
“Dia udah siuman. Untung aja, kita cepet nyuruh dokter ke sini,” jawab Ara dengan nada yang sedikit lebih baik. Emosinya kini, sepertinya berangsur membaik dari sebelumnya.
“Maapin gue ya. Gue gak seharusnya ngomong kasar sama lo tadi. Gue gak bisa berhenti mikirin kesalahan gue ke lo,” ujar Bisma dengan ragu.
Ara merasa, ada suatu kemajuan dari Bisma. ‘Apa ... permohonanku sudah terkabul? Cepat sekali ...,’ batinnya heran.
Ara terlihat sangat kaku saat ini, ‘Aku ragu ... apakah dia akan memaafkanku?’ batin Bisma, yang benar-benar sangat ragu dengan keadaan yang sangat kaku ini.
“Ara udah maapin Bisma kok,” lirihnya terdengar agak dingin dari biasanya.
Bisma sangat sadar, Ara sepertinya masih menyimpan amarahnya. Bisma menunduk sedih, kemudian memberikan makanan yang sudah ia pesan tadi. Ara pun memandanginya dengan tatapan seperti sedang keheranan.
“Ini kakiage. Gue udah janji buat masakin lo tadi. Tapi gak jadi, karena ada masalah seperti ini. Jadi gue beli aja di jalan tadi. Untung aja, masih buka restorannya.” Bisma lantas membuang pandangannya dari Ara.
Bisma merasa dirinya menjadi lebih canggung dari sebelumnya. ‘Apa aku tidak terlalu terang-terangan memberikan perhatian padanya?’ batin Bisma, benar-benar merasa sangat bingung dengan keadaan ini.
Ara mengambilnya dan langsung membuka makanan tersebut. Ia segera memakannya dengan sangat lahap, membuat Bisma menjadi merasa ilfeel padanya.
“Pelan-pelang dong!” ujar Bisma yang sangat sinis padanya.
Ara tak memedulikan ucapan Bisma, ia malah memakan dengan sangat tergesa. Bisma mengerti dengan apa yang Ara pikirkan tentangnya.
“Gue gak akan minta, kok. Jadi ... pelan-pelan aja, ya,” ucap Bisma, yang ternyata membuat satu senyuman mengembang di pipi Ara.
‘Jadi ... dia takut kalau aku meminta makanannya? Ah ... sudahlah,’ batin Bisma.
__ADS_1
“Jangan lauknya aja yang dimakan. Nasinya juga dimakan, dong,” suruh Bisma, karena sudah gemas dengan dirinya.
‘Semakin lama aku dekat dengannya, semakin mendominasi rasa untuk memilikinya. Aku harus pandai menahan perasaanku,’ batin Bisma, yang benar-benar sudah sangat bingung untuk menahan perasaannya itu.
Bisma memandangi Ara dengan senyum terkulum, karena melihat sebutir nasi menempel manis di pipi Ara. Pandangan Bisma mungkin saja mengusik dirinya, sehingga ia sadar dan malah memandangi Bisma kembali.
“Kenapa kok Bisma ngeliatin Ara, sih?” tanya Ara gemas, dengan mata yang memelotot ke arah Bisma.
Tanpa sadar, Bisma pun melontarkan senyuman ke arahnya. Ara malah semakin memelototi Bisma, tetapi Bisma tetap tersenyum padanya.
“Ada tahi lalat putih di atas bibir loe tuh ... loe jadi makin cantik,” ucap Bisma dengan asal.
Bisma melihat wajah Ara yang memerah seketika. ‘Apa tidak apa-apa, bercanda dengannya seperti ini? Aku hanya ingin tahu responnya saja,’ batin Bisma, yang benar-benar penasaran dengan sikap Ara itu.
“Tahi lalat putih? Maksudnya?” tanya Ara, yang sepertinya tidak paham dengan yang Bisma maksud.
Bisma mendekatkan tangannya ke arah bibir Ara, secara perlahan. Ara seketika langsung memasang tampang bersiaga. Bisma menahan tawanya, karena pikiran Ara yang selalu kotor padanya. Semakin mendekat, Ara semakin takut. Namun, Bisma tetap melanjutkan untuk mengambil sebutir nasi itu dari bibir Ara.
“Nih ... ada nasi.”
Bisma berhasil mengambil nasi itu, dan memperlihatkan pada Ara, kalau Bisma hanya ingin mengambil nasi yang menempel di bibirnya. Ara memperhatikan tangan Bisma. Bisma tanpa sadar memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya. Pipinya kembali terlihat memerah. Ara segera membuang pandagannya dari Bisma, dengan Bisma yang hanya bisa tersenyum melihat tingkah imutnya ini.
‘Ah ... betapa imutnya dirinya ketika sedang malu,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat gemas dengan yang Ara lakukan itu.
Suasana menjadi sedikit kaku. Ditambah lagi dengan suasana pencahayaan yang gelap seperti ini, seperti mendapat dukungan dari suasana. Tak dapat dipungkiri, sebagai seorang laki-laki, Bisma juga mempunyai nafsu seperti mereka pada umumnya.
__ADS_1
Bisma tidak berhenti menatap Ara dengan lekat, sehingga ia berangsur mendekatkan wajahnya ke arah Ara. Ara terlihat sedang memejamkan matanya, karena ketakutan.
‘Ingin sekali aku menciumnya,’ batin Bisma, yang per sekian detik kehilangan kesadarannya.
Beberapa detik berlalu, Bisma pun spontan merenggangkan jarak antara dirinya dan Ara. Bisma tidak ingin terbawa dengan suasana.
‘Walau bagaimanapun juga, dia tetap adikku. Aku tidak bisa melakukan ini padanya!’ batin Bisma, yang lalu membenarkan posisi duduknya, dan membenarkan jaketnya yang terlihat tidak benar.
Suasana kembali canggung, ‘Sepertinya ... bukan hanya aku yang merasakannya, tapi dia juga merasakan hal yang sama,’ batin Bisma, yang benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada mereka sebenarnya.
Bisma pun bergegas bangkit, dan segera menyalakan lampu yang padam. Ara masih terdiam dengan pandangan yang kosong.
‘Sepertinya ... dia masih shock dengan keadaan tadi. Aku hampir saja kehilangan kendali atas diriku,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat kesal dengan keadaan ini.
“Gue istirahat dulu. Lo jangan tidur terlalu larut, ya!” ucap Bisma dengan nada yang kaku, lalu segera meninggalkan Ara di sana, tanpa menunggu persetujuannya.
‘Aku sudah benar-benar gila sekarang! Pertemuan singkat ini saja ... sudah membuatku menjadi gila. Bagaimana jika aku terus berada di sampingnya? Apakah bisa aku menahan semua ini?’ batin Bisma, yang benar-benar sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Bisma pun kembali ke kamarnya, dan menutup pintu dengan keras. Ia segera membuka jaket yang ia kenakan, dan segera melayangkan dirinya ke atas ranjang.
Bisma mengganti posisi, lalu memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kesal, bercampur sedih.
‘Kenapa hanya saat bersama dia, pikiranku menjadi tidak terkendali? Tanpa sadar, aku sudah menembus sekat antara aku dan Ara. Apakah hal ini lumrah terjadi pada kakak-beradik yang baru bertemu saat dewasa? Aku semakin ragu dengan hatiku sendiri. Apakah ini hanya nafsu, atau benar-benar perasaan suka yang berlebihan? Atas dasar apa, aku mencintai adik tiriku sendiri?’ batin Bisma, benar-benar sangat bingung dengan perasaannya.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Kenapa semuanya terjadi seperti air yang mengalir? Gue baru aja ketemu sama dia, dan udah muncul gejolak aneh di dalam diri gue. Padahal ... dulu gue benci banget sama ibunya. Gue gak nyangka, bakalan jatuh hati sama anak hasil selingkuhan papa,” lirih Bisma, masih bertanya-tanya dengan takdir yang terjadi.
__ADS_1
‘Apa kali ini, aku juga harus menerima takdir? Apa perkataannya menyangkut takdir, juga berlaku untuk hal semacam ini?’ batin Bisma.
Bisma pun merogoh saku jaketnya, untuk mengambil sesuatu. Bisma pun mengambil foto mereka yang masih ia simpan kemarin. Bisma pun memandanginya dengan bingung.