
“Ya, tadi dia bilang kalau dia udah pacaran sama Morgan. Gue pikir dia cuma bercanda, karena Morgan juga pasti gak akan mau sama dia. Tapi denger fakta kalau Ara adalah adik tiri Bisma, bukan hal yang tidak mungkin kalau Ara dan Morgan sampai pacaran,” ujar Fla menjelaskan, yang kali ini malah membuat Gladis tidak habis pikir.
“OMG ... si Ara beneran banyak yang ngelindungin! Jangan macem-macem lagi mulai sekarang!” suruh Gladis, Fla pun mengagguk kecil mendengarnya.
Mereka pun akhirnyasepakat untuk tidak menjahili Ara lagi. Hal itu karena mereka tidak berani melakukannya, dan mungkin Bisma akan melakukan hal buruk pada mereka, jika mereka masih tetap nekat untuk melakukan pem-bully-an itu.
Terlebih lagi Morgan yang sudah menjadi kekasih Ara, membuat keadaan menjadi sangat menyeramkan bagi mereka.
Sudah cukup, mereka pasti tidak akan pernah membuat satu kesalahan lagi pada Ara.
“Ya udah, gue ke kelas dulu. Bentar lagi masuk,” pamit Gladis, yang mendapatkan anggukkan dari Fla.
Mereka pun berpisah, dengan Gladis yang segera pergi dari hadapan Fla.
Fla masih mencerna perkataan Gladis, membuatnya menadadak merasa sangat ragu dengan apa yang akan ia lakukan pada Ara.
“Kalau gini caranya, gue harus baikin Ara dan jangan sampai dia merasa risih sama gue,” gumam Fla, yang mulai mempersiapkan dirinya untuk melakukan sesuatu, kepada orang yang pernah ia bully itu.
Fla pun masuk ke dalam ruangan kelasnya, dan memandang Ara dengan tatapan yang sangat senang. Menyadari perubahan sikap Fla yang mendadak baik padanya, Ara hanya bersikap datar dan sama sekali tidak ingin bersikap apa pun di hadapan Fla saat ini.
Jam pelajaran dimulai, Ara berusaha untuk bersikap baik-baik aja dan merasa tenang. Ia tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak penting, yang dapat membuat pelajarannya terganggu karena hal ini.
Setelah beberapa jam mereka belajar, jam istirahat pun tiba. Ara sejak tadi sudah menahan sakit perutnya, karena ia terlambat makan dan sama sekali tidak menyentuh makanan yang Bisma buatkan untuknya.
Fla datang ke hadapannya dengan membawa cokelat batang yang banyak ke hadapan Ara. Hal itu sontak membuat Ara mendelik kaget, karena melihat Fla yang dengan niatnya membawakan cokelat sebanyak itu ke hadapannya.
__ADS_1
“Ara, ini ... gue bawa cokelat buat lo!” ujar Fla, dengan nada yang mulai membaik saat ini.
Melihat perubahan sikap Fla, sontak membuat Ara mendelik kaget karenanya. Tidak biasanya Fla melakukan hal ini padanya, sehingga membuatnya merasa sangat heran dengan yang Fla lakukan.
Ara memandangnya dengan datar. “Maaf, Fla. Ara gak suka sama cokelat,” tolaknya, yang memang berbohong di hadapan Fla.
Pada kenyataannya, Ara sangatlah menyukai cokelat. Namun, ia mengatakan hal ini kepada Fla, agar Fla berhenti mengacaukan atau mengganggu pandangannya itu.
“Yah ... masa sih gak suka cokelat? Gue udah beliin lho buat lo!” ujar Fla, dengan nada yang sedikit memaksa di hadapan Ara.
Ara menghela napasnya dengan panjang. “Ara ‘kan udah bilang, Ara gak mau dan gak doyan, Fla. Bisa buat yang lain kalau Fla gak mau,” tolak Ara lagi, Fla menghela napasnya dengan panjang mendengarnya.
“Udah ... makan aja, ya! Gue gak mau tahu, maunya tempe,” ujar Fla, membuat Ara bingung mendengarnya.
“Hah? Maksudnya apa, Fla?” tanya Ara bingung.
Ara memandangnya heran, saking bingungnya dengan sikap random Fla yang baginya terlihat sangat aneh.
“Fla kenapa tiba-tiba aja jadi baik sama Ara?” gumam Ara, yang tidak mengerti dengan sikap Fla saat ini.
Reza datang dengan membawa sebuah kotak makan. Ara memandangnya dengan heran, karena Reza yang tanpa kata langsung duduk di hadapan Ara dengan memandangnya dengan dalam.
“Ra ... belum makan, ‘kan? Gue bawain makanan dari Bunda, katanya khusus buat lo,” ujar Reza, membuat Ara sedikit terkejut mendengarnya.
“Dari Bunda?” tanya Ara, yang mendapatkan anggukkan dari Reza.
__ADS_1
“Bunda bilang ini khusus buat lo. Jangan lupa dimakan, ya!” ujar Reza dengan senyuman yang jarang sekali Ara lihat darinya.
Ara merasa tidak enak jika harus menolak pemberian dari Bunda. Ia juga merasakan sakit pada perutnya, sehingga membuatnya harus menerima makanan tersebut darinya.
‘Sebenarnya aku gak enak sama Reza kalau nolaknya. Tapi aku juga gak enak sama Morgan kalau nerimanya,’ batin Ara yang merasa bingung dengan apa yang harusnya ia lakukan.
Ara memandang Reza dengan bingung, “Za, mending simpan aja ya buat kamu. Ara gak bisa nerimanya karena—”
“Karena Morgan lagi?” tanya Reza memangkas ucapan Ara, Ara pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Ara gak mau kalau Morgan sampai marah lagi sama Reza. Sudah cukup, jangan sampai Reza terlibat juga di dalam permasalahan ini,” ujar Ara, yang benar-benar tidak bisa melihat Reza seperti ini.
Reza pun menghela napasnya dengan panjang. “Masa sih lo gak mau nerima pemberian dari Bunda, Ra? Ini Bunda lho yang kasih,” ujarnya, dengan sedikit nada paksaan.
Ara pun menggelengkan kecil kepalanya, karena bukan seperti itu maksudnya. “Bukan begitu, Za. Ara cuma gak mau kalau Reza kena marahnya Morgan kayak tadi. Udah cukup yang tadi aja buat jadi pelajaran, jangan sampai terjadi lagi,” ujarnya.
Reza menghela napasnya, “Ra, sebenarnya ... lo bahagia gak sih, menjalani hubungan lo ini sama Morgan?” tanyanya, sontak membuat Ara terkejut mendengarnya.
Karena mendengar pertanyaan itu dari mulut Reza, Ara pun hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Ia bahkan tidak tahu, kenapa ia bisa menerima Morgan di sisinya. Ia hanya ingin melupakan Bisma saat itu, sehingga tanpa sadar menerima pernyataan cinta Morgan.
Namun, Ara tidak mungkin mengatakan hal itu di hadapan Reza. Ia ingin terlihat bahagia, agar tidak ada orang yang bisa terluka lagi karena sikap Morgan yang dingin dan kadang random itu.
“Ara bahagia kok sama Morgan, dan gak ada kata terpaksa,” jawab Ara, dengan pandangan mata yang sendu memandang ke arah Reza.
Ara memandang Reza dengan dalam, tak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini di hadapan Reza. Sebisa mungkin ia akan menutupinya, dan tak ingin Reza mengetahuinya.
__ADS_1
‘Walaupun Ara sukanya sama Bisma, dan masih proses untuk menemukan jawaban dari perasaan Ara sesungguhnya pada Morgan, tapi Ara cukup senang karena perlakuan Morgan sama Ara,’ batin Ara, yang tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya ini kepada Reza.