
Keadaan menjadi sangat canggung, karena Morgan yang mengatakan hal seperti itu pada Ara. hal itu juga membuat Bisma mendelik, saking tak percayanya ia dengan apa yang Ara Morgan ucapkan pada Ara.
‘Shit! Kenapa dia malah suka sama Ara? Bukannya dia waktu itu dukung gue buat deket sama Ara?’ batin Bisma, tak percaya dengan keadaan yang ia lihat ini.
"Kalau lo setuju, gimana kalau kita pacaran?" tanya Morgan membuat Ara terkejut mendengarnya.
Ara mendelik, ‘Kenapa di saat seperti ini, dia malah mengutarakan perasaannya lagi? Aku memang belum menjawab pertanyaannya waktu itu, tapi ... seharusnya dia tidak mengatakan itu sekarang. Hatiku semakin tak keruan saja jadinya,’ batin Ara merasa aneh dengan keadaan yang terjadi padanya.
Ara melepaskan tangannya dari Morgan, dan memandangnya dengan sendu. Ia merasa aneh dengan perlakuan Morgan padanya.
‘Morgan memang tak bersalah, ia mungkin hanya ingin menghibur diriku saja. Aku harusnya bisa lebih berterima kasih padanya. Tapi, untuk saat ini ... aku masih kacau. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Apa aku harus menerima pernyataan cinta dari Morgan?’ batin Ara lagi, merasa sangat bingung berpikir saat ini.
Morgan mengerutkan keningnya, "Kenapa?" tanyanya datar, Ara hanya diam dan bergeming hingga suasana pun menjadi sangat canggung.
"Gan, bisa tinggalin Ara sendiri gak di sini?" pinta Ara, membuat Morgan merasa bertambah bingung mendengarnya.
"Kenapa, Ra? Jawab dulu pertanyaan gue tadi,” ujar Morgan, Ara semakin diam saja mendengarnya.
‘Gimana ini? Morgan mendesak banget, aku gak bisa jawab hal-hal seperti itu. Aku udah janji sama Bisma, kalau aku gak akan main-main di sekolah ini dan harus serius mengejar cita-citaku,’ batin Ara kebingungan jadinya.
Karena Morgan bisa membaca gerak-gerik Ara, ia mengerti letak permasalahannya. Ia hanya bisa menghela napasnya dengan dalam.
“Lo suka sama Bisma, ya?" tanya Morgan, sontak membuat Ara mendelik mendengarnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Ara pun tak bisa menjawab pertanyaan Morgan itu. Semua perasaannya seketika beradu, Ara tidak lagi bisa berpikir dengan kepala jernih saat ini.
"Kok diem aja?" tanya Morgan kembali, yang berusaha untuk menyudutkan Ara dan mendesaknya.
"Apanya yang suka? Bisma itu kakak aku. Masa aku suka sama kakak sendiri?" Ara berusaha menepis ucapan Morgan yang di luar logika itu.
Morgan kembali bersimpuh di hadapan Ara, sembari meraih tangan Ara kembali. Ara lagi-lagi dibuat tercengang dengan perlakuannya itu.
"Jujur, gue bukan tipe orang yang bisa nyatain perasaan gue. Jujur, baru kali ini gue nyatain perasaan duluan. Gue udah sempet nyatain perasaan gue ke lo waktu itu, tapi mungkin ... keadaannya lagi gak tepat," ujar Morgan dengan lirih, yang sama sekali tak mengedipkan matanya. "Sekarang, daripada lo ngejar sesuatu yang gak pasti, mending ... lo pacaran sama gue. Gue janji, gak akan bikin lo kecewa. Gue juga janji, gak akan ngelakuin hal yang sama kayak yang Bisma lakuin ke lo."
Pernyataan cinta Morgan kali ini sukses membuat hati Ara tak menentu. Memang pada dasarnya Ara sangat suka dengan sesuatu yang romantis. Menurutnya, Morgan juga tak kalah romantisnya dari Bisma dan Reza.
‘Ada apa ini? Kenapa aku sangat labil dengan perasaanku sendiri?’ batin Ara, heran dengan apa yang ia rasakan karena terdapat celah di hatinya karena perkataan Morgan yang membuatnya luluh.
"Gimana?" tanyanya lagi, Ara masih tidak bisa berpikir jernih.
Ara memandang Morgan dengan dalam, "Ya, aku mau."
Perkataan Ara itu membuat Bisma kehilangan kendalinya. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing, dengan hatinya yang mendadak hancur mendengarnya. Bisma merasa sangat kesal, karena ia sudah kalah telak di hadapan Morgan. Ia juga kalah selangkah dari Reza, sehingga membuatnya merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Reza dan juga Morgan.
‘Kenapa Ara nerima Morgan?’ batin Bisma, yang sudah hancur saat ini.
Apa yang sudah Bisma perjuangkan, seakan menghilang begitu saja karena permasalahan ini. Ara sudah menerima cinta Morgan, membuat harapan yang baru saja Bisma dapatkan menjadi hancur dan hilang begitu saja.
__ADS_1
‘Gak bisa, gue udah hancur saat ini!’ batin Bisma, yang lalu segera pergi dari sana dengan keadaan yang sangat hancur.
Sementara itu, Morgan saat ini sedang sangat berbunga-bunga. Ia merasa cintanya pada Ara tidak sia-sia, Ara ternyata juga menyambut cintanya sehingga membuatnya sangat bahagia.
“Lo ... beneran nerima gue jadi pacar lo?” tanya Morgan, Ara mengangguk kecil tetapi sebenarnya hatinya masih agak ragu sudah mengambil keputusan ini.
Morgan tersenyum, lalu memakaikan cincin itu di jari manis Ara. Ara memandangnya dengan heran, karena baru kali ini ia menerima cincin dari seorang lelaki. Biasanya ia selalu menerima perlakuan tidak baik dari orang lain, seperti Ilham contohnya.
Namun kali ini, Ara merasa dirinya sangat diinginkan oleh Morgan. Hal itu membuat hatinya luluh, dan merasa sedikit bahagia sekarang.
‘Ya, bersama Morgan tidak buruk juga. Mungkin lama-lama nanti kita akan bisa menerima satu sama lain,’ batin Ara, yang mulai membuka hatinya untuk Morgan.
“Jaga cincin ini. Ini memang masih belum emas asli, tapi nanti pasti gue ganti dengan yang aslinya. Sambil kita berusaha untuk melakukan pendekatan lagi, gue juga butuh kepastian untuk melangkah lebih serius lagi bareng lo,” ujar Morgan, membuat hati Ara menjadi sangat terkejut.
“Melangkah ke jenjang yang serius?” gumam Ara bingung.
Morgan mengangguk kecil, “Ya, melangkah ke jenjang serius.”
Sejenak Ara memikirkan hal tersebut, membuatnya tersadar dari apa yang Morgan katakan.
“Gan, kita baru aja pacaran. Kita juga masih sekolah, kenapa kamu mikirin hal itu?” tanya Ara, Morgan tersenyum mendengarnya.
“Lo gak nyimak, ya? Nanti, entah kapan waktunya,” ujar Morgan, yang berusaha tersenyum di hadapan Ara.
__ADS_1
Melihat Morgan yang tersenyum, Ara melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat dari Morgan sebelumnya. Karena terlalu kaku, Morgan jadi tidak pernah tersenyum di hadapan Ara. Namun, kali ini Morgan memperlihatkan itu pada Ara, membuat Ara merasa menerima Morgan di sisinya tidak seburuk yang ia pikirkan.
‘Dia manis, apalagi saat dia senyum. Aku baru pertama kali melihat Morgan senyum, jadi seperti ini wajahnya saat ia tersenyum?’ batin Ara yang merasa sangat senang dengan hidden thing yang Morgan miliki itu.