembarangan lagi mengenai Ara. Terlebih lagi di hadapannya. Bisma sangat tidak bisa menerima itu.


“Dari dulu, gue udah gak suka sama dia. Karena dia udah rebut posisi gue sebagai anak terpandai. Gak sangka, gue bisa ketemu dia lagi di sini. Gue bisa ngerjain anak haram itu sepuasnya, haha.”

__ADS_1


Tak disangka, ucapan Ilham sudah membuat Bisma naik pitam. Tak ada yang bisa ditoleransi lagi dari Ilham. Semuanya sudah jelas, Bisma tahu yang membully Ara ternyata adalah Ilham.


‘Jadi selama ini, dia yang sudah membuat Ara sengsara, saat Ara jauh dariku?’ batin Bisma, yang sudah paham dengan keadaan ini.


“Jangan-jangan, lo yang waktu itu jahilin rambut dia, pakai permen karet?” bidik Bisma, sontak membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.


“Hahah kok loe tau si—”


Ucapan Ilham terpotong, karena ia menoleh ke arah Bisma. Ia berhenti, saat melihat ekspresi Bisma saat ini, yang sudah mulai marah padanya.


“Bisma ....” Ilham mulai gemetar, saking takutnya ia dengan ekspresi Bisma yang terlihat sudah tidak bisa ditahan lagi.


“Siapa yang lo panggil anak haram?” tanya Bisma, yang sudah tidak bisa menahan gejolak amarahnya lagi.


Bisma tidak ingin menahan dirinya lagi saat ini. Ilham dinilai sudah banyak membuat Ara menderita selama ini, membuat Bisma geram dan tidak ingin melepaskannya.


Ilham sama sekali tidak ingin membuat Bisma marah padanya, tetapi kali ini Bisma sudah marah padanya dan ia sama sekali tidak mengerti dengan alasan yang membuat Bisma marah padanya.


"Gue mau bunuh lo!" teriak Bisma lagi, sontak membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.


"Maksud lo apa, Bis? Gue gak ngerti! Lo kenapa?" tanya Ilham, tetapi Bisma sama sekali tak menghiraukannya.


“Persetan!” teriak Bisma yang sudah semakin kesal, lalu langsung meninju wajah Ilham sekeras mungkin.


Mendapatkan tinjuan dari Bisma, Ilham pun mendelik kaget karena apa yang Bisma lakukan padanya yang sama sekali tidak ia mengerti.

__ADS_1


Terjadilah perkelahian antara Bisma dan juga Ilham. Mereka semua mengelilingi Bisma dan Ilham yang sedang berkelahi, sembari merekam kejadian langka ini dengan smartphone mereka. Namun, Bisma yang sudah kalap, tidak ingin memedulikan mereka. Yang ia pedulikan hanyalah Ilham, yang ingin sekali ia habisi itu.


Bisma tidak bisa memberikan ampun pada Ilham. Ia menghajarnya sekuat tenaganya, tanpa memberikannya jeda untuk sekadar mengambil napas.


“Bangsat! Yang lo panggil anak haram itu adik gue!” teriak Bisma, sembari tetap memukul Ilham dengan sangat keras.


Mendengar ucapan Bisma itu, sontak membuat Ilham merasa kaget. Ia sangat tidak menyangka, bahwa Ara adalah adik biologis dari Bisma. Hal itu sungguh di luar dugaannya.


Amarah Bisma seketika memuncak dan pecah, setelah berhasil mendaratkan beberapa pukulan di wajah Ilham. Bisma masih kurang puas, dan langsung menindih Ilham saat ini. Beberapa pukulan pun mendarat, dengan Ilham yang menahannya sebisa yang ia mampu. Namun, tentunya ia tidak akan bisa menahan serangan Bisma dengan sempurna.


Bisma memandangnya kesal, ‘Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Aku akan membalaskan dendam Ara padanya!’ batinnya yang sudah tersulut emosinya.


Wajah Ilham seketika bersemu merah. Ia sama sekali tidak melakukan perlawanan, dan hanya diam untuk bertahan, tanpa membalas setiap pukulan dari Bisma. Hal itu membuat Bisma semakin bergairah untuk menghabisi Ilham dengan tangannya sendiri.


Namun karena sudah dinilai keterlaluan, beberapa orang tiba-tiba saja memisahkan Bisma dari Ilham, yang saat ini sudah tergolek lemah dengan memar di seluruh wajahnya. Namun Bisma masih belum puas melakukannya, pada orang yang sudah membuat Ara sengsara. Ilham pantas menerima semua ini.


“Lepasin gue!” teriak Bisma, tetapi mereka tak menurut padanya dan semakin menahan tubuh Bisma dengan sangat kuat.


Beberapa orang memapah Ilham yang sudah lemas, sehingga membuat Bisma semakin kesal saja melihat wajah Ilham yang sangat menggelikan itu.


“Gue gak akan anggap lo sebagai bagian dari temen gue lagi! Camkan itu brengsek!” pekik Bisma, sembari menunjuk kasar ke arah Ilham.


Mereka semua memaksa Bisma untuk menjauhi Ilham, yang sudah tidak berdaya itu. Mereka yang semula tidak ingin ikut campur, terpaksa harus turun tangan karena Bisma yang sudah menghajar Ilham secara membabi buta itu.


Kalau saja mereka tidak melerai Bisma dan Ilham, Bisma sudah pasti akan membunuhnya saat ini juga. Rasa kesalnya, yang sudah menutupi semua akal pikirannya. Tak disangka hanya karena permasalahan Ara, Bisma sampai memutuskan tali pertemanan dengan Ilham, orang yang paling berpengaruh dalam nilai akademisnya. Ilham yang selalu memberikannya kunci jawaban, dan mengerjakan semua PR-nya.

__ADS_1


Namun, Mulai saat ini Bisma sudah mengambil keputusan untuk tidak pernah mengenalnya lagi. Itu semua ia lakukan, karena Ara.


***


__ADS_2