
Mendengar pertanyaan dari Bisma, Ara pun mendelik kaget, karena ia tidak menyangka jika Bisma menanyakan hal seperti itu padanya.
Kening Ara berkeringat, “Kok Bisma nanya begitu sama Ara?” tanyanya dengan lidah yang kelu, membuat Bisma mengetahui apa yang ada di pikiran Ara.
“Gue tau, kalau reaksi lo begini, lo pasti udah ngelakuin hal macem-macem ‘kan sama Morgan?” bidik Bisma lagi, yang berusaha untuk mendesak Ara lebih dalam lagi.
Ara mendelik dengan tegas, “Enggak! Ara gak ngelakuin apa pun sama Morgan!” bantahnya, dengan nada yang terdengar sangat takut.
Bisma semakin yakin, bahwa Morgan sudah mencium Ara. Karena kemarin saja ia melihat Morgan yang bersikap demikian kepada Ara. Bukan hal yang tidak mungkin jika mereka sudah melakukan hal yang lebih dari itu.
“Gue gak percaya! Gue bakalan aduin ini ke papa!” ancam Bisma, membuat Ara merasa sangat takut mendengarnya.
“Bisma mau ngaduin apa? Ara gak ngelakuin apa pun sama Morgan!” bantah Ara, masih berusaha untuk menyanggah pemikiran Bisma padanya.
Padahal saat ini, Ara sedang gemetar saking takutnya ia menghadapi ucapan Bisma yang terdengar sangat menusuk tajam.
‘Bagaimana ini? Masa sih Bisma tau kalau Morgan kemarin nyium bibir Ara?’ batin Ara, resah dengan pemikiran yang sedang ia pikirkan.
Bisma memandang dekat ke arah Ara, sontak membuat Ara mendelik kaget melihat wajah Bisma yang terlalu dekat dengan wajanya. Sejenak pandangan mereka saling bertemu, membuat Ara tak sengaja menelan salivanya karena terlalu khawatir dengan apa yang mungkin akan Bisma lakukan padanya.
“Gue tau apa yang kalian lakukan,” bisik Bisma, membuat Ara semakin takut mendengarnya.
Wajahnya langsung berubah memucat, membuat Bisma semakin sadar dan mengerti dengan apa yang benar-benar mereka lakukan.
‘Sialan Morgan! Ternyata bener, mereka udah bertindak sejauh itu! Gue gak akan biarin dia ngerusak Ara!’ batin Bisma, yang sangat tidak rela dengan hal itu.
Bisma menarik kembali tubuhnya, dan membenarkan posisi duduknya. Ia pun segera bersiap untuk mengemudikan mobilnya kembali, karena situasi sudah mulai canggung. Ia tidak ingin menggertak Ara terlalu jauh, karena ia masih memikirkan suasana mereka yang sangat canggung.
***
Pada akhirnya, Bisma pun hanya bisa memikirkan reaksi Ara saat ia bertanya tentang hal apa saja yang sudah Ara lakukan dengan Morgan. Bukan hal yang tidak mungkin Ara melakukan hal itu dengan Morgan, mengingat dirinya adalah seorang lelaki dan Morgan juga pernah melakukan hal-hal buruk dengan wanita yang pernah ia jumpai.
__ADS_1
Bisma sangat mengetahui masa lalu Morgan, dan itu semua ia ketahui dari Rafael, kakak Morgan. Walaupun Morgan tidak mengatakan apa pun, tetapi Rafael sudah berbaik hati memberitahu keburukan Morgan, sampai Bisma pun mengerti saat ini.
“Jangan sampai Ara terjebak sama Morgan. Jangan sampai, Ara kehilangan masa depan, hanya karena mereka pacaran dan melakukan hal aneh yang lebih dari sekadar ciuman,” gumam Bisma, yang benar-benar sangat memikirkan Ara saat ini.
Satu sisi ia sangat tidak rela melihat kesucian Ara direnggut. Di sisi lain pun, ia juga tidak rela karena ia ingin menjaga Ara sebagaimana kakak yang sedang menjaga adiknya.
“Sebisa mungkin, gue akan ngelarang Ara dan bikin dia jauh dari Morgan,” gumam Bisma lagi, yang merasa harus melakukan hal ini demi masa depan Ara.
***
Minggu pagi yang cerah, Bisma sudah bagun pagi-pagi sekali untuk memasak makanannya sendiri. Walaupun ia bisa menyuruh pelayan yang bekerja di rumahnya, tetapi kali ini ia akan membuatnya spesial untuk dirinya dan juga Ara.
Pagi ini Bisma membuatkan makanan dengan berbagi varian. Mulai dari goreng-gorengan seperti kakiage yang Ara sukai, sampai yang berkuah seperti sup ayam kesukaannya.
Walaupun hanya bisa memasak makanan yang sederhana, Bisma sangat bangga pada dirinya sendiri, karena sedikit bisa bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri. Paling tidak, ia tidak terlalu sering menyusahkan orang lain nantinya, ketika ia hidup sendiri tanpa seorang pelayan di rumahnya.
Makanan sudah tersaji di meja makan, Bisma meletakkan perkakas makan, lalu memandang ke arah makanan yang sudah ia buat.
Bisma merasa tubuhnya sangat berkeringat. “Mandi dulu ah, biar enak,” gumamnya lagi, yang lalu segera pergi menuju ke arah kamarnya, untuk membilas tubuhnya yang sudah berkeringat.
Beberapa lama kemudian, Ara pun berlarian turun dari kamarnya, menuju ke arah pintu masuk rumahnya. Ia membuka pintu, dan terlihat Morgan di sana yang sudah datang membawa makanan di tangannya.
Ara memandang ke arah Morgan dengan senangnya. “Udah lama nunggu di luar? Kenapa gak masuk aja?” tanyanya.
“Sebentar. Gak mau masuk dulu, sengaja. Mau disambut sama lo,” jawab Morgan, membuat Ara sedikit berdebar mendengarnya.
Ara tersenyum, “Ayo masuk,” ajaknya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa ruangan tamu. Morgan meletakkan makanan tersebut di atas meja, sehingga membuat Ara memandangnya dengan pandangan yang tidak enak.
“Wah ... pagi-pagi gini kamu udah sampai di sini aja. Bawa makanan juga pula. Harusnya gak usah sampai begitu,” ujar Ara, Morgan tersenyum kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Buat pacar, apa sih yang engga,” ujar Morgan, benar-benar membuat Ara malu mendengarnya.
Ini adalah kali pertama Ara diperlakukan seperti ratu oleh seorang pria. Ia benar-benar sangat menikmati hubungan ini, walaupun ia masih belum sepenuhnya mencintai Morgan.
Sementara itu di sana, Bisma sudah selesai bersiap-siap. Ia keluar dari kamarnya, dan menuju kembali ke ruangan makan.
Dari arah ruangan makan, terdengar suara orang yang sedang berbincang di ruangan tengah. Hal itu mengundang perhatian Bisma, dan membuatnya penasaran.
“Kayak suara Ara,” gumam Bisma penasaran dengan suara orang yang berbincang di ruangan tengah.
“Dia udah bangun? Ngobrol sama siapa dia?” gumamnya lagi.
Karena rasa penasarannya, Bisma pun segera menuju ke arah ruangan tengah untuk memastikan keadaan.
Sementara itu di sana, Ara masih merasa sangat malu. Ia merasa tidak tahu harus mengatakan apa, sehingga ucapannya hanya terdengar kaku saja.
“Makasih,” ujar Ara sembari menundukkan kepalanya karena malu.
Morgan mengerutkan dahinya, “Makasih doang?” tanyanya, Ara memandangnya dengan heran.
“Terus apa dong?” tanya Ara balik, yang memang tidak mengerti dengan apa yang Morgan maksudkan.
“Ya ... apa gitu,” ujar Morgan, tak ingin memberitahu Ara tentang apa yang ia ingikan.
Mendengar ucapan Morgan yang aneh, Ara pun menjadi bingung.
“Apa dong? Ara gak ngerti.” Ara memandangnya dengan tatapan yang polos seperti seekor kelinci.
Morgan menghela napasnya, “Cium misalnya,” ujar Morgan dengan senyuman kecil di sudut bibirnya, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
“Kurang ajar lo!”
__ADS_1