
Saking kesalnya, Bisma sampai menggebrak ranjang tidurnya sendiri. Ia merasa sangat kesal, karena Ara yang tidak biasanya pulang terlalu sore seperti ini.
“Gue harus gimana? Apa gue harus ngelarang Ara buat pergi sama Morgan?” gumam Bisma bingung, tetapi ia merasa hal itu tidak akan terlalu berpengaruh bagi Ara.
“Tapi nanti kalau Ara marah dan bilang kalau ini bukan urusan gue, gimana? Apa yang harus gue bilang ke dia setelah itu?” gumam Bisma lagi, berusaha memikirkan berbagai keadaan yang mungkin saja terjai padanya.
Bisma terdiam sejenak untuk berpikir, karena ia tidak ingin pertemanannya dengan Morgan hancur, hanya karena permasalahan Ara. Ia juga tidak ingin Ara menjauhinya, karena ia melarang Ara terlalu keras untuk hal seperti ini.
Cinta memang kadang membutakan. Bukan hanya mata saja tetapi sampai membuat hati menjadi buta.
Sementara itu di sana, Ara masih dalam perjalanan menuju kembali ke rumahnya. Ia bersama dengan Morgan terlambat kembali ke rumah, karena berhenti sejenak untuk membeli makanan yang Ara inginkan.
Ara memakan kakiage yang dijual di salah satu restoran, yang baru saja dibelikan oleh Morgan. Morgan tak tanggung-tanggung, membelikan Ara 10 porsi sekaligus, agar Ara tidak merasa kurang ketika memakannya.
Saat ini Ara sedang menikmati makanan tersebut, membuat Morgan penasaran dengannya karena sejak tadi Ara hanya diam saja tak berbicara denganya.
Morgan melirik ke arah Ara, dan mendapati Ara yang sedang memakan makanan yang baru saja ia belikan. Hal itu membuat Morgan menghela napasnya dengan panjang, karena saking nikmatnya makanan tersebut, Ara sampai lupa kalau ada Morgan di sebelahnya yang sedang memerhatikannya.
‘Dia kalau lagi makan, lupa segalanya, ya?’ batin Morgan, yang tersenyum tipis melihat cara Ara makan kali ini.
Morgan kembali fokus menyetir, karena hari sudah berganti malam. Mereka sama sekali belum sampai di rumah Ara, sehingga membuatnya sedikit resah.
Tak disangka, kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Ban mobil Morgan diketahui mengalami bocor, sehingga membuat mobil menjadi oleng ketika berjalan.
Ara terkejut, karena mobil yang bergerak dengan tak terkendali. Ara sangat panik, tetapi Morgan berusaha untuk tenang dan mengendalikan kemudi dengan sebaik-baiknya.
__ADS_1
“Gan, kenapa ini mobilnya kok goyang-goyang?” tanya Ara ketakutan, Morgan setengah tak memedulikannya karena ia harus fokus dengan mobil yang sedang ia kendalikan itu.
“Pecah ban!” jawab Morgan asal, Ara hanya bisa berpegangan dengan sofa mobil.
Tak ada cara lain, Morgan menginjak rem mendadak, sehingga membuat Ara tak sengaja terguncang dengan cukup kencang. Beruntung Ara mengenakan sabuk pengaman, sehingga tidak terjadi apa pun pada Ara. Hanya saja, makanan yang sedang ia pegang berhamburan karena keadaan yang mendadak itu.
Ara mendelik kaget, “Yah ... makanan Ara semuanya jatuh!” gumamnya dengan nada yang terdengar sangat tidak rela.
Morgan berhasil menghentikan mobilnya, menghela napasnya dengan dalam, lalu segera memandang ke arah Ara dengan datar.
“Lo gak apa-apa?” tanya Morgan, khawatir dengan keadaan Ara.
Ara menggelengkan kecil kepalanya, “Gak apa-apa, tapi makanan Ara semuanya jatuh,” jawabnya, membuat Morgan tertawa kecil mendengarnya.
“Ih Morgan, kata ibu jangan buang-buang makanan. Ara pernah gak makan seharian, karena ibu gak pulang waktu itu. Ara nahan lapar seharian, karena makanan tadi malam Ara buang karena Ara gak doyan. Harusnya Ara gak ngelakuin itu, karena paling enggak Ara bisa ganjal perut pakai makanan yang Ara gak suka itu,” ujar Ara menjelaskan dengan polosnya di hadapan Morgan, membuat Morgan jadi tersentuh mendengar penjelasan dari Ara.
‘Masa lalu Ara kelam, sepertinya Ara memang layak dibahagiakan. Dia udah ngelewatin masa-masa sulit dia, sampai akhirnya ketemu sama keluarga Bisma yang memang selalu berkecukupan. Gue salut sama perjuangan Ara, karena bisa sampai saat ini ia bertahan,’ batin Morgan, merasa sangat tersentuh dengan apa yang Ara katakan.
Morgan menghela napasnya dengan panjang, lalu segera mengecup kening Ara dengan lembut. Karena mendapatkan kecupan lembut dari Morgan, Ara sontak mendelik, karena ini adalah kali pertama ada seseorang yang mengecup keningnya, tentunya selain ibunya.
Ara mendadak gemetar, saking kagetnya dengan apa yang Morgan lalukan padanya.
‘Morgan nyium aku?’ batin Ara, kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari Morgan.
Morgan pun menghentikan aktivitasnya, lalu memandang ke arah Ara dengan jarak yang sangat dekat. Mereka saling pandang, dengan jarak yang hanya kurang dari 5 cm.
__ADS_1
“Lo udah ngelakuin hal yang tepat, Ra. Lo hebat, karena udah bisa bertahan sampai di titik ini. Lo akhirnya bertemu dengan kebahagiaan lo di keluarga Bisma yang berkecukupan, walaupun ibu lo udah gak ada. Sekarang, gue yang akan buat lo bahagia, dan gak akan bikin lo sakit,” ujar Morgan, sontak membuat Ara mendelik kaget karena tersentuh mendengarnya.
Air mata Ara mengalir dengan sendirinya, membuat Morgan tidak senang melihatnya. Morgan segera menghapus air mata Ara dengan lembut, dengan Ara yang masih tetap memandang ke arah Morgan.
“Jangan nangis, gue gak mau ngeliat lo nangis,” ujar Morgan, sontak membuat Ara semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Morgan tiba-tiba saja mengecup bibir Ara, dengan tangan yang merengkuh tengkuk kepala Ara. Sementara di sana Bisma terkejut karena petir yang tiba-tiba saja menyambar. Suara petir tersebut sangat keras, sehingga membuatnya terkejut setengah mati karenanya.
Setelah memerhatikan keadaan, hujan pun turun dengan derasnya, membuat Bisma yang sedang berada di jendela kamarnya, menjadi bertambah resah karena hujan yang deras ini.
“Hujan, dan Ara masih belum pulang,” gumam Bisma, masih memikirkan tentang Ara.
Ada firasat buruk yang sedang Bisma rasakan, tetapi ia selalu menepisnya karena Ara yang saat ini bersama dengan Morgan. Bisma yakin dan percaya, Morgan tidak akan membiarkan Ara terluka, dan pasti akan menyelamatkan Ara jika memang terjadi sesuatu dengan mereka saat ini.
“Gue percaya ada Morgan yang bisa ngelindungi Ara,” gumam Bisma, yang tidak tahu kalau saat ini Morgan sedang melakukan hal yang kurang baik kepada Ara.
Morgan menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arah Ara. Ara terlihat mendelik, dengan air mata yang terus-menerus mengalir dari pelupuk matanya.
“Maaf, gue terlalu sayang sama lo. Maaf,” ujar Morgan, yang berusaha keras untuk menahan nafsunya yang lebih dari ini.
Morgan sadar, gadis polos seperti Ara pasti belum pernah melakukan hal yang memalukan seperti ini. Maka dari itu, ia berusaha untuk tidak melakukan hal yang lebih dari ini kepada Ara.
Ara hanya bisa mendelik, kaget dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
‘Morgan nyium bibir Ara? Ini ciuman pertama Ara,’ batinnya, merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi padanya dan juga Morgan.
__ADS_1