Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Meminta Izin


__ADS_3

“Gue mau ke toilet di toko buku aja, ‘kan ada tuh? Sekalian mau beli alat melukis buat pelajaran kesenian,” ujar Bisma dengan ada yang sedikit dibuat-buat, tetapi sepertinya Gladis tidak curiga padanya.


“Oh, ya udah kebetulan kalau gitu! Sekalian kita beli buku aja buat pelajaran fisika,” ucap Gladis yang kebetulan sekali sudah mengingatkan Bisma.


‘Aku sampai lupa dengan hal itu, karena pikiranku hanya tertuju pada Ara,’ batin Bisma, benar-benar sangat melupakan hal tersebut.


“Iya gue sampai lupa beli buku. Untung lo ingetin gue,” ucap Bisma padanya, ia melontarkan senyum pada Bisma.


“Yaelah kalau bukan karena lo kebelet juga ... gue pasti lupa,” ucap Gladis yang berusaha untuk menjadi humble di hadapan Bisma.


Bisma kembali memerhatikan ke arah Arad an Reza, yang sudah duluan masuk ke dalam toko buku itu. Ternyata Bisma sudah kehilangan jejak mereka. Karena sudah kehilangan jejak Ara, Bisma pun menarik kasar tangan Gladis.


“Ayo cepetan, gue kebelet nih!” ucap Bisma dengan tergesa-gesa.


Pikiran Bisma sudah tidak bisa dikontrol. Yang ia pikirkan hanyalah Ara, sehingga ia harus menghalalkan berbagai cara untuk bisa mendekati mereka.


‘Awas loe, Za!’ batin Bisma geram.


Sedangkan di sana, Reza mencari keberadaan Bisma yang sudah tidak terlihat.


‘Tidak ada tanda-tanda Bisma di sini. Apa ... dia tidak tertarik dengan yang barusan ia lihat? Apa dia tidak tertarik melihat Siti berjalan denganku?’ batin Reza, benar-benar bingung dengan yang Bisma pikirkan.


“Kamu mau beli buku apa, Za?” tanya Ara tiba-tiba, membuat Reza langsung menoleh ke arahnya yang sedang asyik memilah-milih buku.


Reza pun mulai memerhatikan deretan buku yang tersusun rapi itu dengan saksama.


Setelah beberapa saat memerhatikan ke arah buku tersebut, akhirnya Reza menjatuhkan pilihannya pada satu buku yang lumayan tebal, yang sepertinya cocok untuk ia pelajari. Reza memang tidak sepenuhnya berbohong pada ayahnya Ara. Ia memang sedang mencari buku untuk belajar tentang ilmu kedokteran.


“Gimana kalau yang ini?” tanya Reza pada Ara, ia pun mengambil buku tersebut dari tangan Reza, dan membuka lembaran yang ada.

__ADS_1


Ara terlihat mengangguk-anggukan pelan kepalanya, sembari membaca sepenggal kalimat yang ada di dalam buku itu.


‘Aku pikir, dia menyukai buku ini,’ batin Reza, yang mengambil satu buku yang sama dengan yang ia pegang.


“Menurut gue, buku ini cocok buat kita pelajari sampai tahun depan. Ada banyak waktu buat baca seluruh halaman yang ada di buku ini. Kita punya waktu kurang lebih 1 tahun. Gimana ... apa lo sanggup?” tanya Reza seperti memberikan tantangan pada Ara.


Terlihat tatapan dengan semangat membara dari dirinya.


“Kenapa harus nggak sanggup? 1 tahun ‘kan ada 365 hari, ada sekitar 97 hari sabtu dan minggu, ditambah hari raya dan hari-hari besar lainnya. Dan juga libur akhir semester ganjil. Pastinya bakalan ada lebih banyak waktu untuk kita bisa nyelesain membaca buku ini,” papar Ara secara terstruktur dan mudah dipahami.


Reza membulatkan matanya sembari menepuk tangannya, dan menggelengkan kecil kepalanya.


‘Aku merasa ... Siti jauh lebih brilliant daripada aku. Aku malah tidak terpikir sampai seperti itu,’ batin Reza, yang benar-benar mengakui kejeniusan Ara.


***


Karena sudah selesai memilih buku yang ia beli, mereka pun segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Reza mengantarkan kembali Ara, lalu ia kembali pulang ke rumahnya.


Reza yang baru saja sampai di depan rumahnya, memarkirkan motornya dengan rapi dan dengan senangnya melangkahkan kaki menuju ke arah dapur rumahnya.


Di sana, terlihat Bunda yang sedang asyik memasak, entah sedang masak apa. Reza pun mendekatinya secara perlahan, dan tiba-tiba memeluknya dari belakang, dan menyandarkan dagunya di bahu sebelah kanan milik Bundanya. Bahu bunda adalah tempat tenyaman bagi Reza untuk berkeluh kesah.


“Selamat malam bunda,” sapa Reza dengan nada yang paling lembut.


Reza tidak bisa sekalipun bersikap kasar padanya, meskipun apa yang dikatakan ibunya tidak ia sukai, Reza pasti akan berusaha menuruti apa yang ibunya ucapkan.


Bunda tersenyum hangat, “Selamat malam anaknya Bunda,” sapa Bunda yang tak kalah lembut dengan nada Reza.


“Bunda lagi masak apa?” tanya Reza.

__ADS_1


“Bunda lagi masak makanan kesukaan ayah. Sebentar lagi ayah pulang,” jawabnya dengan naa yang senang, membuat Reza juga ikut senang.


Pekerjaan ayah sebagai dokter, membuatnya jarang sekali berkumpul dengan keluarga. Namun Reza dan Bunda selalu memaklumi keadaan ayah. Pekerjaan dokter adalah pekerjaan yang mulia untuk menolong semua orang yang membutuhkan pertolongan medis. Ayah sering sekali di pindahtugaskan ke berbagai kota. Itu cukup menyita waktu Reza dalam belajar. Reza jadi sering berpindah sekolah untuk menyesuaikan tempat ayahnya bekerja.


Itu sebabnya saat itu Reza pergi dari desa itu, untuk menuju tempat bertugas ayah yang baru. Seandainya ia tidak ikut berpindah dengan mereka, pasti ia sudah menemani Ara dari dulu.


“Oh ya? Kapan ayah pulang, Bun?”


“Sebentar lagi,” jawabnya singkat sembari tetap fokus pada masakannya.


Reza jadi terpikir untuk memperkenalkan Ara pada kedua orang tuanya. Mengingat ayahnya yang jarang sekali pulang, ia jadi terdorong untuk membawa Ara ke sini.


‘Apakah Bunda akan menyetujui keinginanku?’ batin Reza, yang merasa harus melakukan hal itu.


Dengan pandangan yang tak enak, Reza pun memerhatikan ke arah Bunda yang sedang memasak. “Bunda ... apa boleh, aku bawa teman aku besok ke sini?” tanya Reza, membuat Bunda mematikan kompornya dan langsung melepas pelukan Reza.


Bunda pun menatap tajam ke arah Reza, “Kamu mau bawa siapa?”


“Aku mau bawa Ara, Bun,” jawab Reza tanpa ragu.


Sejenak Bunda berpikir untuk mengingat-ingat nama teman Reza, yang sepertinya sudah pernah Reza ceritakan padanya.


“Ara ... yang waktu itu kamu ceritain ke Bunda?” tanya Bunda, membuat Reza mengangguk kecil mendengarnya.


Mendengar jawaban Reza, Bunda terlihat diam sesaat. Ia sedang mencari kata yang bagus, untuk jawaban terbaiknya.


Bunda pun memandang ke arah Reza dengan tegas. “Boleh kalau untuk sekadar mengenal satu sama lain.” Ujarnya, membuat Reza sangat terkejut mendengar jawaban dari Bunda.


Matanya membulat, Reza benar-benar tidak menyangka kalau bundanya akan memberikan izin padanya menyenai hal ini.

__ADS_1


“Ah?” gumam Reza, yang masih merasa terkejut dengan apa yang bundanya katakan.


Pasalnya, Reza sama sekali tidak pernah membawa siapa pun untuk datang ke rumahnya. Ia bahkan tidak pernah membawa teman lelakinya, sehingga orang tuanya mengira kalau Reza sama sekali tidak memiliki teman.


__ADS_2