
Morgan kembali mengelus lembut wajah Ara. “Nangis aja. Gue gak masalah kok,” ucap Morgan dengan datar, yang sama sekali tidak direspon oleh Ara. Ia hanya menangis bergeming membuat Morgan terdiam, sambil sesekali mengelus pipinya yang sudah basah.
Beberapa saat berlalu, Ara merasa kalau pelukan Morgan sangatlah hangat. Ia merasa ada seseorang yang membuatnya merasa sangat aman dan tentram.
‘Pelukan Morgan saat ini, terasa sangat hangat. Kalau dipikir kembali, kenapa aku bisa sampai menangis seperti ini? Padahal, aku hanya melihat Bisma sedang mencium gadis itu. Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan sekarang? Seperti tak rela, satu sisi berpikir, aku tak ada hubungan apa pun dengan Bisma. Apa maksud semua ini? Apa diam-diam, aku sudah menaruh rasa pada Bisma? Ada perasaan hancur, ada juga perasaan kesal. Namun, aku ini hanyalah adik tirinya. Apa pantas, aku merasakan hal demikian?’ batin Ara, merasa aneh dengan apa yang ia rasakan setelah melihat Bisma yang sedang mencium seorang gadis di kamarnya.
Ara pun melepaskan pelukannya dari Morgan, dan memandangnya dengan sendu. “Gan ... boleh tinggalin Ara sendirian gak?” pintanya, membuat Morgan memandangnya dengan bingung.
Karena merasakan kesedihan Ara yang begitu dalam, Morgan pun akhirnya meninggalkan Ara di kamarnya. Ia merasa, bahwa dirinya harus memberikan Ara sedikit waktu untuk menenangkan pikirannya.
‘Bisma sialan, bisa-bisanya dia bersikap kayak gini ke cewek polos itu!’ batin Morgan yang mulai bergejolak karena memikirkan masalah ini.
Morgan pun menuju ke arah ruang tamu, lalu duduk sembari meneruskan membaca novelnya yang hampir selesai ia baca. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia harus tetap di sini, untuk memberikan Bisma pelajaran. Paling tidak, Bisma mendapatkan sedikit rasa sakit yang Ara rasakan.
Tak berapa lama Bisma pun datang dari arah pintu masuk rumah, dengan wajah yang nampak kesal. Morgan yang menyadari kedatangannya, langsung mengakhiri aktivitasnya, dan mengalihkan fokusnya ke arah Bisma.
“Kesel banget gue! Kenapa tuh cewe gatel banget si?” gerutu Bisma dengan emosi yang meledak-ledak, membuat Morgan memandangnya dengan datar.
Morgan menghela napasnya dengan panjang, ‘Jadi, yang kami lihat tadi, adalah sebuah kesalahpahaman?’ batin Morgan, yang akhirnya mengerti dengan hal ini.
“Harusnya loe gak sia-siain kesempatan,” ujar Morgan dengan lirih, berusaha memancing Bisma agar mengetahui kesalahannya.
Bisma terlihat membelalak menyadari keberadaan Morgan, dan benar saja, sepertinya ia mulai terpancing dengan ucapan Morgan.
“Kesempatan gimana? Gue sama sekali gak suka dicium begitu!” bentak Bisma yang sepertinya salah paham dengan apa yang Morgan maksudkan.
__ADS_1
‘Sepertinya, Bisma salah paham dengan yang aku maksud. Aku tidak menyuruhnya untuk menyia-nyiakan kesempatan bermesraan dengan gadis itu. Yang kumaksud adalah, supaya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menakhlukan hati Ara. Kalau sudah seperti ini, apa yang bisa diharapkan lagi?’ batin Morgan heran, tak percaya dengan apa yang Bisma pikirkan tentangnya.
Morgan merapikan semua barang-barangnya, tak menghiraukan apa yang Bisma ucapkan. Karena Morgan yang sepertinya hendak pergi, Bisma merasa bingung memandangnya.
“Lho ... mau ke mana lo?” tanya Bisma bingung, Morgan menatap matanya dengan tatapan yang tajam dan serius.
“Gara-gara lo mesra-mesraan tadi, Ara sampai harus nangis gak karuan!” ucap Morgan dengan sinis, membuat Bisma terkejut dengan yang ia ucapkan.
Morgan menghela napasnya panjang, ketika melihat ekspresi Bisma yang sangat terkejut. ‘Sepertinya benar, dia memang tidak menyadari keberadaan kami tadi,’ batinnya.
“Apa? Ara ngeliat?” tanya Bisma dengan nada yang meninggi.
Morgan hanya bisa memandang Bisma, yang kini langsung berjalan meninggalkannya di sana. Karena Morgan tidak ingin Ara merasa sedih lagi, ia pun dengan segera menahan tangan Bisma.
Bisma memandang Morgan dengan sinis, lalu menghempaskan tangan Morgan dengan kasar. “Lho, kenapa gue gak boleh ketemu sama dia?” tanyanya, yang semakin tidak keruan saja. Hal itu membuat Morgan jadi semakin malas untuk meladeninya.
Morgan tersenyum sinis ke arah Bisma, kemudian berlalu pergi meninggalkannya. ‘Aku tak peduli dengan Bisma, yang secara tidak langsung sudah melukai seorang gadis polos seperti Ara. Biar rasakan saja rasa bersalahmu itu!’ batin Morgan yang sedikit geram memikirkannya.
***
Karena Morgan sudah melarangnya untuk bertemu dengan Ara dulu, Bisma pun tidak jadi menuju ke arah ruangan kamar Ara. Ia menyadari, apa yang ia lakukan pasti membuat Ara terpukul. Bisma hanya berdiam diri di kamarnya saja, sembari tetap memikirkan apa yang mungkin Ara rasakan.
‘Apa aku harus benar-benar menjauhi Ara? Aku sangat tertekan saat ini. Tapi ... tidak ada pilihan lain untukku. Ara sudah melihat semuanya tadi. Semua hal yang sebenarnya hanyalah sebuah kesalahpahaman. Apakah Ara akan membenciku? Apakah ini tandanya, aku sudah tidak bisa mendekati Ara lagi?’ batin Bisma, bingung harus melakukan apa.
Beberapa saat terdiam, Bisma pun menemukan sebuah jawaban yang masih rancu.
__ADS_1
‘Apa aku harus menemui ibu, untuk bertanya padanya tentang perasaan apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku harus berusaha meyakinkan diriku sendiri sebelum bisa melangkah, dan mengambil keputusan,’ batinnya lagi, yang memang tidak mengerti dengan yang ia rasakan.
“Apa katanya tadi?” Bisma berusaha mengingat ucapan Morgan tadi. “Ara nangis?” gumamnya lagi bertanya-tanya.
Bisma memikirkan bagian ini dengan sangat dalam. Ia tidak menyangka, hal seperti ini dapat membuat Ara menangis seperti yang Morgan katakan.
‘Apa betul, ia sampai menangis karena melihatku melakukan hal itu dengan Gladis?’ batin Bisma tak percaya.
“Apa itu tandanya ... dia suka sama gue?” lirih Bisma bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Bisma yang bingung, lantas memandangi langit-langit kamarnya. ‘Sepertinya ... aku memang harus bertanya pada ibu, tentang perasaan yang aku alami saat ini,’ batinnya.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Udah lama juga gue gak ngunjungin mama. Apa kabarnya mama sekarang?” gumamnya bertanya-tanya.
Taka da yang bisa ia lakukan, hanya bisa terdiam sembari menatap selembar foto dirinya dan juga Ara.
Seketika Bisma merasa sedih karena melihat keadaan ibunya yang sampai saat ini mengalami depresi. Memang, sakitnya tidak selalu kambuh. Namun saat-saat tertentu, ia pasti merasakan sesuatu yang bisa membuat dirinya hancur. Ayahnya sampai mengasingkan ibunya, karena tidak bisa merawatnya dengan baik.
‘Kenapa ayah tidak merawat ibu? Kenapa ayah malah membuat ibu tertekan seperti ini? Kenapa ibu masih bertahan dengannya sampai sekarang? Kenapa ibu tidak mengakhiri hubungan mereka sejak saat ayah melakukan kesalahan itu?’ batin Bisma bertanya-tanya.
“Ah ....”
‘Sudahlah ... waktu tak akan bisa diputar kembali. Aku ingin mencoba seperti Ara yang bisa menerima takdirnya. Kali ini ... aku menyerah. Aku tidak mau menentang takdir lagi.’
***
__ADS_1