Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Perdebatan Lagi


__ADS_3

Ara terlihat sangat lucu, bahkan sampai ekspresi terkejutnya pun membuat Reza hampir tersenyum dibuatnya.


Sementara itu di sana, Bisma terlihat sedang menunggu Ara di dalam mobilnya. Ia benar-benar tidak sabar ingin memberikan tas ini pada Ara, sebagai hadiah pengganti mobil yang sudah ia tolak.


Bisma memegang kotak ini dengan perasaan senang. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya, dan hanya tertuju pada kotak ini sambil sesekali melirik ke arah jam tangannya.


Beberapa saat berlalu, ternyata kesabarannya sudah mulai habis karena terlalu lama menunggu kedatangan Ara. Hari sudah mulai gelap, dan Ara pun tak kunjung datang menemuinya.


“Ke mana sih dia?” Bisma hanya bisa mendumel lirih, tentu saja karena ulah Ara.


Handphone Bisma bergetar, satu notifikasi masuk ke handphone-nya. Bisma spontan melihatnya dengan segera, untuk sekadar menghilangkan amarahnya. Namun, hal itu justru malah membuatnya semakin marah.


“What!”


Bisma melotot kaget, karena melihat notifikasi dari aplikasi Ensta yang ia punya. Ia melihat ada yang memakai nama Ara untuk membuat akun. Buru-buru ia lihat profile dari akun tersebut.


Di sana, terlihat foto Ara dan Reza sedang berpose bersama. Hal itu cukup membuat hatinya sesak.


‘Kenapa ... aku terlambat selangkah darinya? Berani sekali orang itu!’ batin Bisma, yang sangat marah saat melihat notifikasi di Ensta. Betapa terbakarnya hatinya saat melihatnya.


“Persetan!”


Di sana, Ara masih menunggu Reza yang masih mempersiapkan ucapannya. Ara benar-benar penasaran, dengan apa yang akan Rezak katakan padanya.


“Ngomong apa, Za?” tanya Ara.


Reza berusaha mempersiapkan dirinya, dan menghela napas kembali. Sulit sekali menyatakan perasaannya di hadapan Ara, padahal ia sama sekali tidak seperti ini sebelumnya.


“Gue ....”


‘Kenapa lidahku terasa sangat kelu?’ batin Reza, yang merasa aneh dengan apa yang ia rasakan.


“Gue ....”

__ADS_1


‘Susah banget, tinggal ngomong aja! Gue suka sama loe!’ batin Reza yang terasa semakin bergejolak.


‘Bisa, pasti bisa!’


“Gue suka—”


Dring ....


Tiba-tiba saja, handphone yang Ara pegang berdering dengan sangat keras. Hati Reza seperti sedang runtuh, karena merasa tertolak dengan sebuah handphone. Reza pun membuang pandangannya karena kesal dengan yang seperti ini.


‘Tidak kusangka, menyatakan cinta pada orang ini lebih sulit dari biasanya. Aku sampai kesal sendiri dengan diriku,’ batin Reza.


Mata Ara membulat bingung, “Ini kenapa?” tanyanya yang nampak bingung.


Reza pun melihat ke arah layar handphone yang Ara pegang. Di sana tertera nama ‘Cowok Ganteng’ membuat Reza ingin muntah setelah membacanya.


‘Mual jadinya,’ batin Reza, benar-benar sangat ingin muntah karenanya.


Reza menggeser layarnya, untuk mengangkat telepon dari orang tersebut, tak lupa menekan speaker untuk membesarkan suaranya.


“Halo, Bisma ....” Ara terdengar pasrah, dan tidak bisa menjawab apa pun.


‘Apa yang salah darinya?’ batin Reza kebingungan mendengar suara Bisma yang kasar itu.


“Turun, sekarang!” bentak Bisma, membuat Reza merasa kesal karenanya.


‘Apa-apaan si Bisma itu? Emangnya ... dia siapa marah-marahin Siti begini? Kalau mau saingan, ya dengan cara sehat lah!’ batin Reza, merasa sangat risih dengan perlakuan Bisma terhadap Ara.


Ara segera bangkit di hadapan Reza, “Ara pergi dulu, Za. Makasih!” ujarnya lalu berjalan dengan sangat tergesa-gesa.


Ara meninggalkan Reza sendirian, tetapi sebelum Ara berhasil pergi, Reza langsung menahan tangannya. Ara terlihat sangat kaget, dan segera menoleh ke arah Reza.


“Bisma itu ... siapanya lo, sih?” tanya Reza, yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Bisma pada Ara.

__ADS_1


Reza merasa sejak pertama kali Ara bersekolah di sini, Bisma selalu mengikuti dan malah mengantar jemput Ara setiap hari. Reza yang memerhatikan mereka, sampai kesal sekali melihatnya.


Ara hanya diam, tak merespon ucapan Reza. Ara terlihat sangat ketakutan saat ini, membuat Reza benci sekali dengan sikapnya yang seperti ini.


“Jawab, Ti! Bisma itu siapa lo?” Reza sudah tidak kuasa menahan amarahnya di hadapan Ara.


“Bukan urusan lo!” sambar seseorang tiba-tiba, membuat Reza menoleh ke arahnya yang sedang berdiri di depan pintu kelas.


Tepat sekali dugaan Reza, dia adalah Bisma yang menjadi rivalnya sejak dulu. Tidak ada satu pun orang di sekolah ini, yang tidak mengenali dirinya. Padahal bagi Reza, Bisma bukan siapa-siapa.


“Lepasin tangan lo dari Ara, atau—”


“Atau apa?” pangkas Reza, yang sudah tidak kuasa lagi menahan amarahnya di hadapan Bisma.


‘Biarlah ... aku sudah tidak sabar ingin membalas pukulannya waktu itu. Kali ini, tidak akan aku biarkan dia memukulku lagi. Aku pasti akan membalasnya!’ batin Reza, yang benar-benar sangat menginginkan pertengkaran ini dengan Bisma.


Reza terlihat lebih berani daripada waktu itu, membuat Bisma memandangnya dengan tatapan yang tak percaya.


‘Apa dia sengaja menjaga image-nya di hadapan siswa di sini? Ah ... kenapa ini membuatku gentar? Aku tidak takut padanya, meski harus babak-belur sekalipun!’ batin Bisma, yang meyakinkan dirinya agar tidak takut dengan apa pun yang menjadi ancaman Reza.


Bisma memandang ke arah Ara, “Lo mau pulang sama gue, atau enggak?” tanya Bisma pada Ara, dengan nada yang mulai merendah.


Ara terlihat sudah ingin menangis, membuat Bisma tak kuasa melihat Ara menangis. Bisma akhirnya menghampiri Ara dengan segera, dan melepaskan tangan Reza yang sedang memegang tangan Ara.


Karena melihat sikap Ara yang sudah mulai ketakutan, Bisma pun menahan amarahnya karena ia tidak mau sampai Ara menangis karena merasa bersalah. Bisma mengerti, bukan Ara yang melakukan semua ini. Bisma juga tahu, pasti ada campur tangan Reza di sini. Bisma tidak seharusnya menumpahkan amarahnya pada Ara.


Bisma memandang tajam ke arah Reza, “Jangan pernah ganggu Ara lagi!” ucap Bisma dengan datar padanya.


Reza hanya diam bergeming. Bisma lalu menarik tangan Ara untuk menjauhinya.


‘Kenapa dia sangat senang untuk mengganggu Ara? Kenapa dia sangat senang untuk mengganggu wanita yang selalu aku incar. Sudah lama sekali rasa, aku tidak menghajar dirinya,’ batin Bisma yang benar-benar tidak menyangka dengan apa yang Reza lakukan itu.


Pernah di suatu masa, Bisma sangat menyukai seseorang yang juga sedang dekat dengan Reza. Bisma sangat tidak menyangka, Reza akan menjadi saingan beratnya untuk mendapatkan hati gadis itu. Bisma bertekad tidak mau sampai masa lalu yang suram itu, sampai terjadi lagi untuk kedua kalinya. Bisma sudah cukup mengalah dengannya waktu itu, dan kali ini ia tidak akan mengalah lagi.

__ADS_1


Bisma membawa Ara menuju mobilnya, karena ia tidak mau sampai menumpahkan amarah lagi di hadapan Ara. Bisma tidak mau sampai Ara merasa tertekan lagi, seperti waktu itu.


__ADS_2