
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Ara pun diperbolehkan pulang oleh sang dokter, yang bertanggung jawab dengan kesehatannya. Karena ayahnya sedang sibuk mengurus binsis yang baru ia jalankan, dan Bisma yang tidak bisa dihubungi, Ara pulang ke rumahnya bersama dengan Morgan.
Ara terpaksa menerima tawaran Morgan, karena tidak ada anggota keluarganya yang bisa ia hubungi.
Sore ini Ara pulang ke rumahnya, bersama dengan Morgan. Di sana, Ujang sudah menunggu untuk menyambut kepulangan Ara.
“Selamat datang di rumah, Non Ara!” ujar Ujang, Ara pun tersenyum senang melihat dekorasi rumah yang indah ini, hanya untuk menyambut kepulangan Ara saja.
“Makasih Mang Ujang, Ara seneng banget diadain pesta begini,” gumam Ara, merasa sangat senang dan bahagia melihat pesta penyambutan dirinya.
Morgan tersenyum melihat reaksi Ara, “Gimana, lo suka gak? Gue yang dekorasi ini semua,” ujarnya, Ara menoleh ke arahnya sembari tersenyum mendengarnya.
“Ya, makasih Morgan.” Ara tersenyum, karena kepedulian Morgan terhadap Ara.
“Baguslah kalau lo suka,” gumam Morgan, Ara hanya mengangguk kecil mendengarnya.
Pandangan Ara menoleh ke segala Ara, membuatnya merasa bingung dengan keadaan sekelilingnya. Ruangan ini terasa sepi, karena hanya ada mereka bertiga saja di sana.
“Di mana Bisma dan Kak Yiyi?” tanyan Ara, yang merasa ingin sekali melihat Bisma dan pelayannya yang selalu setia melayaninya itu.
Ujang dan Morgan saling melempar pandang, lalu kembali memandang ke arah Ara.
“Bisma ... Bisma bilang dia ada urusan di Amerika, soal bisnis ayah kalian. Jadi, dia gak bisa menyambut kamu di sini,” jawab Morgan, dengan nada yang sangat hati-hati di hadapan Ara.
Mendengar jawaban dari Morgan, Ara pun merasa sangat sedih. Pasalnya, Bisma sama sekali tidak mengatakan apa pun padanya, sebelum berangkat ke Amerika sana.
__ADS_1
‘Bisma kenapa gak ngasih tau ke Ara, kalau dia bakalan ke Amerika? Kenapa ya? Dia juga gak mau ngomong apa pun sama Ara, dan selama beberapa hari ini gak jenguk Ara ke rumah sakit,’ batin Ara, merasa sangat sendu mengetahui hal ini.
Mata Ara berkaca-kaca, membuat Morgan dan Ujang tidak tega melihatnya. Kesedihannya terasa, bahkan tanpa kata pun mereka masih bisa merasakannya.
‘Maafin gue, Ra. Gue harus bohong sama lo, karena Bisma sebenarnya gak pergi ke Amerika. Dia juga yang udah dekorasi ruangan ini, dengan konsep dan tenaganya sendiri. Maafin gue udah nyembunyiin hal ini dari lo,’ batin Morgan, merasa sangat tidak tega melakukan hal ini terhadap Ara.
“Bisma sebelumnya gak gini sama Ara. Kenapa sekarang Bisma malah begini ke Ara? Apa dia benci sama Ara?” gumam Ara, yang malah menumpahkan rasa sedihnya, di hadapan Ujang dan Morgan.
“Non ... jangan sedih begitu, ya. Den Bisma gak mungkin benci sama Non Ara, karena Non Ara ‘kan adiknya yang paling dia sayang,” ujar Ujang, membuat Ara semakin menunduk sendu mendengarnya.
“Adiknya, ya?” gumam Ara, yang merasa harus menerima kenyataan pahit ini.
Morgan menghela napasnya dengan panjang, karena melihat Ara yang sepertinya tidak bisa menerima kenyataan ini.
“Ra, ini urusan bisnis keluarga kalian. Kalau Bisma gak ngelakuin ini, mungkin ayah kalian bakalan kewalahan. Nanti juga Bisma pulang, kok. Gak mungkin dia ninggalin sekolahnya terlalu lama,” ujar Morgan, berusaha untuk merayu Ara dengan perkataan yang sangat lembut agar Ara tidak merasa sakit hati.
Hatinya sangat sedih, Ara tak bisa seperti ini dengan orang yang ia sayangi. Terlebih lagi itu adalah Bisma.
Morgan mengusap lembut kedua sisi bahu Ara, “Ra, nanti gue coba buat bicara sama Bisma, biar dia mau hubungin lo ya,” ujarnya, Ara pun berusaha untuk menerima semuanya dan berusaha untuk menjadi dewasa.
“Iya, Morgan. Makasih ya,” ujar Ara, Morgan pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya udah yuk, gue antar lo ke kamar. Terus minum obat, dan istirahat. Gue bakal jagain lo di sini sampai malam,” ujar Morgan, Ara pun mengangguk setuju mendengarnya.
‘Bisma gak ada, papa juga gak ada. Cuma ada Morgan sekarang, aku gak bisa kalau gak ada siapa pun di sisi aku untuk saat ini,’ batin Ara, merasa sangat sendu dengan kondisinya yang saat ini.
__ADS_1
Sementara itu di sana, Bisma terlihat terus melihat foto dirinya dan Ara, yang sedang ia pegang. Ia berada di sebuah ruangan kamar, terus melihat foto mereka dengan derai air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Rasa sendu itu tidak hanya dirasakan oleh Ara, tetapi juga dirasakan oleh Bisma. Mereka sama-sama tertekan, karena perasaan yang sama-sama mereka miliki.
‘Senadainya gue sama sekali gak ketemu Ara, mungkin gue gak akan dilema begini tentang perasaan gue sama Adele,’ batin Bisma, memikirkan hal tersebut dengan sangat sedih.
Bisma melanjutkan tangisnya, merasa sangat kesal dengan keadaan dan takdir yang dipilihkan Tuhan untuknya.
‘Kenapa ini semua harus terjadi? Gue gak bisa begini,’ batin Bisma, merasa sangat tidak sanggup, tetapi ia harus bisa bertanggung jawab kepada Adele dengan apa yang sudah ia lakukan.
Suara ketukan pintu membuyarkan rasa sendu Bisma, membuatnya segera mengelap air matanya dan mengolah napasnya yang tersendat. Ia tidak ingin siapa pun mengetahui kalau dirinya sedang menangisi keadaannya.
“Masuk,” suruh Bisma, seseorang pun masuk ke dalam ruangan kamarnya,
“Bis, Ayah mau bicara sama lo,” ujar Adele.
Ya, saat ini Bisma sedang berada di rumah Adele. Karena dirinya yang kelelahan mendekorasi ruangan untuk kepulangan Ara, ia sampai meminjam kamar Adele, untuk beristirahat sejenak.
Bisma menganggukkan kepalanya, “Ya, gue ke sana sekarang,” ujarnya yang menyetujui apa yang Adele katakan.
“Ayo pergi bersama,” ajak Adele, Bisma lagi-lagi menganggukkan kepalanya kecil.
Bisma pergi bersama dengan Adele, dan meletakkan foto tersebut di atas meja sebelah ranjang Adele. Karena fokusnya yang terganggu, Bisma sampai tidak terpikir untuk memasukkan foto tersebut ke dalam saku celananya.
Kini, Bisma berhadapan dengan ayah dari Adele. Pandangannya sinis ke arah Bisma, karena ini adalah pertemuan keduanya, dan juga pertemuan pertama mereka setelah 4 bulan tidak bertemu.
__ADS_1
“Halo, Om. Apa kabar?” sapa Bisma, yang sedikit berbasa-basi dengan Bisma.
Ayah Adele memandangnya sinis, “Tidak usah banyak berbasa-basi. Apa yang mau kamu katakan mengenai kehamilan putri kesayangan saya, Adele?” tanyanya sinis, Bisma sampai tak sengaja menelan salivanya karena merasa gugup.