Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Kabar Burung


__ADS_3

Bisma mengajak Ara untuk menuju ke ruangan kantor, untuk melakukan pengisian data murid baru, dan juga mengambil kunci loker yang akan dipakai untuk menaruh barang-barang nantinya.


Semua sudah selesai dilakukan. Ara dan Bisma pun berpisah di depan ruang kantor itu.


“Jangan lupa, nanti siang tunggu aja di pinggir lapangan,” ujar Bisma mengingatkan sekali lagi.


Ara melontarkan senyum ke arah Bisma, dengan ia yang terlihat sedang membuang pandangannya lagi. Ara tidak bisa memprediksi sifat aneh yang Bisma miliki. Alhasil, Ara hanya bisa mengerucutkan bibirnya saja.


Karena kejadian yang menimpa mereka di lift tadi, Bisma pun sampai terlupa dengan luka pada tangan Ara. Ia memandang ke arah tangan Ara, karena merasa sedikit khawatir dengan Ara.


“Luka lo ... gimana?” tanya Bisma, Ara pun melihat ke arah tangannya yang sakit, akibat kejadian tadi.


Ara sama sekali tidak ingin mengganggu Bisma karena memikirkan keadaannya. Ia pun memutuskan untuk menyembunyikan rasa sakit pada tangannya, dengan menggeleng cepat untuk merespon ucapan Bisma.


“Udah agak mendingan. Ini juga sebentar lagi sembuh. Bisma gak usah khawatir ya ....” Ara berusaha menunjukkan bahwa dirinya saat ini dalam keadaan yang baik-baik saja.


Bisma merasa agak jengkel mendengarnya. Ia hanya bisa memandang Ara dengan ketus, sembari berusaha memikirkan perkataan yang cocok ia keluarkan padanya.


“Gue nanya, bukan karena khawatir,” ujar Bisma dengan ketus dan dingin.


Lagi-lagi, Bisma membuat Ara menjadi jengkel, karena ucapannya yang tidak pernah disaring sebelum berbicara. Namun untungnya, Ara tidak begitu memedulikannya. Ia hanya bisa memasang tampang cemberut di hadapan Bisma.


“Yaudah, nanti ada guru yang nganterin loe ke kelas. Gue mau ke kelas dulu, ini udah lewat jam masuk sekolah,” ucap Bisma, sembari melihat ke arah jam tangannya.


Ara mengangguk paham dengan ucapannya. Bisma pun mengelus rambutnya pelan, kemudian berlalu pergi meninggalkan Ara di sana.


Pandangan Ara tak bisa lepas dari Bisma, yang saat ini sudah melangkahkan kakinya di hadapannya.


‘Kadang, ada sesuatu yang aku belum pahami dari sikap Bisma padaku. Aku belum mengerti dengan semua yang ia lakukan. Mungkin, lambat laun aku akan mengerti yang ia maksudkan. Aku hanya perlu waktu untuk mengenal Bisma lebih jauh. Bagaimanapun juga, hanya Bisma satu-satunya orang yang kupunya saat ini,’ batin Ara, yang benar-benar sangat menyayangi Bisma, seperti kakaknya sendiri.


***


Ara diantar seorang guru untuk menuju kelas, yang akan menjadi kelasnya dalam waktu 1 tahun ke depan. Ternyata, letak kelas tersebut tak jauh dari ruangan guru tadi. Ara mempersiapkan dirinya sebelum masuk ke dalam ruangan. Rasa gugupnya selalu terjadi, saat bertemu dengan sesuatu yang baru. Tubuhnya selalu bergetar, dan menjadi lemas seketika, ketika berhadapan dengan orang lain. Ara pun tidak tahu alasan pastinya.

__ADS_1


Guru itu mengetuk pintu ruangan kelas. Mereka menunggu seseorang untuk membukakan pintunya. Tak berapa lama, seseorang membuka pintu dan menyambut mereka dengan hangat.


“Permisi, saya mengantarkan murid pindahan,” sapa guru yang mengantarkan Ara tadi.


Seseorang –sepertinya juga siswa di kelas ini– melontarkan senyuman ke arahnya. “Baik, Bu. Biar saya yang mengantarnya,” ucapnya dengan begitu ramah.


Ara tersenyum padanya, sesaat setelah ia menoleh ke arahnya. Namun, seketika Ara pun terkejut. Tak disangka, gadis itu malah membuang pandangannya dengan cepat.


‘Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Apa aku mempunyai salah padanya?’ batin Ara yang merasa sangat aneh dengan sikap gadis itu.


“Baik, terima kasih.” Guru itu kemudian segera meninggalkan Ara, tanpa basa-basi, membuat Ara menjadi sangat aneh memandang ke arah mereka.


‘Kenapa semua orang selalu bersikap kasar padaku? Itu mereka lakukan secara terang-terangan. Padahal, aku tidak pernah melakukan hal yang merugikan mereka,’ batin Ara, yang merasa dirinya dipandang sebelah mata oleh mereka.


Ara memandang ke arah kepergian guru itu. Ia merasa sangat bingung, dengan sopan santun yang ada pada mereka.


Gadis itu mengubah pandangannya menjadi sangat sinis ke arah Ara, “Heh! Nunggu apa loe? Masuk!” bentaknya.


‘Kenapa dia membentakku seperti itu? Apa benar, aku memiliki kesalahan yang tidak aku ketahui?’ batin Ara, yang malah merasa bersalah dengan keadaan.


Ara pun mengikutinya dari belakang. Ia berdiri lumayan jauh dari tempat Ara berdiri. Sehingga, membuat Ara menjadi pusat perhatian semua murid di kelas ini.


“Kita kedatangan murid baru,” ucap gadis tadi dengan ketus, Ara hanya menunduk takut melihat ke arah mereka.


“Ini bukannya si culun yang tadi pagi berduaan di lift sama Reza?” Seseorang menyeletuk demikian.


Ara meremas kencang bajunya, ‘Aku tidak menyangka, informasi seperti ini akan lebih cepat sampai ke telinga mereka. Apa ini alasan mereka tidak menyukaiku?’ batin Ara yang merasa sangat bingung dengannya.


“Hah? Jadi beneran dia?”


“Tapi ... kayaknya sih bener! Gadis culun di sekolah ini kan gak ada. Cuma ada dia.”


“Masa iya dia? Reza kenapa ya? Ada masalah penglihatan, kah?”

__ADS_1


Semua orang mulai membicarakan Ara, membuat Ara tidak bisa mendengar lebih banyak lagi tentang ucapan buruk mereka.


‘Aku merasa tidak nyaman di sini,’ batin Ara yang benar-benar tidak nyaman di sana.


“Loe tuh ya ... baru jadi anak baru aja, udah berani gangguin mascout sekolah!” ucap wanita yang mengantarkannya tadi dengan sarkas.


Ara merasa malu, karena sudah melakukan kesalahan yang mereka tidak mengerti. Ia tidak bermaksud demikian.


“Gak usah sok cantik! Loe itu culun!”


“Dasar cewek gatel!”


“Awas aja sampe bikin Reza dalam masalah!”


Semua orang mulai menghakimi Ara, ‘Ternyata, kehidupan di kampung ataupun di kota, semuanya sama saja. Tidak ada yang bisa menerimaku. Aku jadi bertambah minder dengan diriku yang seperti ini,’ batinnya yang merasa kesal dengan keadaannya.


Seseorang membuka paksa pintu dengan kasar. Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Ara. Terlihat Reza yang kelihatannya sedang kesal. Ara kaget bukan kepalang.


‘Apa dia sudah mendengar semua ucapan mereka? Aku takut, permasalahan akan terjadi lagi dan kemudian kembali melibatkan Reza,’ batin Ara.


“Siapa yang ngomong kasar seperti itu tadi?” tanya Reza dengan tegas.


Semua orang terlihat seperti sedang ketakutan. Membuat Ara tidak percaya, Reza kembali untuk menolongnya.


“Saya tanya, siapa yang ngomong kasar seperti itu tadi?” Reza mengulang pertanyaan yang sama. Namun, semua orang masih saja diam tak bergeming.


BRAK!


Ara sangat terkejut, karena Reza menggebrak pintu dengan sangat kencang.


‘Kenapa jantungku sangat lemah? Setiap seseorang mengagetiku, walau hanya pelan, pasti aku selalu terkejut.’


Pandangannya semakin menajam, “Gak ada yang mau jawab?” tanya Reza yang masih menunggu pengakuan dari mereka. Ara merasa, ini sudah terlalu di luar kendali. Ia bertekad untuk menghentikan amarah Reza.

__ADS_1


__ADS_2