Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Pernyataan Cinta Reza


__ADS_3

Mendengar hal itu, Reza pun memandangnya dengan dalam. Ia tidak menyangka, Ara akan mengatakan hal ini di hadapannya. Namun, kenyataannya Reza melihat bahwa ada sebuah keterpaksaan yang terjadi di antara mereka.


“Ra, kalau lo kepaksa jalanin hubungan sama Morgan, jangan dilanjutin Ra. Ada gue di sini, yang bisa jadi penggantinya Morgan,” ujar Reza, Ara memandangnya dengan tatapan tidak percaya.


Mereka sejenak saling pandang, membuat Ara semakin bingung saja jadinya.


“Ra, gue suka sama lo. Lo mau ‘kan ninggalin Morgan, dan pacaran sama gue?” ujar Reza, sontak membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.


“Apa?” gumam Ara, tak menyangka dengan Reza yang menyatakan perasaan padanya.


Ara tak menyangka, karena selama ini Reza masih saja menunggunya. Bahkan hari ini, Reza mengutarakan perasaannya di hadapannya, sehingga membuat Ara bingung.


‘Kenapa Reza nyatain cintanya sama Ara? Kenapa malah aneh, sih? Bisma nyatain perasaan, Reza juga. Nanti siapa lagi? Apa sih bagusnya Ara di mata mereka? Apalagi Ara cuma anak haram aja,’ batin Ara, yang tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan.


Karena sudah memiliki Morgan, Ara merasa tidak bisa menerima Reza. Apalagi, perasaannya pada Bisma yang saat ini sudah terlihat jelas, membuat Ara merasa sangat tidak mungkin untuk menerima Reza.


Ara memandang Reza dengan sendu. “Maaf, Reza. Ara gak bisa nerima Reza,” tolaknya, sontak membuat Reza sangat tidak percaya mendengarnya.


“Kenapa, Ra? Kenapa lo gak mau nerima gue? Bukannya dari dulu kita deket, ya?” tanya Reza, Ara menghela napasnya dengan panjang.


“Maaf, Reza. Ara gak bisa nerima Reza walaupun Reza udah nolong Ara selama ini. Reza ‘kan tau, Ara udah sama Morgan. Ara gak mau mutusin Morgan, hanya karena nerima Reza. Ara gak bisa, dan hanya bisa nerima satu hati aja,” ujar Ara, sontak membuat Reza mendelik mendengarnya.


Kini Reza baru tahu, kalau Ara bukan hanya polos, tetapi juga sangat menggemaskan karena hanya menerima satu hati. Gadis seperti Ara jarang sekali ditemui olehnya. Hal itu malah membuat rasa sukanya semakin dalam.


Reza menunduk, “Jangan ngomong apa pun lagi, Ra. Lo ngomong begitu, malah bikin perasaan suka gue makin dalam ke lo. Lo bukan hanya polos, tapi juga setia. Gak pernah gue temuin gadis kayak lo,” ujarnya, membuat Ara mendelik tak percaya mendengarnya.

__ADS_1


“Maaf, Ara gak bermaksud buat ngelakuin itu ke Reza,” ujar Ara dengan lirih, membuat Reza menghela napasnya dengan panjang.


Kali ini Reza sadar dan paham, orang yang mendapatkan Ara memang sangatlah beruntung. Ia sudah mendapatkan orang yang sangat tepat, karena jarang gadis polos dan setia seperti Ara.


“Udahlah, Ra. Gak apa-apa. Mungkin memang belum saatnya sekarang. Mungkin nanti, kalau lo udah gak berhubungan lagi sama Morgan. Gue mau kok nunggu lo,” ujar Reza, sontak membuat Ara kaget mendengarnya.


‘Apa? Reza mau nunggu Ara lagi? Sampai kapan?’ batin Ara, tak percaya dengan apa yang Reza katakan.


Karena tidak tahu lagi harus berkata apa, perhatian Ara teralihkan ke arah beberapa batang cokelat yang ada di hadapannya. Ia segera memberikan satu kepada Reza, agar mood Reza kembali naik seperti sedia kala.


“Ini buat Reza. Siapa tau bisa naikin mood setelah makan ini. Jangan mikirin kejadian ini, anggap aja Reza gak pernah ngutarain perasaan apa pun ke Ara,” ujar Ara, membuat Reza memandang ke arahnya dengan bingung.


Sejenak mereka saling pandang, membuat Ara merasa sangat rancu memandangnya. Kini, mereka hanya bisa bergeming, tanpa ada kata apa pun yang keluar dari mulut mereka.


Tak mau memberikan kesan yang kaku, Reza pun segera menerima cokelat tersebut dari tangan Ara. Ia menerimanya, dan hanya memandang bingung cokelatnya saja.


Ara tersenyum melihat Reza yang menerima cokelat pemberian darinya. “Makan dong cokelatnya,” suruhnya, Reza memandangnya sembari menghela napasnya dengan panjang.


“Ya, nanti gue makan. Tapi lo juga harus makan ya, makanan dari Bunda. Ini disiapin khusus buat lo,” ujar Reza, membuat Ara jadi teringat kembali makanan yang diberikan Bunda Reza untuknya.


Ara terdiam sejenak, ‘Ara udah nolak Reza, masa nolak makanannya juga sih? Gak enak sama Reza,’ batinnya, membuat ia terpaksa harus menerimanya.


“Iya, deh. Ara makan ya makanannya,” ujar Ara mengalah.


Ara segera membuka kotak makan tersebut, lalu segera memakan makanan yang ada di dalam kotak makan tersebut.

__ADS_1


Mereka saling tersenyum, membuat Morgan yang sedari tadi memerhatikan ke arah mereka, menjadi sangat kesal dibuatnya.


Pandangan Ara tertuju ke arah Morgan, dan tak sengaja melihat Morgan yang ternyata sedang memerhatikan mereka sejak tadi. Hal itu membuat Ara merasa kaget, dan segera bangkit dari tempat duduknya.


“Morgan,” gumam Ara, Morgan tak memedulikan dan langsung pergi dari sana dengan raut wajah yang terlihat sangat marah.


Menyadari keberadaan Morgan tadi, Reza pun segera bangkit di hadapan Ara, tetapi Ara sudah terlanjur pergi dari hadapannya untuk menyusul Morgan.


“Ra!” pekik Reza, tetapi Ara sama sekali tidak menghiraukannya.


Ara pun berlarian mengikuti ke arah Morgan melangkah, yang kebetulan sekali melangkah ke arah taman sekolah yang cukup sepi. Tempat itu juga adalah tempat di mana Morgan menyatakan perasaannya kepada Ara.


Bukan sebuah kebetulan, Morgan memang sengaja menggiring Ara untuk mengikuti dirinya. Ia tidak ingin menumpahkan rasa kesal yang ia rasakan, di hadapan Reza. Hal itu bisa membuat citranya hancur di mata Reza.


Tepat pada taman sekolah, Morgan duduk dekat air mancur. Ara pun berhenti melangkah di hadapan Morgan, dengan Morgan yang sedari tadi hanya bisa memandang ke arah air terjun saja.


“Morgan ... kenapa Morgan pergi?” tanya Ara, yang napasnya tersengal karena berlarian tadi.


Morgan memandang ke arahnya dengan tajam. “Masih nanya kenapa gue pergi?” tanya baliknya, membuat Ara merasa sedikit sedih mendengarnya.


“Ara ‘kan gak nerima dia, Gan. Jadi, jangan marah sama Ara,” gumamnya, Morgan semakin memandangnya dengan dalam.


“Tetep aja gue gak suka kalau misalkan dia begitu sama lo! Lo ‘kan tau, gue orangnya cemburuan! Ngapain lo pake kasih dia cokelat, dan makan makanan dari dia?” tanya Morgan sinis, Ara semakin tidak percaya dengan apa yang ia katakan terhadap Reza.


“Gan ... itu karena Ara menghargai dia. Itu juga buatan bundanya Reza. Ara gak bisa nolak dan gak enak,” sanggah Ara.

__ADS_1


Morgan yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya, merasa kesal mendengar ada orang tua dari temannya, memerhatikan kekasihnya lebih dari orang tuanya memerhatikan kekasihnya. Hal itu membuat Morgan kesal.


Morgan menatap sinis ke arah Ara, “Gue gak suka, Ra!” bentaknya.


__ADS_2