Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Alat Penyiram Tanaman


__ADS_3

Diulurkannya tangannya untuk mengambil handuk kecil, yang tersusun rapi di atas meja, samping pintu kamar mandinya. Ia melangkah memasuki kamar mandi, yang terlihat sangat nyaman dan megah ini.


Pandangannya ia edarkan, melihat-lihat isi kamar mandi mewah ini dan memerhatikan sekelilingnya.


Sangat elegan.


“Kalo di kampung mah, kamar mandi ini seluas kamar tidur orang terkaya di kampung,” lirih Ara, sembari terus memerhatikan sekelilingnya.


Ara pernah sekali mengunjungi rumah temannya, yang terkaya di kampungnya. Di sana, ada banyak barang elektronik yang sangat bagus.


Akan tetapi, itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan barang-barang yang ada di sini.


Matanya membulat, ‘Aku suka dekorasinya!’ batin Ara, sembari memandangi dinding yang bernuansa putih dengan list hitam, membuat seisi kamar mandi terasa lebih elegan.


Dilangkahkan kakinya secara perlahan, menghampiri bath tub. Pandangannya tertuju ke arah sesuatu yang tidak biasa ia lihat sebelumnya.


Ara pun memerhatikannya sembari menatapnya bingung, “Ahh kalau di kampung, ini mah buat nyirem tanaman. Kok di sini malah ditaruh di kamar mandi, sih?” gumam Ara, semakin heran karena melihat shower.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ara pun meraihnya dan menunggingkannya seperti hendak menyiramkan air pada tanaman. Akan tetapi, tidak ada air yang keluar dari sini.


‘Gak ada air yang keluar? Lantas, kenapa bentuk benda yang ada di kota, berbeda dengan yang aku tahu di kampung?’ batin Ara, sembari tetap berusaha untuk menuang shower tersebut.


“Kok beda, sih? Ini kenapa nyambung ke keran? Gak keluar airnya pas ditunggingin!” ucap Ara yang sedikit gemas.


Ara terus menunggingi penyiram tanaman itu, sambil sesekali ia menggoyangkannya. Namun, semua itu hanyalah sia-sia belaka. Benda itu sama sekali tidak mengeluarkan air.


“Aneh! Dari lubang-lubangnya biasanya keluar air! Lagian, gimana cara masukin airnya coba? Ini ‘kan nyambung ke keran?” Ara masih belum menyerah untuk mencari tahu, bagaimana kegunaan alat ini.

__ADS_1


Beberapa saat berpikir, ia teringat pada keran yang menempel tak jauh dari tempat alat itu berada.


“Apa ... aku puter aja ya keran itu?” gumam Ara, yang berpikir untuk mencoba membuka keran tersebut.


Rasa penasarannya sangatlah tinggi, Ara pun memutar keran tersebut yang ternyata benar membuat airnya keluar dari lubang shower tersebut.


“Ahhhhhhhh ....”


Ara menjauhkan benda itu dari hadapannya, karena benda itu tak sengaja, mengeluarkan air dengan tiba-tiba. Karena hal itu, Ara sampai kesulitan bernapas.


dihelanya napasnya dengan panjang, sembari berusaha memperbaiki sistem pernapasannya.


“Wah ... kenapa sih? Kok alat ini main asal semprot aja?” gerutu Ara, yang agak kesal karena sudah terkena semprot dengan alat ajaib ini.


Karena merasa kapok, ia pun kembali menaruh benda itu ke tempat semula ia mengambilnya. Ia masih sangat terkejut, karena airnya terus-menerus keluar dari benda itu.


‘Ya sudah, karena sudah terlanjur basah, aku lanjutkan saja untuk bermain air!’ batin Ara, segera bermain air kembali untuk melakukan simulasi bermain mandi hujan, seperti di kampung halamannya dulu.


“Kalo dulu mah, ibu ngelarang aku buat main air, karena ibu beli air mahal. Ibu juga ngelarang aku mandi hujan, takut sakit katanya.” Ara tertawa kecil sembari mengesampingkan perasaan lelahnya, karena sudah seharian melakukan perjalanan yang panjang.


Ara terdiam sejenak untuk berpikir, “Kalau aku mandi hujan di sini, sakit gak ya?” gumamnya lagi, lalu tertawa kecil karena memikirkan hal yang tidak terpikirkan jawabannya olehnya.


Hanya dengan melakukan hal ini saja, bisa membuat Ara bahagia. Saking senangnya, ia pun melanjutkan bermain air kembali.


‘Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang. Aku jadi rindu masa laluku. Tapi kalau boleh memilih, aku akan memilih tinggal di tempat ini, meskipun hanya seorang diri,’ batin Ara, yang sudah merasa nyaman tinggal di tempat semewah ini.


Karena terlalu lama bermain air, tiba-tiba saja badannya terasa menggigil. Ia kedinginan, karena suhu air yang semakin lama semakin bertambah dingin saja.

__ADS_1


‘Duh ... kenapa dingin gini, ya? Apa aku terlalu lama bermain air, sehingga membuat tubuhku gemetar?’ batin Ara, sembari berusaha membuat suhu tubuhnya tetap stabil.


Ara jadi teringat kembali dengan ucapan ibunya, “Ah, bener kata ibu! Kalau main air lama-lama itu, bisa bikin menggigil!” ucapnya menggerutu, sembari menahan rasa dingin yang membuat seluruh tubuhnya sampai gemetar.


Ara bergegas menyudahi aktivitasnya, dan segera keluar dari bath tub tersebut. Ia hendak mengganti pakaiannya yang sudah basah.


Ara melangkah keluar bath tub, dan melangkah ke arah bezel tempat untuk menggantung handuk kecil. Ia mengambil handuk berwarna putih itu, lalu melilitkan handuk mengelilingi tubuhnya, dan juga handuk kecil yang melilit rambutnya.


Memori masa lalu selalu teringat jelas pada benak Ara.


“Kalau di kampung, aku cuma pakai kain dan was-was banget kalau ada yang ngeliat aku mandi. Kamar mandiku itu di luar rumah. Makanya, ibu nyuruh aku tetap pakai baju meskipun lagi mandi. Biar gak ada yang ngintip. Hehehe.”


Ara tersenyum membayangkan masa-masa sulit dirinya di desa dulu. Mungkin, ini adalah awal masa kejayaannya. Ia jadi bisa merasakan manisnya menjadi orang yang berada.


‘Aku suka di sini! Tidak ada yang berani mengusikku lagi. Beda dengan di kampung. Mereka selalu meledekku, bahkan mem-bully-ku. Hmm ... setidaknya sekarang, aku bisa bernapas dengan lega, dan menjalani kehidupan dengan tenang,’ batin Ara, sembari menyunggingkan senyumannya, berusaha untuk tenang dengan kehidupan barunya itu.


Ara pun keluar dari kamar mandi dan merasakan hawa yang dingin sekali. Setelah diteliti, ternyata Ara lupa untuk mematikan AC di kamarnya.


Tubuhnya semakin menggigil, karena suhu AC yang perlahan menjadi dingin. Bibir atas dan bawahnya beradu, saking dinginnya hawa yang ada di kamar ini.


“Tadi panas, sekarang dingin! Maunya apa, sih!” gerutu Ara, yang merasa seperti tidak bisa bergerak lagi.


Buru-buru ia ambil remot AC untuk mematikannya, agar tubuhnya tidak semakin menggigil. Akan tetapi, Ara terpaku dan malah memandangi remot AC itu dengan bingung.


Pelajaran yang ia terima dari asistennya tadi, seakan hilang seketika. Ia lupa, tombol mana yang harus ia tekan.


“Pencet yang mana yah tadi?” gumamnya, yang masih meraba, tombol mana yang harus ia tekan untuk mematikan AC.

__ADS_1


Setelah beberpa saat mencari, perhatiannya tertuju pada tombol berwarna merah di sana. Ia berpikir, mungkin saja tombol ini yang digunakan untuk menonaktifkan AC di ruangan ini.


Dengarn rasa penasaran yang ada, ia segera menekannya dan ah ... ternyata benar. Itu adalah tombol untuk mematikan AC ruangan kamar ini.


__ADS_2