
Seperti biasa, Morgan tidak akan mengatakan apa pun jika pertanyaannya tidak terlalu penting. Ia memilih untuk diam, karena memang sudah sifatnya seperti itu. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Morgan, Ara pun membuang pandangannya dari Morgan.
Namun, rasa penasarannya terhadap Bisma masih menggebu. Ara merasa harus menanyakan hal ini pada Morgan, agar ia bisa mengetahui sifat Bisma yang sebenarnya.
‘Apa Morgan bisa memberitahu sesuatu tentang Bisma? Aku ingin sekali mengetahui sosok Bisma dari teman terdekatnya,’ batin Ara yang melirik ke arahnya, sembari melontarkan senyuman hangat.
“Gan ...,” panggil Ara dengan lirih, Morgan hanya melirik ke arahnya tanpa menoleh sama sekali. “Aku boleh tanya sesuatu nggak?” tanya Ara.
“Boleh, kalo pertanyaannya itu menyangkut tentang gue,” jawab Morgan sangat to the point, membuat Ara terkekeh jadinya.
‘Sepertinya ... aku salah pilih orang. Lain kali aku tanya ke orang lain saja!’ batin Ara, yang mengurungkan niatnya untuk bertanya semua hal tentang Bisma, pada Morgan. ‘Mungkin lebih baik, aku simpan sendiri saja pertanyaanku ini,’ batinnya lagi yang kembali fokus memandang ke arah jalanan.
***
Setelah beberapa waktu, Ara sudah sampai di halaman rumahnya. Seperti biasa, Morgan selalu membukakan pintu mobilnya untuk Ara. Berbeda dengan Bisma. Sampai-sampai, kali pertama merasakan naik mobil pun, Ara sampai merusak mobil Bisma karena tak tahu cara untuk membuka pintunya.
Ara menghela napasnya dengan panjang,‘Coba Bisma kayak Morgan,’ batin Ara yang malah memikirkan hal yang kurang penting.
Morgan memandang Ara dengan datar, “Ayo masuk,” ajaknya pada Ara.
Ara terdiam untuk berpikir sejenak, ‘Sebenarnya ... siapa di sini yang menjadi Tuan rumah?’ batinnya heran, yang memandang bingung ke arah Morgan.
Morgan hanya bisa mempersilakan Ara, dengan Ara yang mulai berjalan dengan langkah yang ragu. Morgan seakan menguasai rumahnya.
__ADS_1
Ara pun masuk ke dalam rumah bersama Morgan. Mereka pun langsung menuju ke ruang tamu.
Ara memandang ke arah Morgan, “Kamu tunggu di sini dulu ya, Gan. Ara mau ke kamar Bisma dulum” ujar Ara pada Morgan yang mengangguk cepat, kemudian Ara pun langsung berlalu pergi menuju kamar Bisma, yang ada di sebelah dapur.
Dengan senangnya Ara melangkah menuju kamar Bisma, karena ia ingin sekali mengucapkan terima kasih, untuk hadiah yang telah ia berikan. Ara sungguh sangat senang, karena sudah lama sekali, ia tidak pernah mengganti tasnya itu.
“Emh ....” Terdengar lirih suara ******* seorang gadis, yang berasal dari depan kamar Bisma.
Ara yang mendengarnya langsung penasaran, ‘Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?’ batinnya.
Dengan perasaan yang ragu, Ara pun menelan salivanya, lalu dengan perlahan membuka pintu kamar Bisma yang tidak tertutup rapat.“Bisma ...,” panggil Ara dengan lirih.
Mata Ara seketika mendelik, saking terkejutnya dengan pemandangan aneh yang saat ini ia lihat. Ara sampai mendelik tak bisa berkata apa-apa. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, agar teriakannya tidak mengganggu seluruh penghuni rumah ini.
Sementara itu dari sudut pandang Morgan, ia melihat dari kejauhan, terlihat Ara yang bersikap aneh sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia merasa heran, dan tidak tahu sebenarnya apa yang sedang Ara lihat.
‘Ara kenapa?’ batin Morgan heran, yang lalu segera bergerak menghampirinya.
Dari luar kamar Bisma, terlihat sekilas pemandangan yang menurut Morgan sangat tidak wajar. ‘Pantas saja Ara seperti ini. Ia melihat pemandangan yang mungkin saja membuat hatinya hancur,’ batin Morgan, merasa sangat pantas jika Ara bersikap demikian.
‘Bisma ....’ Ara tak bisa berkata-kata lagi, dan langsung berlari pergi meninggalkan ruangan ini, tanpa mengucap sepatah kata pun.
Di sana Bisma sama sekali tidak menyadari keberadaan Ara dan Morgan. Namun, saat ini Morgan sama sekali tak memikirkan Bisma, dan malah menyusul Ara.
__ADS_1
Ara berlarian ke arah lantai dua rumah ini. Morgan mengikutinya dari belakang, mencoba untuk menenangkan Ara yang mungkin merasa sangat terpukul karena melihat hal aneh seperti itu. Morgan menghela napasnya, berusaha untuk mempertahankan kewarasannya.
‘Bisma sialan! Kenapa dia berbuat begitu di rumah? Kenapa gak di luar aja? Kenapa Ara sampai lihat mereka?’ batin Morgan kesal, sembari tetap berjalan mengikuti Ara dari belakangnya.
Mereka sampai di sebuah ruangan, dengan Ara yang masuk lebih dulu ke dalam ruangan tersebut. Morgan berhenti sejenak untuk menatap Ara dengan sendu, yang kini sedang duduk di atas ranjang tidurnya.
‘Sepertinya ... ini adalah kamarnya. Terlihat jelas dari nuansa merah muda yang memenuhi kamar ini,’ batin Morgan berasumsi.
Morgan pun mempersiapkan diri dan menghela napas. Ia memutuskan untuk menghampiri Ara, dan kini duduk di sebelahnya. Keadaan terasa sangat canggung, melihat isak tangis Ara, membuat hati Morgan seakan terasa hancur.
Morgan memandang dalam ke arah Ara, yang masih saja menangis. Ia merasa sangat iba, karena melihat Ara yang menangis di hadapannya dengan tersedu-sedu.
‘Baru kali ini, gue sampai ikut campur terlalu dalam, mengenai permasalahan Bisma. Sebelumnya, gue sama sekali tidak pernah seperti ini pada orang yang Bisma dekati. Jujur saja, gue agak kecewa dengan Bisma. Kenapa dia bisa menyakiti hati Ara seperti ini? Sudah jelas sekali, bukan? Ara pasti menyimpan perasaan pada Bisma. Melihat Bisma bermesraan dengan gadis lain saja, ia langsung menangis tanpa alasan,’ batin Morgan yang sudah bisa menilai keadaan yang rancu.
Morgan pun mengulurkan tangannya ke arah wajah Ara. Ia menghapus lembut setiap tetes air mata yang keluar dari mata indahnya. Karena tangisan itu, softlens yang Ara pakai sampai terlepas dari retinanya.
“Maaf kalau gue lancang, tapi ... lo boleh kok nangis di bahu gue,” ujar Morgan dengan lirih, bermaksud agar bisa sedikit meredam emosinya.
Seketika, Ara memandang ke arah Morgan. Terlihat tatapan yang penuh dengan kepedihan. Morgan bisa merasakan sakit hati Ara saat ini. Karena sudah terlalu sedih, Ara pun langsung berhambur memeluknya. Morgan saja sampai tak tega melihatnya. Tangisannya pecah seketika, membuat sebagian seragam Morgan menjadi basah karenanya.
Tak ada yang bisa Morgan lakukan, selain menunggu suasana hati Ara tenang. Tanpa disadari, Bisma sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersama dengan Ara.
Morgan menghela napasnya panjang, ‘Apa ... ini kesempatan bagus untukku? Apa aku harus masuk pada celah yang Bisma ciptakan?’ batinnya, berusaha untuk berpikir dengan keadaan yang krusial ini.
__ADS_1